8.000 Gerai Starbucks bakal tutup akibat insiden bias rasial

Ilustrasi gerai Starbucks
Ilustrasi gerai Starbucks | BalkansCat /Shutterstock

Pihak Starbucks telah mengonfirmasi bahwa sebanyak 8.000 gerai di Amerika Serikat bakal tutup beroperasi pada 29 Mei 2018 mendatang.

Penutupan yang hanya berlangsung satu hari ini untuk memberikan edukasi dan kelas pelatihan kepada 175.000 pramusaji dan karyawan Starbucks mengenai bias rasial.

Keputusan ini merupakan buntut dari peristiwa penangkapan dua laki-laki berkulit hitam di gerai Starbucks, Philadelphia, AS, bulan Maret 2018 kemarin.

Peristiwa yang menyedot perhatian publik dan ramai sebagai pemberitaan ini telah mengundang gelombang protes untuk memboikot Starbucks.

Sejumlah aktivis antidiskriminasi dan sebagian besar warga AS terang-terangan menunjukkan ekspresi kekecewaan mereka terhadap gerai kopi yang berdiri semenjak tahun 1971 silam tersebut.

Kevin Johnson, CEO, Starbucks, bergegas melakukan pembenahan untuk meredam kekacauan yang terjadi.

Selain memecat karyawan yang melaporkan dua laki-laki berkulit hitam itu, dia juga mengadakan kelas pelatihan yang wajib diikuti oleh ribuan karyawan Starbucks di AS.

"Saya telah berada di Philadelphia selama beberapa hari dengan tim manajerial. Kami mendengarkan keluhan warga setempat, kami mempelajari kesalahan yang terjadi, dan merencanakan langkah yang harus diambil untuk memperbaiki keadaan ini," terang Johnson, seperti tertulis pada pernyataan media.

Kejadian ini harus menjadi pelajaran, kata Johnson, tidak hanya untuk Starbucks tapi juga pihak-pihak lain.

"Komitmen kami adalah menjadi bagian dari solusi," imbuhnya.

Dia menambahkan bahwa menutup gerai Starbucks untuk pelatihan hanya satu langkah kecil.

"Penutupan gerai hanyalah langkah kecil. Kami konsisten untuk menjalani komitmen jangka panjang dan dedikasi dari semua level di perusahaan kami. Kerjasama dengan komunitas warga setempat juga penting," urainya.

Nantinya, pelatihan ini akan dipimpin dan dibimbing oleh sejumlah pakar, termasuk Jaksa Agung Eric Holder.

Tidak hanya bias rasial, pelatihan juga akan mempromosikan kesadaran dan pencegahan diskriminasi. Selain memberikan pengajaran, para pakar juga akan mengulas dan menganalisis tingkat efektivitas pelatihan terhadap proses implementasinya.

Tujuannya, tentu saja agar semua pengunjung Starbucks merasa aman dan nyaman selama berada dalam gerai kopi mereka.

Peristiwa bias rasial ini terjadi ketika dua laki-laki berkulit hitam memasuki Starbucks dan bertanya pada salah satu karyawan, apakah mereka boleh menggunakan kamar kecil.

Kemudian, karyawan Starbucks itu menjawab bahwa kamar kecil hanya boleh digunakan oleh pembeli.

Akhirnya, dua laki-laki berkulit hitam itu pun memilih duduk tanpa memesan apapun di dalam Starbucks.

Tak tinggal diam, karyawan Starbucks menghubungi polisi setempat dan melaporkan bahwa kedua laki-laki ini masuk tanpa izin.

Peristiwa itu terekam dalam video yang akhirnya tersebar di internet dan media sosial.

Pada video terlihat polisi berbicara baik-baik pada kedua laki-laki berkulit hitam, tetapi kemudian polisi malah memborgol dan menggiring mereka keluar dari Starbucks.

Pengunjung Starbucks lainnya sangat terkejut menyaksikan peristiwa tersebut. Menurut mereka, dua laki-laki kulit hitam itu tidak melakukan kesalahan dan tidak mengganggu siapapun.

Sontak, video yang bergulir viral itu mendulang ragam reaksi warga AS. Mayoritas merasa kecewa terhadap Starbucks karena dianggap membedakan pengunjung berdasarkan warna kulit.

Aksi protes dari para aktivis terjadi selama beberapa hari di depan gerai Starbucks Philadelphia. Mereka meminta penjelasan dan tanggung jawab Starbucks mengenai kejadian tersebut.

Bahkan, para aktivis ini menyebut bahwa Starbucks adalah gerai kopi anti-kulit hitam.

Walikota Philadelphia, Jim Kenney, yang telah bertemu dengan Johnson, mengungkapkan, kantor pemerintahan setempat akan meneliti sekaligus merevisi aturan pelaporan dan permintaan bantuan dari warga kepada polisi.

Isu rasial memang topik yang sangat sensitif di Negeri Paman Sam, terutama ketika Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS ke-45. Pasalnya, selama masa kampanye, Trump acap kali melontarkan pidato soal perbedaan rasial yang telah menyinggung banyak pihak, terutama mereka yang tidak terlahir dengan kulit putih.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR