MEDIA DAN JURNALISME

85 tahun Panjebar Semangat: Bersayur amben, berlauk sepatu

Majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat, tetap terbit sejak 1933, di Surabaya, Jawa Timur.
Majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat, tetap terbit sejak 1933, di Surabaya, Jawa Timur. | Antyo / Beritagar.id

"Yen kowe ora nduweni apa sing mbok senengi, mula senengana apa kang mbok duweni dinane iki."

Jika kau tak memiliki apa yang kau sukai, senangilah apa yang kau punyai hari ini.

Demikianlah kata bijak pengisi boks Sumber Semangat dalan edisi ulang tahun ke-85 majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat (ejaan lama; baca: panyebar semangat; disingkat PS). Rubrik Sumber Semangat muncul saban terbit. Hanya berisi satu ujaran.

Delapan puluh lima tahun. Usia yang melebihi umur republik ini. PS terbit sejak 2 September 1933 di Surabaya, Jawa Timur.

Pendiri PS adalah Dokter Soetomo, pahlawan nasional yang juga mendirikan Boedi Oetomo, 20 Mei 1908 bersama Goenawan Mangoenkoesoemo di Batavia.

Soetomo wafat pada 30 Mei 1938, dalam usia usia 49, saat PS masih menapaki umur lima tahun. PS sekarang hadir dengan 52 halaman termasuk sampul. Terbit seminggu sekali.

PS terbit dengan hadiah teka-teki silang Rp50.000 untuk tiga pemenang. Sebagai pembanding timpang, TTS Kompas Minggu menyediakan Rp250.000 untuk 25 pemenang.

Pembaca bermasalah dengan mata

Dalam Pangudarasa (Edisi 35, 1 September 2018), yang bertajuk "85 Taun Panjebar Semangat", redaksi mengakui berat merawat pembaca. Generasi lama pelanggan berkurang, sementara anak-anak mereka enggan membaca PS.

Tertulis di sana, "Sakehing cara coba ditempuh. Ing 'jaman now' iku PS ngudi ndhedher generasi-generasi anyar gelema nresnani basane dhewe."

Artinya, "Sejumlah cara sudah ditempuh. Pada 'jaman now' PS berupaya menyemaikan benih agar generasi baru mau mencintai bahasanya sendiri."

Menurut seorang redaktur PS, K.S. Wibowo (40), pelanggan sepuh berhenti berlangganan dengan menulis surat pamit seraya meminta maaf karena putra-putrinya tak dapat meneruskan. Usia pelanggan pamit rata-rata 80 tahunan, "Berhenti berlangganan karena mata tidak sanggup membaca lagi."

Saat ini tiras PS berkisar 14.000 - 15.000 eksemplar. Peredaran terbanyak di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pelanggan di Suriname hanya terlayani sampa awal 2000-an, karena ongkos kirim ke sana mahal. Pelanggan terakhir di sana sekitar 20 orang.

Bertahan karena pembaca

Wibowo termasuk generasi baru di PS. Ia mengenal majalah ini sejak kecil, di Tulungagung, Jatim, karena ayahnya melanggani. Sampai kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi AWS Surabaya, dia tak hanya rajin membaca namun juga mengirim naskah ke PS.

Wibowo bergabung ke PS Januari 1998, saat krisis moneter. Catatan ulang tahun mengatakan, masa 1997-1998 adalah masa terberat. PS sampai mengalami terbit mengurangi separuh halaman. Hanya tiga bulan, dia mengenang.

Jumlah awak redaksi sekarang sekitar tujuh orang. Pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan PS saat ini adalah Arkandi Sari. Adapun suaminya, Kustono Jatmiko, menjadi pemimpin umum. Beritagar.id tak dapat menghubungi mereka.

Sebelumnya, selama 1981 - 2012, pemimpin redaksi dijabat oleh Moechtar, wartawan yang antara lain pernah bekerja di Express, Harian Oemoem, Repelita, dan Bhirawa.

Kepada Historia (2012), Moechtar menjelaskan alasan bergabung ke PS: "Kebetulan saya memang suka mempelajari bahasa Jawa. Jadi ketika ada tawaran masuk ke Panjebar Semangat, saya senang."

Moechtar meninggal tahun lalu dalam usia 92 karena uzur, tanpa sakit (TribunJatim.com, 12/3/2017). Saat mengundurkan dari dari PS dia berusia 87.

Dalam obituarium, Barometer Jatim mengenang ucapan Moechtar, "Saya harap generasi muda tidak meninggalkan bahasa ibu mereka."

Setahun setelah Moechtar berpulang, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy ingin menyederhanakan bahasa daerah. Gagasan yang tak laik dukung karena sama saja mematikan bahasa (Editorial Beritagar.id, 13/8/2018).

Catatan ultah redaksi menyebutkan, berbeda dari koran cetak yang masih terbit karena topangan iklan, PS dapat bertahan karena digotong dening para pelanggane (digotong para pelanggan)

PS tak sendirian

Memasuki usia sebelas windu kurang tiga tahun, PS menyadari peta media terus berubah. Media daring menggusur media cetak. Pemasang iklan pun lebih memilih media sosial, karena menurut catatan redaksi, "ragade luwih murah" (biayanya lebih murah).

Selain cetak, PS pun punya laman web: PanjebarSemangat.co.id. Di sana tersedia pula pelangganan konten digital yang berslogan "Ten Pundi Mawon lan Kapan Mawon" (di mana saja dan kapan saja). Wibowo tak banyak tahu ihwal bisnis versi daring, misalnya dari segi tarif berlangganan. Bukan dia yang menangani.

Saat ini harga eceran majalah PS Rp17.000 per eksemplar. Langganan per bulan Rp72.000, termasuk ongkos kirim via pos.

Menurut Historia, saat terbit pada 1933 PS hanya memiliki 37 pelanggan. Pada 1936 pelanggan kalawarti basa Jawi itu sampai sekitar 8.000 orang. Pada 1942 PS adalah majalah dengan tiras tertinggi.

Namun begitu Jepang menjajah, si saudara tua melarang PS terbit. Baru pada 1949 PS terbit kembali di bawah pimpinan kakak beradik Imam Soepardi dan Mohammad Ali.

Pada 1962 tiras PS mencapai 85.000 eksemplar. Angka itu hanya bisa dikalahkan Star Weekly , majalah cikal bakal Intisari yang kemudian melahirkan koran Kompas (1965). Namun setelah Imam Soepardi meninggal, pun situasi politik tak menentu, tiras PS merosot, menjadi 18.000 pada 1964.

Selain PS ada pula majalah mingguan berbahasa Jawa Jaya Baya, terbitan Surabaya. Seperti halnya PS, Jaya Baya pun menerbitkan kalender. Begitu pun majalah sejenis versi serupa yang pernah berjaya di Yogyakarta: Mekar Sari dan Djaka Lodhang.

Kini Yogya kembali memiliki kalawarti basa Jawi, berupa tabloid triwulanan dengan presensi daring. Namanya Jawacana. Versi PDF, baru satu edisi, tersedia di Issuu.

Dinas Kebudayaan DIY menerbitkan Jawacana, yang berbahasa tak terlalu baku, untuk menenani majalah Sempulur yang menggunakan bahasa Jawa formal sehingga tak dekat dengan pembaca muda (h/t TribunJogja.com).

Sama-sama di Tanah Jawi, dan menerbitkan berkala berbahasa daerah, di Jawa Barat ada Mangle. Majalah mingguan berbahasa Sunda ini terbitan Bandung, lahir di Bogor, 21 November 1957.

Honorarium Rp35 ribu

Kutipan dengan teks cabutan  (pull quote) beraksara Jawa selalu muncul dalam cerpen  (cerkak; cerita cekak) Panjebar Semangat.
Kutipan dengan teks cabutan (pull quote) beraksara Jawa selalu muncul dalam cerpen (cerkak; cerita cekak) Panjebar Semangat. | Antyo / Beritagar.id

Secara umum, semua majalah berbahasa daerah itu sama. Memiliki cerpen (Sunda: carpon), cerita bersambung, artikel ilmiah populer, kisah pewayangan, opini, berita, puisi, dan aneka cerita kiriman pembaca.

PS sejak dulu memiliki komik. Nama komikusnya Pakne Novie (bapaknya Novie), ilustrator yang bernama asli K. Soenarjono, berkarya di PS sejak 1970-an, kini dia berusia 70-an. Tiga tahun lalu sebuah akun di Facebook menawarkan lukisan wayang cat poster (kertas A3) karya Pakne Novie Rp500.000 per lembar.

Jika Anda ingin tahu ragam kiriman pembaca, inilah contohnya. Berisi kenangan semasa sekolah di Kediri, Jatim, tahuh 1960-an.

Suyoto, anak indekos asal Trenggalek, kepada teman-temannya mengeluhkan masakan di pondokan yang membosankan. Tiap hari hanya sayur amben dengan lauk sepatu satu kodi.

Maksud Suyoto, setiap hari dia bersayur rebung dan sambal goreng krecek. Rebung, kalau dibiarkan tumbuh, akan jadi bambu, bisa jadi bahan amben. Krecek, atau kerupuk kulit sapi, kalau lebar bisa menjadi bahan sepatu.

Semacam itulah isi rubrik Apa Tumon?. Honorarium untuk pengirim mulai Rp35.000 -- kalau cerpen Rp65.000 -- tapi tergantung reputasi juga, makin tinggi makin besar bayaran.

Orang-orang menulis dan mengirim naskah dalam bahasa Jawa karena cinta. Mereka masih melakukannya pada era Facebook dan WhatsApp.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR