BENCANA ALAM

89 Orang meninggal akibat banjir Sentani, 74 masih hilang

Seorang anak melangkah di dekan deretan kendaraan yang diluputi lumpur akibat banjir bandang di kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (18/3/2019).
Seorang anak melangkah di dekan deretan kendaraan yang diluputi lumpur akibat banjir bandang di kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (18/3/2019). | Kritianto Galuwo /Beritagar.id

Sudah 89 orang meninggal akibat bencana banjir bandang di kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, hingga data hari Selasa (19/3/2019). Dari jumlah itu, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 82 orang meninggal akibat banjir dan 7 orang lain akibat tanah longsor di Ampera, Kabupaten Jayapura.

Tambahan korban jiwa ditemukan oleh Tim SAR gabungan pada Senin (18/3) sebanyak 13 orang. Masing-masing 4 jenazah dari Kampung Sereh Tua, 2 jenazah di Danau Sentani, 3 jenazah di BTN Gajah Mada, 2 jenazah di BTN Nauli 2, 1 jenazah di BTN Citra Buana, dan 1 jenazah di Kampung Hobong.

Tim SAR gabungan berkekuatan 1.613 personel dari 23 instansi pun memastikan bakal terus mencari korban dan melakukan evakuasi sesuai arahan Presiden Joko Widodo kepada Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo, pada Minggu (17/3).

Kepala Basarnas Bagus Puruhito pun akan terus membantu pencarian orang hilang dan bakal mengecek serta meningkatkan upayanya. "(Namun) Kami juga membutuhkan peralatan berat (ekskavator) untuk evakuasi dan pencarian korban" ujarnya.

Saat ini ada 74 orang masih hilang. Mereka adalah 34 orang dari Kampung Milinik, 20 orang dari BTN Gajah Mada, 7 orang dari BTN Inauli, 4 orang dari Kampung Bambar, 2 orang dari BTN Bintang Timur, 1 orang dari Sosial, 1 orang dari Komba dan 3 orang dari Taruna Sosial.

Sementara 159 orang mengalami luka-luka; masing-masing 84 orang luka berat dan 75 orang luka ringan. Adapun jumlah pengungsi terus bertambah karena warga khawatir ada banjir susulan karena hujan masih kerap turun.

Akibat arus pengungsi tak berhenti, sejumlah posko pengungsian mulai kepenuhan. Total, kini ada 6.831 orang pengungsi dari 11.725 KK dari kecamatan Sentani, Waibu, dan Sentani Barat, di 15 titik pengungsian.

Mereka berada di:

  1. BTN Bintang Timur 600 orang
  2. BTN Gajah Mada 1.450 orang
  3. Doyo Baru 203 orang
  4. Panti jompo 23 orang
  5. HIS Agus Karitji 600 orang
  6. Siil 1.000 orang
  7. Gunung Merah (Posko Induk) 1.391 orang
  8. Asrama himles: 50 orang
  9. Kompi D 108 orang
  10. Puspenka Hawai 123 orang
  11. Yayasan Abdi Nusantara: 900 orang
  12. Kampung Netar 43 orang
  13. Permata Hijau 120 orang
  14. Panti Jompo 23 orang
  15. Rindam 220 orang.

Tim SAR gabungan juga sudah mendirikan dapur umum, pos pelayanan kesehatan, dan posko lainnya. Namun para pengungsi masih membutuhkan sejumlah keperluan mendesak seperti MCK, air bersih, makanan, matras, selimut, pakaian layak, genset, peralatan dapur, psikososial, dan sebagainya.

Soal dampak kerugian dan kerusakan sejauh ini terus didata. Namun dari yang sudah berhasil didata, banjir di Sentani membuat 350 unit rumah rusak berat, 3 unit jembatan rusak berat, 8 unit drainase rusak berat, 4 jalan rusak berat, 2 unit gereja rusak berat, 1 unit masjid rusak berat, 8 unit sekolah rusak berat, 104 unit ruko rusak berat dan 1 unit pasar rusak berat.

"Kita akan memenuhi antara lain air bersih, MCK, selimut, dan matras" ucap Doni usai memimpin rapat koordinasi dalam siaran pers, Senin (18/3). Lalu, BNPB juga akan mengerahkan relawan, personel TNI, dan Polri di titik pengungsian.

Banjir bandang menerjang kota Sentani pada Sabtu (16/3) malam hingga Minggu (17/3) dini hari WIT. Banjir disebabkan luapan sejumlah kali di kota itu.

Selain menimbulkan korban jiwa, orang hilang, dan luka-luka, kawasan kota pun porak poranda. Bahkan jalanan dan permukiman penuh dengan lumpur serta sampah, termasuk batang-batang kayu pohon.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR