GUNUNG AGUNG MELETUS

Abu mirip butiran lada putih dari Gunung Agung

Asap disertai abu vulkanis keluar dari kawah Gunung Agung yang masih berstatus awas, terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Api Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali, Sabtu (9/12).
Asap disertai abu vulkanis keluar dari kawah Gunung Agung yang masih berstatus awas, terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Api Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali, Sabtu (9/12). | Nyoman Budhiana /Antara Foto

Bentuk serta ukurannya mirip butiran lada putih atau pelet ikan. Benda itu ditemukan di lereng Gunung Agung di Temakung Desa Ban Kabupaten Karangasem saat erupsi Gunung Agung pada Sabtu (9/12/2017).

Benda itu bukanlah lada putih atau pelet ikan sungguhan. Butiran abu berbentuk bulat di tengah erupsi Gunung Agung itu tentu saja tak bisa dikonsumsi untuk kebutuhan dapur. Butiran abu itu disebut Lapili atau dalam bahas vulkanologi accretionary lapili.

Butiran abu mirip lada pernah terjadi saat erupsi Gunung Sinabung pada 2013. Ada lapili yang keras dan ada pula yang agak lunak.

"Ingat, itu lapili ya. Jangan ditaruh di dapur nanti dikira lada putih," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, Minggu (10/12/2017).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mendeteksi bahwa Gunung Agung mengeluarkan butiran abu vulkanik berbentuk bulat (lapili) menerjang Desa Ban, Kubu, Karangasem, Bali, Sabtu (9/12/2017) pukul 07.50. Hujan lapili sempat membuat kaget warga karena menimbulkan suara keras.

Lapili terbentuk pada kolom erupsi karena kondisi kelembaban dan gaya elektrostatis. Material abu berinteraksi dengan air, bisa air dari kawah sehingga sering diasosiasikan dengan letusan freatomagmatik.

Kelembaban juga bisa bersumber pada kondisi meteorologis, misalnya, abu yang disemburkan berinteraksi dengan awan hujan. Saat kondisi-kondisi itu terpenuhi maka kumpulan abu tersebut menjadi berbentuk bulat. Jadi itu sebenarnya masih abu tapi terkumpul jadi berbentuk butiran atau granule.

Aktivitas Gunung Agung di Bali terus meningkat sejak erupsi pertama pada 21 November 2017. Pada Senin (27/11/2017), status Gunung Agung dinaikkan menjadi level IV (Awas) dan memasuki fase kritis akibat gempa tremor terus-menerus.

Peningkatan status dari Siaga ke Awas pernah terjadi pada Jumat (22/9/2017). Sebulan kemudian, aktivitas gunung mulai tenang dan kembali diturunkan menjadi level Siaga pada Minggu (29/10/2017).

Pada Minggu (10/12/2017), Gunung Agung mengalami 17 kali mengembuskan asap bertekanan sedang berwarna putih dan kelabu dengan ketinggian 300 hingga 1.500 meter dari atas kawah

Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Gede Suantika mengatakan dengan adanya aktivitas seperti ini mengindikasikan pengisian lava di dalam kawah mengalami perlambatan.

"Kondisi aktivitas Gunung Agung baru dikatakan menurun apabila dilihat dari abu yang keluar. Kami juga masih memantau apakah ada suplai baru dari gempa yang terekam nanti," kata Suantika dilansir Antaranews.

Suantika mengatakan untuk mendeteksi adanya pergerakan magma biasanya timbul gempa tektonik lokal, namun saat ini masih sangat minim atau hanya terjadi satu hingga dua kali.

"Untuk menurunkan status Gunung Agung ini, kami akan melakukan pendataan kembali hingga satu minggu ke depan," ujar Suantika.

Berdasarkan perekaman dari seismograf, kata Suantika, aktivitas kegempaan Gunung Agung masih didominasi gempa di permukaan, artinya belum ada terlihat suplai baru dari pipa magma. Abu yang keluar saat ini dari tekanan magma yang lama dengan kedalaman lima sampai 10 kilometer.

Ia menuturkan, pada minggu lalu sempat mengalami penurunan aktivitas Gunung Agung pada 30 November 2017, namun tiba-tiba naik kembali pada 7-9 Desember 2017 dengan ditandai keluarnya abu vulkanik.

Hingga saat ini, kondisi Gunung Agung masih mengalami erupsi efusif, namun karakter asap yang dikeluarkannya dominan berupa uap air. Berbeda ketika erupsi 25-29 November 2017 cenderung mengeluarkan abu dengan kabut tebal.

Suantika mengatakan Gunung Agung mengeluarkan abu secara sporadis pada Sabtu (9/12/2017). Pada saat erupsi 25-29 November 2017, Gunung Agung mengeluarkan abu secara terus menerus dengan ketinggian abu mencapai 3.000 hingga 4.000 meter di atas kawah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR