KECELAKAAN PENERBANGAN

Ada kemiripan kecelakaan Ethiopian Airlines dengan Lion Air

Petugas penyelamat mencari potongan puing pesawat Ethiopia Airlines Boeing 737 Max 8 di dekat Bishoftu, Ethiopia, 13 Maret 2019.
Petugas penyelamat mencari potongan puing pesawat Ethiopia Airlines Boeing 737 Max 8 di dekat Bishoftu, Ethiopia, 13 Maret 2019. | Stringer /EPA-EFE

Kementerian Transportasi Ethiopia menyimpulkan adanya “kemiripan yang jelas” pada kasus jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines dengan Lion Air JT610 yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat, tahun lalu. Kedua maskapai tersebut menggunakan jenis pesawat yang sama yaitu Boeing 737 Max 8.

Kesimpulan tersebut diperoleh melalui hasil analisis awal pada kotak hitam yang berisi Flight Data Recorder (FDR) atau data penerbangan yang berhasil dipulihkan tim penyelidik Amerika Serikat dan Ethiopia di Prancis.

Menteri Transportasi Ethiopia, Dagmawit Moges, mengungkapkan ada indikasi pesawat menempuh kondisi penerbangan yang tidak menentu selama enam menit setelah pesawat lepas landas, sebelum akhirnya jatuh menabrak lapangan di luar ibu kota, Addis Ababa, dan menewaskan seluruh 157 penumpang beserta awak pesawat.

"Selama investigasi FDR, ada kesamaan yang jelas tercatat antara Ethiopian Airlines penerbangan 302 dan Indonesian Lion Air JT 610, yang akan menjadi subjek penyelidikan lebih lanjut," kata Moges dilansir dari Washington Post, Selasa (19/3/2019).

Menurut hasil analisis awal, pesawat yang dikemudikan pilot Yared Getachew disebut naik dan turun dengan kecepatan jauh melebihi prosedur lepas landas normal. Getachew merupakan pilot berpengalaman yang telah menempuh lebih dari 8.000 jam terbang.

Namun Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) dan Dewan Keselamatan Transportasi AS (NTSB) belum memvalidasi data tersebut. Proses verifikasi baru akan dilakukan ketika tim penyelidik Ethiopia kembali dari Prancis.

Pascakecelakaan, sistem keselamatan pesawat Boeing pun dipertanyakan sebab dua pesawat naas tersebut berjenis Boeing 787 MAX 8 dan keduanya jatuh beberapa menit setelah lepas landas.

Sebetulnya, penyebab jatuhnya Lion Air JT610 sendiri masih menjadi tanda tanya. Namun, hasil investigasi awal penyelidikan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengindikasikan adanya kesalahan sensor Angle of Attack (AOA) yang menyebabkan sistem stabilizer pada Boeing mendorong hidung pesawat ke bawah secara otomatis.

Sensor AOA atau Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) berfungsi mendeteksi sudut yang dibentuk dari naik-turunnya moncong pesawat dengan arah gerak pesawat.

KNKT menduga, isu sensor AOA inilah yang menganggu perjalanan Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang. Menurut KNKT, Lion Air PK-LQP mengalami pembacaan data AOA yang berubah-ubah sesaat sebelum jatuh.

Kotak hitam FDR Lion Air menunjukkan data bahwa sebelum pesawat jatuh, hidung pesawat turun secara otomatis hampir 24 kali dalam 11 menit. Pilot Bhavye Suneja dan kopilot Harvino berulang kali berupaya untuk membawa pesawat naik kembali sebelum akhirnya kehilangan kontrol.

Isu gangguan sensor AOA tersebut sempat membuat Boeing merilis buletin panduan kepada seluruh maskapai pengguna 737 Max. Buletin ini berisi peringatan kepada pilot untuk memperhatikan kecakapan sensor penunjuk posisi AOA yang menjadi bagian dari indikator kecepatan udara (airspeed indicator).

Sertifikasi 737 Max dipertanyakan

Pesawat Boeing milik Garuda Indonesia dan Etihad Airways berada di area parkir pesawat Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (15/3/2019).
Pesawat Boeing milik Garuda Indonesia dan Etihad Airways berada di area parkir pesawat Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (15/3/2019). | Muhammad Iqbal /Antara Foto

Penyelidikan jatuhnya Ethiopian Airlines masih akan memakan waktu berbulan-bulan, namun tekanan besar kini menyasar FAA terkait proses sertifikasi. Sejumlah pengamat mempertanyakan mengapa FAA tetap memberikan lampu hijau terhadap sistem MCAS ketika sebelumnya banyak pilot AS mempersoalkan sistem tersebut.

Namun FAA menegaskan proses sertifikasi pesawat tersebut telah mengikuti standar prosedur.

"Sertifikasi 737 MAX mengikuti standar proses sertifikasi FAA,” ungkapnya secara tertulis kepada AFP.

FAA kini berada di bawah "penyelidikan tidak biasa" Kementerian Transportasi AS terkait masalah ini, khususnya kantor FAA di Seattle yang juga berdekatan dengan pabrik pesawat Boeing.

Saham Boeing Co jatuh tiga persen pada akhir perdagangan Senin (18/3) atau Selasa (19/3) pagi. Kejatuhan saham Boeing ini setelah sepasang laporan surat kabar selama akhir pekan memunculkan lebih banyak pertanyaan tentang proses sertifikasi untuk jet 737 MAX sebelum dua kecelakaan mematikan tersebut.

Mengutip Bloomberg Index, harga saham Boeing turun 2,8 persen menjadi $369,20 AS pada awal perdagangan, menjadikannya hambatan terbesar pada Dow Jones Industrial Average.

Berdasarkan data Refinitiv, nilai saham perusahaan telah menurun sekitar 10 persen sejak kecelakaan Ethiopian Airlines dan menggerus setidaknya $25 miliar atau setara Rp357 triliun dari kapitalisasi pasarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR