ADB: 22 juta penduduk Indonesia alami kelaparan kronis

Warga beraktivitas di kawasan Ancol, Jakarta, Selasa (5/11/2019).
Warga beraktivitas di kawasan Ancol, Jakarta, Selasa (5/11/2019). | Galih Pradipta /Antara Foto

Sebanyak 22 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan kronis. Jumlah tersebut sekitar 90 persen dari total jumlah penduduk miskin Indonesia, yakni 25 juta jiwa.

Hal tersebut terungkap dalam laporan penelitian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) bersama International Food Policy Research Institute (IFPRI) bertajuk Policies to Support Investment Requirements of Indonesia's Food and Agriculture Development During 2020-2045. [pdf]

"Banyak dari mereka tidak mendapat makanan yang cukup dan anak-anak cenderung stunting. Pada 2016-2018, sekitar 22,0 juta orang di Indonesia menderita kelaparan," terang laporan tersebut dikutip dari laman resmi ADB, Rabu (6/11).

Permasalahan ini dinilai dapat diurai lewat sejumlah kebijakan. ADB menyebutkan realokasi subsidi pupuk hingga peningkatan investasi di bidang penelitian pertanian, pembangunan desa dan infrastruktur pertanian--termasuk irigasi-- oleh pemerintah bisa menghentikan kasus kelaparan kronis di Indonesia pada 2034 mendatang.

“Untuk mengakhiri kelaparan di Indonesia, dibutuhkan peningkatan investasi di sektor pertanian dan pedesaan untuk meningkatkan produktivitas dan memodernisasi sistem dan pasar pangan, serta menjadikannya lebih efisien,” kata Mark W. Rosegrant, Peneliti Senior di International Food Policy Research Institute (IFPR).

Laporan ini juga mengungkapkan reformasi regulasi dan layanan penyuluhan pertanian juga memiliki manfaat ekonomi yang luas bagi negara, selain menghilangkan kelaparan. Skenario investasi komprehensif tersebut diproyeksikan akan menghasilkan tambahan manfaat ekonomi (economic benefits) sebesar Rp1.834 triliun pada tahun 2045, atau sekitar AS $129 miliar dengan kurs nilai tukar saat ini.

Seperti banyak negara lain di kawasan Asia dan Pasifik, sektor pertanian dan ekonomi Indonesia memang telah membuat kemajuan besar selama beberapa dekade terakhir. Namun realitanya, masih ada 22 juta orang di Indonesia masih mengalami kelaparan kronis.

ADB mencatat masih banyak penduduk Indonesia yang menggantungkan hidup pada pertanian tradisional dan terjebak dalam aktivitas berproduktivitas rendah dengan bayaran minim.

Indeks kelaparan

Lembaga riset kebijakan pangan yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat itu, setiap tahunnya pada bulan Oktober merilis data Indeks Kelaparan Global (Global Hunger Index/ GHI). Indeks ini merupakan alat untuk mengukur dan melacak kelaparan secara komprehensif di tingkat global, regional, dan nasional.

Indeks tersebut memiliki skor antara 0 hingga 100, dengan angka 0 mengindikasikan paling tidak lapar dan 100 paling kelaparan.

Dikutip dari globalhungerindex.org, pada 2019 Skor Indonesia di angka 20,1. Skor indeks kelaparan Indonesia itu jauh lebih tinggi daripada negara tetangga di kawasan, seperti Vietnam (15,3), Malaysia (13,1), dan Thailand (9,7).

Tapi jika dilihat secara tren, skor itu terus membaik dalam dua dekade terakhir. Yakni 25,8 pada 2000, sempat naik jadi 26,8 pada 2005, lalu kembali turun jadi 24,9 pada 2010.

Pada 2019 ini, Indonesia menempati ranking 70 dari 117 negara yang disurvei. Posisi yang sama dengan Filipina, yang juga meraih skor 20,1.

GHI menetapkan empat indikator dalam mengukur indeks kelaparan. Yakni 1) Persentase penduduk kurang gizi dari populasi; 2) Proporsi anak di bawah usia lima tahun yang menderita wasting, yaitu suatu tanda kekurangan gizi akut; 3) Proporsi anak di bawah usia lima tahun yang menderita stunting; 4) Tingkat kematian anak di bawah usia lima tahun.


BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR