Ahok cabut banding, beriring tangis Vero dan desakan Badan HAM PBB

Istri Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama, Veronica Tan, menyeka air mata ketika memberikan keterangan kepada wartawan mengenai pencabutan banding atas vonis dua tahun terhadap suaminya, di Jakarta, Selasa (23/5).
Istri Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama, Veronica Tan, menyeka air mata ketika memberikan keterangan kepada wartawan mengenai pencabutan banding atas vonis dua tahun terhadap suaminya, di Jakarta, Selasa (23/5). | Wahyu Putro A /Antara Foto

Veronica "Vero" Tan, istri Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama, tak bisa menahan air mata ketika membaca surat yang ditulis suaminya dari rumah tahanan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Surat itu menandai dicabutnya permohonan banding atas vonis dua tahun yang diterima Ahok dalam kasus penodaan agama.

"Kami sebagai keluarga memutuskan untuk tidak banding. Bapak (Ahok) minta saya membacakan surat ini," kata Veronica, saat jumpa pers, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (23/5).

Isak Vero terdengar nyaris sepanjang sesi pembacaan surat. Sesekali, ia menyeka air mata. Namun, perempuan yang menikah dengan Ahok pada 1997 itu terus menguatkan diri demi menunaikan amanat sang suami.

Lewat suratnya, Ahok mengaku telah "belajar mengampuni dan menerima." Ahok juga mengungkap alasannya mencabut permohonan banding atas vonis Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Lebih kurang, Ahok mencabut banding karena tak ingin banyak orang terganggu bila para pendukungnya terus berdemonstrasi.

Ia pun khawatir bila ada pihak-pihak tertentu yang menunggangi demonstran. Pun, keputusan ini disebut sebagai langkah antisipasi atas potensi benturan dengan "pihak lawan".

"Alangkah ruginya warga DKI dari sisi kemacetan dan kerugian ekonomi akibat ada unjuk rasa yang mengganggu lalu lintas. Tidaklah tepat saling unjuk rasa dan demo dalam proses yang saya alami saat ini," tulis Ahok.

Ia juga berterima kasih, serta menitip pesan untuk pendukungnya: "Mari kita tunjukkan bahwa Tuhan tetap berdaulat dan memegang kendali setiap bangsa."

Veronica Tan Membacakan Surat dari Dalam Tahanan /Jakartanicus

Surat Ahok dan tangis Vero ikut menyentuh emosi warganet.

Kata kunci "Bu Vero" terpantau masuk lis percakapan populer Twitter sejak pukul 12.17 WIB--kira-kira satu jam setelah Vero membacakan surat Ahok.

Bahkan, "Bu Vero" sempat pula memuncaki Tren Twitter Indonesia. Umumnya, warganet turut sedih, sekaligus memuji ketegaran Vero menghadapi perkara ini.

"Bu Vero, doaku bersamamu dan keluarga. Your strength is an inspiration (ketegaranmu adalah inspirasi)," kicau penulis, Dee Lestari (@DeeLestari, 1,6 juta pengikut).

Desakan Badan HAM PBB

Patut dicatat, keputusan Ahok membatalkan banding diambil tatkala desakan publik internasional perihal pembebasannya kian membesar.

Desakan tersebut diserukan para pegiat hak asasi manusia (HAM), termasuk para pakar di Badan HAM Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Sikap itu bisa dilihat lewat status laman Facebook UN Human Rights - Asia, Senin (22/5).

"Kami mendesak Pemerintah (Indonesia) agar membatalkan hukuman Purnama (Ahok) dalam proses banding atau memberikan dirinya bentuk pengampunan apa pun yang berlaku dalam hukum Indonesia," demikian tuntutan para pakar di Badan HAM PBB.

Mereka berpendapat, vonis Ahok terjadi di bawah tekanan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pun diperburuk dengan kampanye agresif yang dilancarkan lewat media dan unjuk rasa.

Lebih lanjut, mereka menyebut pasal penodaan agama (156a KUHP) merupakan wujud pembatasan kebebasan berekspresi di Indonesia. Lagi pula, aturan itu sering dipakai untuk menyasar "kelompok minoritas agama" dan "pembangkang politik".

"Pasal penodaan agama tidak sesuai dengan masyarakat demokratis seperti Indonesia dan ini merugikan pluralisme agama," kata mereka.

Kampanye menuntut pembebasan Ahok juga datang dari organisasi HAM terpandang, Amnesty International, yang menyebut pasal penodaan agama telah "melumpuhkan kebebasan berekspresi dan beragama."

"Vonis (Ahok) ini menunjukkan ketidakadilan yang melekat pada hukum penodaan agama di Indonesia, yang harus segera dicabut," kata Champa Patel, Direktur Asia Tenggara dan Pasifik Amnesty International.

Mereka mencatat, selain Ahok, ada tiga orang yang terbelit pasal penodaan agama pada 2017. Bahkan, sepanjang tahun 2005-2014, tercatat 106 orang yang diadili dan dihukum berdasarkan pasal penodaan agama di Indonesia.

Organisasi itu juga memfasilitasi petisi pembebasan Ahok di beberapa negara, macam Inggris dan Australia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR