KRIMINALITAS

Akhir pelarian ''tukang kunci'', tersangka pencuri dan pembunuh

K alias T diperkenalkan kepada media di Polres Gorontalo Kota, Sabtu (23/3/2019). K diringkus oleh pihak kepolisian dari pelariannya di wilayah Sulawesi Selatan setelah diduga melakukan pencurian disertai pembunuhan di Kota Gorontalo, Selasa (18/3).
K alias T diperkenalkan kepada media di Polres Gorontalo Kota, Sabtu (23/3/2019). K diringkus oleh pihak kepolisian dari pelariannya di wilayah Sulawesi Selatan setelah diduga melakukan pencurian disertai pembunuhan di Kota Gorontalo, Selasa (18/3). | Franco Dengo /Beritagar.id

Masyarakat kota Gorontalo digegerkan dengan insiden pencurian sekaligus pembunuhan yang menewaskan dua orang di jalan Panjaitan, Kota Selatan, Selasa (18/3/2019) dini hari WITA. Lima hari kemudian, Sabtu (23/3), tersangka pelakunya berinisial K alias T berhasil dibekuk.

Kasus ini sempat meresahkan warga lantaran pelaku butuh berhari-hari untuk ditemukan. Ada yang menyebut bahwa sang pelaku adalah mantan karyawan korban yang kemungkinan memiliki dendam pribadi dan ada yang mengaitkan kasus tersebut dengan persaingan bisnis karena korban memiliki bisnis besar di pusat kota Gorontalo.

Namun, seluruh dugaan tersebut terpatahkan saat pihak kepolisian akhirnya menemukan sang terduga pelaku. K (35) hanya seorang ahli duplikat kunci atau "tukang kunci" yang diringkus dalam pelariannya di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) oleh tim gabungan Resmob Polda Gorontalo, Buser Polres Gorontalo Kota, serta dibantu tim khusus Polda Sulsel dan Densus 88.

Pada konferensi pers, Sabtu (23/3), Kapolres Gorontalo Kota AKBP. Robin L. Raja, SIK, menerangkan bahwa pihaknya sudah mengantongi identitas sang pelaku usai mengumpulkan bukti dan keterangan saksi. Apalagi ada cuplikan cctv yang terpasang di tiap sudut rumah tempat kejadian perkara (TKP).

"Saat penggerebekan, tepatnya di Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu, Sulsel. Tersangka tidak melakukan perlawanan, dan langsung mengakui perbuatannya," kata Robin.

K adalah tukang kunci yang kesehariannya beraktivitas tepat di depan TKP. Menurut pengakuannya kepada polisi, aksinya dilatarbelakangi oleh lilitan utang piutang, dan tuntutan menikah dari sang kekasih.

Namun, K adalah mantan narapidana kasus narkoba. Ia merantau ke Gorontalo sejak 2017 dengan bekal keterampilannya mengutak-atik kunci.

Pada awalnya, K hanya berniat mencuri. Namun saat masuk ke dalam rumah, aksinya diketahui salah satu korban. Apalagi kemudian salah satu korban berhasil membuka penutup kepalanya (kaus) sehingga wajah K bisa dikenali.

"Dari sinilah ia panik, dan mulai menyerang para korban menggunakan pisau dapur yang ditemukannya di meja. Untuk memuluskan aksinya, ia memotong kabel sebuah cctv, dari total 4 cctv yang ada," ujar Robin.

Polisi telah mengumpulkan sejumlah barang bukti; seperti linggis yang dipakai K untuk membongkar pintu, pisau, kaus sebagai penutup kepala, dan beberapa rekaman cctv. Atas perbuatan kejinya, K dijerat pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan sengaja, pasal 365 ayat (3) KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.

"Untuk sementara, tersangka diancam dengan hukuman 15 Tahun penjara," tukas Robin.

Kasus pencurian dan pembunuhan ini menewaskan Sintiawati Hariyono (70) dan putranya, Simon Pankong (49). Sementara Yohanes Pangkong (80) dan Imelda Pangkong (46) sempat kritis karena luka tusuk di beberapa bagian tubuh.

Yohanes dan Imelda sempat melarikan diri dan kini kondisinya di rumah sakit berangsur baik. Meski begitu, mereka masih trauma dan memerlukan perawatan intensif.

Setelah kejadian menggegerkan itu, rentetan aksi pencurian masijh terjadi dan menambah keresahan warga kota Gorontalo. Pada Kamis (21/3), misalnya, dalam sehari terjadi empat kasus pencurian dan pembongkaran di sejumlah lokasi. Antara lain di Kecamatan Dungingi dan di kompleks perumahan Griya Indah, di Kecamatan Tilango.

Dengan kasus-kasus yang terjadi hanya dalam waktu sepekan ini, Kabid Humas Polda Gorontalo, AKBP Tri Wahyu Cahyono menegaskan bahwa pihak kepolisian akan menjamin keamanan. Dirinya juga berharap kejadian-kejadian tersebut tidak akan membuat keresahan warga berlanjut.

"Semua (kasus) itu baiknya dijadikan pelajaran untuk lebih peka, dan meningkatkan keamanan di rumah masing-masing," ujar Wahyu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR