Akrobat Setya Novanto

Ilustrasi Setya Novanto.
Ilustrasi Setya Novanto. | Kiagus Aulianshah /Beritagar.id

Bukan kemauannya untuk meninggalkan takhta tertinggi di Senayan. Apa daya, skandal "Papa Minta Saham" membuat pria kelahiran Bandung, 61 tahun silam itu mengajukan surat pengunduran diri tertanggal 16 Desember 2015. Padahal, takhta itu baru dinikmatinya selama tujuh bulan.

Nama Setya Novanto memang tak hanya meledak karena kasus yang turut menyeret perusahaan tambang asal Amerika Serikat, Freeport Indonesia, saja. Novanto sudah terkenal dengan berbagai tingkahnya, dari mulai tidur saat rapat paripurna, "titip absen", kemunculannya dalam kampanye Donald Trump, hingga kasus-kasus serius seperti impor beras Vietnam, impor limbah, e-KTP, dan beberapa lainnya.

Tapi, sederet kasus itu tak pernah membawanya sampai ke meja hijau, pun membuat karier politiknya meredup. Dalam pemungutan suara tertutup yang digelar di Nusa Dua, Bali, 17 Mei 2016, Novanto berhasil meraih kursi ketua umum dalam struktur partai beringin, setidaknya hingga 2019.

Entah mengidap megalomaniak atau tidak. Selasa, 22 November 2016, Novanto menyambangi Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta. Di sana, secara gamblang Novanto menyampaikan permintaan Golkar ihwal pengembalian takhtanya sebagai Ketua DPR RI.

Pertimbangannya, Golkar menilai kasus "Papa Minta Saham" selesai, karena Mahkamah Konstitusi menolak rekaman sebagai alat bukti bagi penegak hukum. Novanto pun menuntut agar nama baiknya dikembalikan seperti semula.

30 November 2016, keinginannya pun terkabul. Takhta itu kembali dimilikinya. Ade Komarudin tergeser tanpa perlawanan dari fraksi lain di kerajaan Senayan itu. Nama baiknya? Ya tentu saja sudah dikembalikan oleh Majelis Kehormatan Dewan (MKD) lewat sidang tertutup 28 September 2016.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR