INTERNASIONAL

Aksi demo warga Hong Kong kian serius

Para pendemo berkumpul di Bandara Internasional Hong Kong, Hong Kong, pada Minggu (1/9/2019). Mereka berencana memblokir jalur kedatangan penumpang menuju Hong Kong pada 1-2 September.
Para pendemo berkumpul di Bandara Internasional Hong Kong, Hong Kong, pada Minggu (1/9/2019). Mereka berencana memblokir jalur kedatangan penumpang menuju Hong Kong pada 1-2 September. | Jerome Favre /EPA-EFE

Sudah tiga bulan warga Hong Kong seolah tiada henti turun ke jalan untuk menentang Rancangan Undang-undang (RUU) Ekstradisi. Bahkan aksi protes mereka kian serius dan level kekerasan pun meningkat.

Pada Minggu (1/9/2019), ratusan warga anti-pemerintah Hong Kong kembali berusaha mengacaukan Bandara Internasional Hong Kong. Mereka berkumpul di luar terminal.

Para pendemo berusaha masuk ke terminal, tapi petugas bandara menutup pintu rapat-rapat sehingga kejadian pada Agustus lalu tak terulang. Alhasil para pendemo hanya memblokir jalan dengan memindahkan sejumlah barikade dan merusak kamera pengintai (CCTV).

Aksi mereka juga membuat layanan perjalanan kereta ekspres Bandara - Stasiun Kota harus berhenti. Jalan tol juga tidak berfungsi karena diblokir pada pendemo.

"Kami ke sini untuk memprotes (pemerintah) walau ada risiko dianiaya dan ditangkap polisi. Kami sudah siap. Meski mereka akan membawa kami ke pengadilan, kami tak takut. Warga Hong Kong tak boleh mundur," ujar seorang peserta demo David Lee dengan mengenakan masker kepada South China Morning Post.

Polisi anti-huru-hara pun tiba tak lama setelah akses transportasi diblokir para pendemo. Adapun para pendemo mundur ke kawasan pinggiran Tung Chung.

Di Tung Chung, para pendemo membuat blokade dan bertindak anarkistis. Mereka antara lain membakar bendera Tiongkok dan membuat kekacauan di stasiun kereta bawah tanah (MTR) Tung Chung.

Para pendemo marah karena pengelola stasiun menutup akses sesaat sebelum mereka datang. Alhasil mereka merusak layar informasi, menghancurkan gerbang tiket, dan mengoyak mesin penjualan tiket.

Aksi anarkistis mereka membuat pelayanan MTR berhenti. Namun para pendemo pun kesulitan untuk kembali ke pusat kota.

Mereka terpaksa berjalan kaki sejauh 14 kilometer saat polisi anti-huru-hara menyisir stasiun MTR menuju ke jembatan Tsing Ma. Setelah berjam-jam berjalan kaki, para simpatisan yang mengendarai mobil memberi tumpangan menuju ke kota dengan berbagai destinasi.

Seruan mogok pada Senin dan Selasa

Eskalasi aksi para pendemo ini tak lepas dari insiden pada Sabtu (31/8). Sebagian pendemo bertikai dengan warga di dalam kereta MTR sehingga memicu kekacauan di dalam stasiun Luk Fu.

Seorang pendemo merusak mesin ATM di Stasiun MTR Tung Chung di Hong Kong, Minggu (1/9/2019).
Seorang pendemo merusak mesin ATM di Stasiun MTR Tung Chung di Hong Kong, Minggu (1/9/2019). | Jerome Favre /EPA-EFE

Polisi anti-huru-hara pun tiba tak lama kemudian dan memburu para pendemo. Polisi dengan tindakan represif menangkap 60 orang di antaranya dari peristiwa yang disebut paling buruk dalam rangkaian protes warga Hong Kong sejak Juni lalu.

Dengan dua insiden yang relatif gagal itu, para pendemo pun menyerukan aksi mogok pada Senin (2/9) dan Selasa (3/9). Hari ini, menurut laporan Channel News Asia, para pelajar membuat rantai manusia di sekolah masing-masing.

Sebagian pelajar mengenakan masker gas, helm, dan kaca mata pelindung (google) --perlengkapan standar para pendemo sejak Juni untuk menghadapi serangan gas air mata dari polisi. Di sebuah sekolah, patung perunggu pemimpin revolusi Tiongkok Sun Yat-sen pun dipasangi masker gas dan google.

Para pelajar ini tak peduli meski mereka terancam sanksi dari sekolah karena ikut bergabung dengan aksi demo. "Hong Kong adalah rumah kami...kami masa depan kota ini dan harus menyelamatkannya," ujar seorang pelajar berusia 17 tahun yang hanya menyebut nama marga Wong.

Para pelajar mengatakan aksi mereka bisa saja makin serius jika pemerintah terus menolak permintaan warga --menarik RUU Ekstradisi yang intinya memberi kuasa kepada Tiongkok untuk menghukum para kriminal asal Hong Kong di negaranya.

"Untuk sementara, kami hanya memboikot sekolah, tapi kami bisa lebih dari ini. Kami harus menghambat intitusi pendidikan," ujar Kinson Cheung (18), alumni sebuah sekolah yang mendukung boikot ini dalam The Guardian.

Reaksi Tiongkok

Sementara pemerintah Tiongkok belum mengeluarkan sikap menyusul aksi demo warga Hong Kong yang kini mengarah kepada peningkatan aksi kekerasan dan vandalisme. Namun, sejumlah media yang seluruhnya pro-pemerintah Tiongkok mengutuk para pendemo dengan sebutan "gila dan jahat" karena telah memicu bencana pada ekonomi Hong Kong.

Bahkan media pemerintah Tiongkok, Xinhua, menulis judul "Kekerasan harus berhenti sekarang" dalam tulisan editorialnya pada Minggu (1/9). Mereka mengecam aksi para pendemo yang justru bertolak belakang dengan misinya.

"Para pendemo dan simpatisannya berteriak 'freedom' dan 'demokrasi', tapi mereka dengan mata buta justru mengekang kebebasan orang lain dengan menghambat akses mereka untuk ke sekolah dan bekerja," tulisnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR