Alasan Elanto Wijoyono rekam video dugaan pungli polisi

(Ilustrasi) Pos Polisi.
(Ilustrasi) Pos Polisi. | Subekti /TEMPO

Elanto Wijoyono kembali mengundang perhatian netizen, lewat tiga seri video YouTube, yang menampilkan dugaan pungutan liar (pungli) oleh oknum polisi di Pos Polisi, Pojok Beteng Wetan, Yogyakarta.

Sebagai pengingat, nama Elanto mulai dikenal netizen sejak aksi mengadang konvoi motor gede (moge) di Yogyakarta, pada pertengahan Agustus silam.

Pada video pertama, seorang kernet truk bermuatan pasir, terlihat masuk ke pos polisi. Saat ditanya apa yang diberikannya, si kernet menolak menjawab. Tiga orang petugas polisi yang ditanyai Elanto juga menolak memberi keterangan.

Dalam adegan selanjutnya, Elanto didatangi petugas polisi yang mengajaknya berbincang di pos. Sempat terjadi debat di antara keduanya. Petugas itu akhirnya meninggalkan Elanto.

Pada babak ketiga, seorang kernet nampak turun dari truk pasir dan menuju pos polisi. Sebelumnya, seorang ibu yang tinggal di belakang pos polisi sempat mengadang, dan berbisik pada si kernet.

Elanto pun mencoba menanyakan keperluan si kernet, dan apa yang hendak dberikannya kepada petugas polisi. Adapun petugas polisi--yang sebelumnya mendatangi Elanto--terlihat berusaha mencegah komunikasi antara Elanto dan si kernet.

Berikut rekaman lengkap ketiga seri video itu.

Latar aksi dan penjelasan Elanto

Menurut keterangan di laman YouTube, video itu direkam antara pukul 17.00 - 17.30 WIB, Sabtu (3/10/2015). Hingga artikel ini ditulis (5/10), ketiga video tersebut telah disimak ribuan kali.

Peristiwa itu terjadi di Pojok Beteng Wetan, (perempatan Jalan Brigjen Katamso dan Jalan Parangtritis). Menurut Elanto, di wilayah itu ada aturan khusus, kendaraan bermuatan besar hanya bisa melintas pada jam-jam tertentu.

"Kemarin kebetulan truk pasir yang terekam, biasanya yang lebih sering melanggar adalah bus pariwisata," kata Elanto, yang dihubungi Beritagar.id lewat telepon, Senin (5/10).

Elanto menjelaskan tujuannya mengunggah video itu sekadar untuk menemukan jawaban atas adegan yang terekam di dalamnya. Ia berharap videonya bisa direspon pihak berwenang, guna menjelaskan peristiwa itu.

"Saya tidak tendensius menuduh (ada pungli). Di dalam video dan tulisan (di media sosial), saya tidak melempar kalimat tuduhan. Sebagai warga, saya hanya bertanya apa yang sebenarnya terjadi," jelas aktivis yang kerap terlibat dalam advokasi seputar fasilitas umum dan ruang publik di Yogyakarta itu.

Elanto pun menyebut, video itu sebagai usaha mendorong warga agar terlibat aktif dalam gerakan mengawasi laku korupsi yang dilakukan aparat negara.

"Bukan hanya polisi, tapi siapapun aparat negara yang terindikasi menyalahi kewenangannya. Ini juga solidaritas untuk warga di wilayah lain (Adlun Fiqri) yang dijadikan tersangka dengan menggunakan UU ITE, karena mengunggah video dugaan suap polisi," ujar Elanto.

Ia turut meningatkan kepada warga lainnya, agar tidak perlu tendensius (baca:menuduh sepihak) dalam melakukan aksi seperti ini, tapi cukup dengan menyajikan fakta temuan mereka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR