Alasan Google berinvestasi di Go-Jek

Go-Jek yang tengah mengangkut penumpang tampak di jalanan Jakarta (27/3/2017). Investasi Google pada layanan ridesharing ini akan mempercepat inovasi yang sedang dilakukan mereka.
Go-Jek yang tengah mengangkut penumpang tampak di jalanan Jakarta (27/3/2017). Investasi Google pada layanan ridesharing ini akan mempercepat inovasi yang sedang dilakukan mereka. | findracadabra /Shutterstock

Jumlah pengguna internet dan tingkat penetrasi yang relatif cepat menjadi alasan mengapa Google memperbesar investasi mereka di Indonesia, termasuk dengan menanam modal pada perusahaan rintisan (startup) aplikasi layanan transportasi (ridesharing), Go-Jek.

Demikian disampaikan oleh VP, Next Billion Users Team Google, Caesar Sengupta, dalam tulisannya di blog perusahaan tersebut, Senin (29/1/2018).

Tulisan Sengupta tersebut sekaligus mengonfirmasi kabar yang beredar sejak dua pekan lalu bahwa raksasa teknologi dari Amerika Serikat itu adalah salah satu dari lima investor yang ikut dalam penggalangan dana investasi sebesar US $1,2 miliar (Rp16,12 triliun).

Empat lainnya adalah Temasek Holdings Pthe Ltd (perusahaan plat merah Singapura), Meituan-Dianping (perusahaan teknologi Tiongkok), dan dua firma investasi asal Amerika Serikat--KKR & CO LP dan Warburg Pincus LLC.

"Go-Jek dipimpin sebuah tim manajemen Indonesia yang kuat dan memiliki rekam jejak yang baik dalam penggunaan teknologi untuk membuat hidup lebih nyaman bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia," tulis Sengupta.

"Investasi ini membuat kami bekerja sama dengan juara lokal dalam ekosistem rintisan yang berkembang di Indonesia, sekaligus memperdalam komitmen kami kepada ekonomi internet Indonesia."

Google, yang untuk pertama kalinya menanamkan modal langsung pada startup Indonesia, tidak mengumumkan berapa dana yang mereka investasikan. Menurut sumber Reuters, dari total suntikan dana US $1,2 miliar pada putaran investasi itu, kontribusi Google mencapai US $100 juta (sekitar Rp1,3 triliun).

Masuknya Google, menurut seorang sumber kepada Nasdaq, mengerek nilai pasar Go-Jek ke angka US $4 miliar (sekitar Rp53,75 triliun pada kurs saat ini).

Sementara itu, dalam pernyataan resmi yang dikutip BBC Indonesia (30/1), Go-Jek menyatakan bahwa Google tertarik untuk berinvestasi karena model bisnis Go-Jek yang unik.

"Google berinvestasi di Go-Jek juga karena ingin belajar dari kesuksesan Go-Jek dalam mengembangkan UMKM di Indonesia," tulis manajemen Go-Jek, yang tak mengumumkan nilai investasi Google.

Selain itu, menurut mereka, kerja sama dengan salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia akan membuka kesempatan bagi Go-Jek untuk belajar mengenai praktik bisnis terbaik, alih pengetahuan, dan mempercepat inovasi di perusahaan tersebut.

Mengenai inovasi, Go-Jek saat ini memang sedang terus mengembangkan bisnisnya di luar ridesharing, terutama Go-Pay. Layanan pembayaran digital ini diperkirakan banyak pengamat justru bakal menjadi jantung utama dari bisnis Go-Jek pada masa datang.

Pada akhir tahun lalu, dikabarkan CNN Indonesia, Go-Jek menyaplok tiga perusahaan finasial teknologi Indonesia--Kartuku, Midtrans, dan Mapan--untuk memperkuat Go-Pay.

Presiden Go-Jek Group Andre Soelistyo menandaskan bahwa tahun 2018 akan menjadi waktu di mana sistem Go-Pay akan berekspansi di luar ekosistem Go-Jek.

Saat ini, mengutip Kompas.com, terjadi sekitar 100 juta transaksi di ekosistem Go-Jek, termasuk Go-Pay dan ridesharing.

Pasar menggiurkan

Asia Tenggara, terutama Indonesia, adalah pasar yang amat besar dan menggiurkan untuk aplikasi layanan transportasi seperti Go-Jek. Pun bagi Google untuk ikut berinvestasi.

Menurut Internet World Stats, Indonesia kini berada di peringkat ke-5 dalam daftar pengguna internet terbanyak, dengan jumlah 132.700.000 pengakses internet hingga 30 Juli 2017. Hanya kalah dari Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan Brasil.

Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia juga mencapai angka 6.500 persen sejak tahun 2000.

Dengan jumlah penduduk sebanyak 263,5 juta (estimasi 2017), berarti terbuka peluang besar untuk lebih berkembang.

Menurut laporan bertajuk "e-Conomy Southeast Asia Spotlight 2017" (berkas pdf) yang ditulis Google dan Temasek, ekonomi internet di Asia Tenggara sudah dalam jalur yang benar untuk menembus angka US $200 miliar pada tahun 2025.

Ukuran pasar ekonomi internet Asia Tenggara (angka dalam miliar dolar AS).
Ukuran pasar ekonomi internet Asia Tenggara (angka dalam miliar dolar AS). | Google

Bahkan diperkirakan telah mencapai US $50 miliar sepanjang 2017, lebih besar 35 persen dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Dari angka tersebut, sebanyak US $5,1 miliar didapat dari aplikasi layanan transportasi yang mencapai 6 juta pengguna setiap harinya--naik dua kali lipat dalam dua tahun terakhir. Pada 2025 layanan ini diperkirakan bakal menyumbang US $20,1 miliar kepada ekonomi internet di Asia Tenggara.

Dalam laporan lainnya, Google dan Temasek juga memperkirakan 3,8 juta pengguna baru akan masuk ke dunia maya setiap bulannya hingga tahun 2020.

Mayoritas angka tersebut, sekitar 40 persen, akan disumbangkan oleh Indonesia, yang memiliki jumlah penduduk terbanyak.

Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir Google telah berpartisipasi aktif dalam dunia ekonomi internet di Indonesia. Salah satunya melalui Gapura Digital, sebuah program pelatihan gratis bagi para pemilik usaha kecil dan menengah (UKM) untuk membantu mereka memperkenalkan dan menjual produk-produk mereka di internet.

Program tersebut telah berjalan sejak 2014 dan hingga saat ini telah menjangkau 40.000 UKM di 10 kota di Indonesia.

Lalu, bekerja sama dengan PT Kibar Kreasi Indonesia (Kibar), mereka membangun Google Lounge di Menara Kibar, Jakarta, yang berfungsi sebagai co-working space (ruang kerja bersama) bagi para perusahaan yang tengah mengawali bisnis mereka di dunia digital.

Untuk mempermudah akses internet masyarakat Indonesia, perusahaan yang dipimpin Sundar Pichai itu juga telah memperkenalkan Google Station, bekerja sama dengan FiberStar dan CBN, yang akan mulai beroperasi di Jawa dan Bali tahun ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR