FLUKTUASI RUPIAH

Alasan rupiah masih sulit menguat dalam waktu dekat

Petugas kasir menghitung mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di tempat penukaran uang di kawasan Kwitang, Jakarta, Selasa (2/10/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang ditransaksikan pada Selasa (2/10) telah menyentuh level Rp15.000 per dolar AS dan ditutup pada level Rp 15.042.
Petugas kasir menghitung mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di tempat penukaran uang di kawasan Kwitang, Jakarta, Selasa (2/10/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang ditransaksikan pada Selasa (2/10) telah menyentuh level Rp15.000 per dolar AS dan ditutup pada level Rp 15.042. | Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Nilai tukar rupiah kembali melesat ke titik terdalam sejak krisis moneter 1998 lalu. Mengutip data Bloomberg Index, rupiah merosot ke kisaran Rp15.100 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot Jumat (5/10/2018).

Sejak awal tahun, rupiah sudah melemah 10 persen di hadapan greenback--sebutan lain untuk dolar AS. Di antara mata uang utama Asia, kinerja rupiah hanya lebih baik ketimbang rupee India.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,89 persen ke level 5.756 pada penutupan perdagangan Kamis (4/10). Pelemahan nilai rupiah ke level Rp15.000 memicu investor melakukan aksi jual secara tiba-tiba atau panic selling.

Sejumlah analis memprediksi, rupiah masih akan sulit untuk bangkit dalam waktu dekat akibat sejumlah faktor yang menekan rupiah.

Apa saja faktor yang dimaksud?

1. Perekonomian AS membaik

Rumus ekonomi dunia saat ini menempatkan AS sebagai magnet perputaran uang usai krisis taper tantrum 2013 silam. Data ekonomi negeri Paman Sam terus membaik dan mendorong bank sentral, The Federal Reserves, untuk menaikkan suku bunga acuan secara bertahap.

Aksi The Fed mengundang derasnya aliran modal ke AS. Investor kembali bernafsu untuk masuk ke AS seiring kinclongnya data-data ekonomi di sana.

Rilis data pada hari Kamis (4/10), angka klaim pengangguran (jobless claim) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump tercatat turun menjadi 207.000, menjadikan angka terendah sejak 49 tahun lalu.

Kemudian survei dari ADP dan Moody's Analytics, menyebutkan bahwa perekonomian AS menciptakan 230.000 lapangan kerja sepanjang September. Ini adalah angka tertinggi sejak Februari.

Analis Monex Investindo Futures, Faisyal, mengungkapkan angka positif tersebut akan menjadi pengaruh rupiah akan semakin tertekan hingga The Fed menaikkan suku bunga acuannya kembali pada Desember.

"Para pelaku pasar memandang dolar AS sebagai instrumen yang menarik dan positif saat ini," ujar Faisyal dalam riset harian dikutip Jumat (5/10).

Faisyal memprediksi rupiah bergerak di rentang Rp 15.100-Rp 15.250 per dolar pada perdagangan hari ini.

2. Indonesia terjebak defisit

Analis FXTM, Lukman Otunuga, mengemukakan sulit untuk memprediksi sampai kapan rupiah terus melemah, terutama ketika mengingat nilai tukar sudah mencapai level terendah sejak 20 tahun terakhir. Apalagi, faktor internal juga berperan kuat dalam pelemahan rupiah.

Defisit perdagangan dan transaksi dinilai menjadi duri dalam daging perekonomian Indonesia.

“Rupiah mungkin tetap tertekan dalam jangka pendek, di tengah menguatnya dolar dan kekhawatiran atas defisit transaksi berjalan yang semakin melebar. Ini bisa diperparah jika laporan pekerjaan di AS melebihi ekspektasi pasar,” jelas Lukman dalam Koran Jakarta.

Neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia sepanjang 2018 mengalami defisit. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan periode Januari-Juli terjadi defisit 3,09 miliar atau sekitar Rp46 triliun.

Meningkatnya permintaan impor barang yang lebih besar dibanding hasil ekspor membuat neraca perdagangan nasional mencatat defisit dalam lima bulan sepanjang tahun ini.

Demikian pula transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit sebesar 13,75 miliar dolar (Rp205 triliun) sepanjang semester pertama tahun ini. Pada triwulan pertama terjadi defisit 5,71 miliar dolar dan triwulan kedua sebesar 8,03 miliar dolar.

Defisit transaksi berjalan terbesar disumbang dari transaksi pendapatan primer, yakni mencapai 8,15 miliar dolar dan transaksi jasa-jasa 1,79 miliar dolar. Sedangkan transaksi pendapatan sekunder mencatat surplus 1,63 miliar dolar dan transaksi barang 286 juta dolar.

Terjadinya defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan membuat pasokan dolar AS di pasar domestik seret. Selain karena devisa hasil ekspor berkurang, para eksportir juga enggan melepaskan dolar yang mereka miliki.

Ditambah lagi meningkatnya pembayaran pendapatan investasi portofolio asing dalam bentuk dividen serta pembayaran bunga pinjaman luar negeri membuat kebutuhan dolar semakin meningkat. Ini yang menjadi salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah.

3. Perang dagang

Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu memang mengakui, sentimen perang dagang AS dan Tiongkok menjadi salah satu indikator yang akan terus dicermati perkembangannya ke depan.

Pasalnya, ketegangan tersebut tidak bisa diprediksi seperti proyeksi membaiknya perekonomian AS, yang bisa direfleksikan kepada arah kebijakan bank sentral AS.

Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan perang dagang yang terjadi antara AS dan Tiongkok tidak bisa diadang lagi.

"Kelihatannya perang dagang sudah tidak bisa direm. Ini akan jalan. Masing-masing mulai mengembangkan strategi yang bercabang-cabang. Sehingga untuk nariknya supaya berhenti susah," ujar Darmin dalam Sindonews.com.

Perang dangang antara dua negara raksasa itu dipicu oleh tuduhan Trump bahwa Tiongkok telah lama berupaya mencuri kekayaan intelektual AS. Ia juga menuduh Tiongkok membatasi akses internasional untuk masuk ke pasarnya.

Tiongkok juga dianggap tidak adil karena memberikan subsidi kepada perusahaan milik negara. Akibat perang dagang ini, kedua negara memberlakukan tarif impor yang semakin berat antara satu sama lain.

Kedua negara tersebut pun telah berkali-kali menggelar perundingan agar ketegangan menurun, namun kata sepakat belum tercapai.

4. Harga minyak melambung

Ekonom Bahanas Sekuritas, Satria Sambijantoro, mengidentifikasi peningkatan harga minyak dunia sebagai risiko terbesar bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya, saat ini Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap impor minyak.

"Kami melihat korelasi kuat antara nilai tukar dan harga minyak, karena mata uang cenderung terdepresiasi ketika harga minyak sedang meningkat - dan sebaliknya," ujar Satria kepada Beritagar.id, Jumat (5/10).

Ia meyakini korelasi antara harga minyak dan rupiah bisa lebih kuat daripada yang dipikirkan banyak orang. Hal ini bisa dilihat dari defisit perdagangan sektor migas yang melebar dan menjadi ancaman besar bagi anggaran pemerintah saat ini.

Meskipun patokan harga minyak Brent telah mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir, sinyal ketidaksesuaian pasokan-minyak global mengisyaratkan bahwa harga minyak dunia masih mungkin bisa merangkak naik melebihi 85 dolar per barel.

Potensi harga minyak untuk terus naik masih cukup besar karena kian dekatnya pemberlakuan sanksi baru AS kepada Iran yaitu pada 4 November. Saat itu, Iran akan sulit mengekspor minyaknya karena blokade Negeri Adidaya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR