Allan Nairn di sebuah restoran kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Senin malam (15/4/2019).
Allan Nairn di sebuah restoran kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Senin malam (15/4/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG MINI

Allan Nairn: Buktikan kalau notulensi itu salah

Ia tidak khawatir artikelnya dianggap bohong, karena merasa sudah memverifikasi kepada orang-orang yang ada dalam rapat tim Prabowo itu.

Siapakah Allan Nairn? Yang orang tahu ia merupakan jurnalis investigasi Amerika Serikat (AS), sering tiba-tiba muncul pada momen Pemilu, dan satu lagi: biang masalah bagi tentara.

Jejaknya di Indonesia dimulai pada 1991, ketika memberitakan genosida di Timor Timur. Ia selamat dari peristiwa Santa Cruz, meski dihantam popor M16 hingga tengkoraknya retak.

Untuk laporannya di Timor Timur itu, Allan meraih Robert F. Kennedy Memorial First Prize for International Radio pada 1993.

Allan kemudian dinyatakan sebagai ancaman keamanan nasional dan dilarang masuk Timor Timur. Tapi ia bandel dan menyusup beberapa kali secara ilegal. Pada 1999 ia ditahan secara singkat oleh tentara Indonesia.

Selanjutnya, hubungan Allan dan tentara tak pernah harmonis. Pada 2010 ia menuduh militer Indonesia membunuh aktivis sipil. Empat tahun berikutnya ia menuduh Prabowo Subianto yang saat itu nyapres terlibat pelanggaran HAM.

Kini, Allan kembali membuat heboh. Pada blog pribadinya yang berjudul "Notulensi Rapat Tertutup Prabowo Subianto dan Tim”, ia mengungkap strategi Prabowo yang di antaranya bakal menggembosi kekuatan lawan politiknya--jika menang pemilihan.

Allan dituding bohong. Tulisan itu dianggap tak valid karena tak diperkuat sumber yang jelas sehingga hanya memunculkan opini, serta belum diketahui kebenarannya.

“Silakan saja membantah tulisan itu,” kata Allan saat wawancara dengan Heru Triyono, Muammar Fikrie, fotografer Wisnu Agung, di sebuah restoran kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Senin malam (15/4/2019).

Restoran itu adalah tempat makan yang kurang sempurna untuk bicara. Bising dan gelap. Tapi Allan seperti menyukai tiap detiknya. Ia minum jus semangka dari gelas raksasa dan tampak lahap saat makan pisang goreng.

Kami banyak bicara soal kepentingannya berada di Indonesia dan mengapa menerbitkan tulisan rapat tim Prabowo itu jelang pencoblosan. Berikut wawancaranya yang telah diedit dan dipadatkan:

Allan Nairn di sebuah restoran kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Senin malam (15/4/2019).
Allan Nairn di sebuah restoran kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Senin malam (15/4/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Kenapa Anda selalu muncul setiap Pemilu dengan isu-isu yang menyudutkan Prabowo?
Saya memang hadir tiap tahun di sini. Saya bicara soal HAM dan biasanya ada di Indonesia tiga atau empat bulan sebelum pemilihan berlangsung.

Tapi kenapa di Indonesia. Apa kepentingan Anda?
Karena Indonesia negara penting dan jumlah penduduknya nomor empat di dunia. Indonesia punya kesempatan besar untuk maju, hingga demokrasi dan kebebasannya menjadi benar.

Banyak pertanyaan di publik, kok Anda seperti sibuk urusi negara orang lain…
Bukan begitu. Saya ada sejarah personal dengan Indonesia. Dimulai dari peristiwa Santa Cruz di Timor Timur.

Kemudian banyak teman dekat saya di sini, seperti Munir dan Jafar Siddiq Hamzah, yang keduanya dibunuh lewat operasi intelejen.

Saat Jafar hilang, saya datang mencarinya. Tapi tidak dapat. Saya malah menemukan dia sudah jadi mayat dan didekatnya ada empat mayat lagi.

Semuanya dengan tangan terikat dan wajahnya sudah tidak berbentuk lagi. Itu siksaan kejam, sebelum akhirnya Jafar meninggal.

Oke. Motivasi tulisan Anda itu memang untuk pengaruhi opini publik sebelum mereka memilih?
Saya memang kasih perhatian terhadap Pemilu di Indonesia. Karena Prabowo ada kemungkinan menang. Dia ini bukan militer biasa dan bukan politisi biasa.

Kalau pilihannya itu Jokowi Vs. Sandi, saya tidak akan kasih perhatian yang besar. Ya, kalau calon presidennya Prabowo, itu bagi saya bahaya, karena kemungkinan ia bisa naik ke Istana.

Banyak yang meragukan tulisan di blog Anda itu. Bahkan sebagian pihak bilang dokumen yang Anda bagikan itu palsu…
Iya. Saya baca itu di media. Tapi saya merasa sudah menghubungi sumber-sumber yang diperlukan.

Petinggi Gerindra Arief Poyuono mengatakan Anda ini dibayar untuk menyudutkan Prabowo. Bahkan menunjukkan bukti trasnfernya kepada media. Bagaimana pendapat Anda?
Ha-ha. Lucu sekali. Luar biasa. Itu menunjukkan kredibilitasnya. Cek saja rekeningnya. Itu tidak exist. Lihat juga bahasa Inggrisnya. Itu kurang sempurna. Lucu.

Hanya ada satu hal yang benar dari tanda rekening di DBS Bank Singapore tersebut. Yaitu spelling nama saya.

Anda tidak tahu soal rekening itu?
Memang tidak ada transfer itu. Ada pers yang mengecek dan itu palsu. Ini seperti konfirmasi diam-diam dari mereka dan seperti sedang mencari cara mendiskreditkan soal notulen itu.

Bagaimana caranya Anda mendapatkan notula rapat itu dan dari siapa?
Saya agak lama menerima dokumen itu dari beberapa sumber. Cukup lama juga saya memverifikasi asalnya dari mana, juga sumber-sumbernya dan siapa penulis notulen-nya.

Tapi yang Anda sampaikan di tulisan Anda itu tuduhan yang serius kepada Prabowo. Di antaranya dia akan menghantam aliansi Islam dan menggembosi lawan politiknya…
Saya mendapatkan info itu. Dia (Prabowo) sedang pakai mereka (ormas Islam). Seperti ekstremis Kristen di Amerika yang dipakai oleh Trump di Amerika.

Setelah saya bicara dengan aliansi Islam itu, seperti HTI, FPI, 212, ya mereka tahu sedang dipakai. Itu level elitnya. Tapi kalau di akar rumput, mereka akan terkejut dan shock kalau membaca itu.

Banyak yang tidak percaya. Bagaimana Anda meyakinkan publik untuk menunjukkan bahwa info notula itu asli?
Ya saya banyak bicara dengan orang yang terkait dengan rapat itu. Itu sumber asli dari kubu Prabowo.

Anda melakukan verifikasi?
Oh ya, tentu. Prosesnya panjang dan rumit.

Allan Nairn di sebuah restoran kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Senin malam (15/4/2019).
Allan Nairn di sebuah restoran kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Senin malam (15/4/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Kalau itu benar. Kapan Anda mendapatkan dokumen itu?
Beberapa waktu lalu.

Ada juga yang janggal dalam notula itu. Sebab ada satu nama penting yang tidak hadir jika rapat itu benar ada. Dia adalah Djoko Santoso…
Mungkin dia memang tidak hadir, mungkin ada kegiatan lain. Kalau Fadli Zon ada.

Beredar foto Anda dengan Arief Poyuono. Apakah pertemuan itu membahas rapat tertutup itu atau membahas yang lain?
Kami membahas Freeport dan Trump. Dia suka sekali dengan Trump. Prabowo dan orangnya sejak lama mencoba berkenalan dengan Trump, tapi belum jadi-jadi.

Kenapa Anda tidak buat tulisan yang mengulas mantan petinggi militer di kubu Jokowi. Seperti Wiranto, Hendropriyono atau Luhut Binsar Pandjaitan?
Saya sering menyerang Prabowo. Tapi juga Hendro dan Wiranto.

Dua tahun lalu saya ke Timor Leste untuk memperingati pembantaian massal di Santa Cruz. Wiranto itu faktanya masih di bawah dakwaan Jaksa PBB di sana dan dakwaan itu masih aktif untuknya.

Saya pun membahas kemungkinan untuk meminta Timor Leste menekan Pemerintah Indonesia agar Wiranto dikirim secara paksa ke Timur Leste untuk diadili.

Kalau Hendro, silakan baca-baca artikel saya. Saya terus dorong dia untuk diadili karena bertanggung jawab atas Munir. Kalau Luhut, saya belum dapat rekam jejaknya.

Jika bicara HAM, apakah Prabowo atau bahkan Jokowi bisa jadi solusi?
Kebanyakan kawan saya memang akan golput karena mereka kecewa dengan Jokowi. Ya Jokowi memang takut dengan tentara. Dia belum berani melakukan apa-apa.

Tapi kalau Prabowo naik, akan lebih buruk lagi pastinya. Macam bergerak lagi ke era Orde Baru.

Kenapa Anda langsung memastikan bahwa akan jadi lebih buruk. Dia memimpin saja belum…
Kesimpulan itu didasari rekam jejak dia.

Objektifnya, Jokowi juga tidak bisa menyelesaikan kasus Munir dan bahkan Novel Baswedan. Apa pendapat Anda?
Yang saya bilang tadi. Dia takut. Tapi kalau Prabowo yang di Istana, akan jadi lebih buruk.

Anda percaya bahwa akan ada gerakan people power jika Prabowo kalah?
Dengan aneka gerakan akar rumput Islam, bisa saja. Tapi saya tidak tahu.

Karena tulisan soal notula itu, Anda akan dipolisikan karena dianggap menyebar berita bohong….
Ya hal itu terjadi juga pada 2014 lalu dan biasa saja. Saya sudah biasa menghadapi yang seperti itu. Kalau notulensi itu salah, silakan buktikan saja.

Kalau insting Anda, kira-kira menang siapa, Prabowo atau Jokowi?
Saya tidak tahu ya, tapi menurut saya kemungkinan agak besar saat ini Prabowo bisa menang. Mungkin saya salah. Tapi ya survei untuk Jokowi (menang) kan jauh. Dua puluh persen bedanya.

Btw, ada yang menuding Anda itu merupakan agen rahasia…
Ha-ha. Come on. Saya bukan agen siapa-siapa dan merupakan musuh CIA (institusi intelijen Amerika). Bahkan saya menduga mereka terlibat pembunuhan Munir.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR