INTERNASIONAL

Alur baru Arab Saudi dan kata terakhir Khashoggi

Seorang pria mengenakan dua topeng muka dari jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi dalam aksi protes di depan Kedutaan Arab Saudi di Istanbul, Turki, 25 Oktober 2018.
Seorang pria mengenakan dua topeng muka dari jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi dalam aksi protes di depan Kedutaan Arab Saudi di Istanbul, Turki, 25 Oktober 2018. | Erdem Sahin /EPA-EFE

Alur cerita pembunuhan Jamal Khashoggi versi Arab Saudi berubah lagi. Kamis (15/11/2018), Kejaksaan Tinggi Riyadh mengumumkan Khashoggi dibunuh dengan tidak sengaja oleh tim yang seharusnya membawa jurnalis itu pulang ke Arab Saudi.

Salah satu jaksa, Saud al-Mojeb, menyimpulkan komando pembunuhan Khashoggi berasal dari seorang pejabat tingkat rendah yang bertindak gegabah serta tidak menaati perintah untuk memulangkan Khashoggi.

Pembunuhan juga tidak dilakukan dengan cara mencekik, melainkan menggunakan obat penenang--dengan dosis secukupnya--yang mematikan. Sementara, keputusan untuk memutilasi Khashoggi dibuat dengan mendadak agar jasadnya bisa dibawa keluar kantor kedutaan tanpa menimbulkan kecurigaan.

Atas penyelidikan terbaru ini, kejaksaan mengaku menjatuhkan dakwaan untuk lima dari 11 tersangka pembunuhan dengan ancaman hukuman mati dengan cara dipenggal. Enam tersangka lainnya akan dikenakan hukuman penjara karena terlibat dalam pembunuhan.

Jaksa enggan menyebut identitas lima orang tersebut pun menyebut berapa lama sanksi penjara akan dijatuhkan.

Namun, seorang sumber yang dekat dengan kejaksaan mengatakan kepada The Washington Post bahwa Maher Abdulaziz Mutrib, salah satu pengawal terdekat Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), adalah kepala dari tim pembunuhan itu--meski tidak menyimpulkan bahwa Mutrib termasuk dari lima yang terancam hukuman mati.

Dalam kesempatan yang sama, juru bicara kejaksaan, Shaalan al-Shaalan, kembali menegaskan bahwa putra mahkota Arab Saudi sama sekali tidak mengetahui adanya operasi pembunuhan tersebut.

Perubahan alur cerita versi Arab Saudi ini berbanding terbalik dengan pernyataan yang menyebut Khashoggi dibunuh dengan terencana. Pernyataan tersebut diakui sendiri oleh Arab Saudi merujuk penyelidikan yang dilakukan Turki.

Sejak awal, Arab Saudi kerap berubah-ubah dalam memberikan pernyataan tentang kematian Khashoggi. Dari mulai tidak mengakui pembunuhan, perkelahian hingga tewas dalam konsulat, hingga terbunuh dalam misi terencana.

Dalam alur cerita terbarunya, jaksa mengakui bahwa salah satu dari anggota tim tersebut adalah seorang spesialis bukti pidana yang bertugas membersihkan tempat kejadian perkara (TKP) hanya jika dibutuhkan.

Namun, penyelidikan Turki selama ini menyebut bahwa satu di antara tim tersebut adalah doktor spesialis otopsi. Bahkan, pejabat imigrasi Turki yakin bahwa doktor tersebut turut membawa gergaji tulang saat tiba di Istanbul.

The New York Times turut mengkritisi Arab Saudi yang tidak menyediakan nama atau informasi terkait perantara lokal yang ditugaskan untuk membuang jasad Khashoggi yang telah dimutilasi. Alih-alih, jaksa menyebut jasad Khashoggi masih berada di lokasi yang tidak diketahui di Turki, dan bersedia melakukan kerja sama pencarian dengan pemerintah setempat.

Di sisi lain, mulai pekan lalu, kepolisian Turki memutuskan untuk tidak lagi mencari jasad Khashoggi. Hal ini lantaran petugas menemukan cairan asam hidrofluorat dan bahan kimia lainnya di salah satu ruang tempat Khashoggi dieksekusi di Kedutaan Besar Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Cairan itu memperkuat teori bahwa jasad Khashoggi benar dimutilasi dan dilenyapkan, sebab senyawa kimia ini mampu menghancurkan tubuh. Bagian tubuh yang hancur dan rusak itu diyakini telah dibuang melalui saluran air, sehingga proses pencarian akan semakin sulit.

Oleh karenanya, meski pencarian jasad dihentikan, penyelidikan terkait motif pembunuhan akan tetap dilanjutkan Turki dengan atau tanpa bantuan Arab Saudi.

"Aku tak bisa bernapas"

Alur cerita baru yang dibuat Arab Saudi bisa saja terbantahkan dengan bukti rekaman suara pembunuhan Khashoggi yang dimiliki Turki.

The New York Times berhasil mendapatkan beberapa bukti suara dari rekaman yang dibagikan Turki, salah satunya kepada Direktur CIA, Gina Haspel. Dalam rekaman tersebut terdengar sebuah suara yang mirip dengan perintah "bilang ke bosmu".

Tak lama kemudian, terdengar suara lagi yang menyatakan kalimat semacam "tugas telah selesai dikerjakan".

Kalimat terakhir itu diyakini diucapkan oleh Maher Abdulaziz Mutreb dalam sebuah perbincangan telepon--dengan bahasa Arab--kepada seorang "pejabat tinggi" di Riyadh. Tim intelijen Amerika Serikat (AS) meyakini bahwa kalimat "bosmu" itu ditujukan kepada Pangeran Mohammed bin Salman (MBS).

"Ini bukti yang cukup memberatkan," tutur mantan anggota CIA, Bruce O. Riedel.

Investigasi yang dilakukan koran Turki, Daily Sabah, membuka isi rekaman percakapan lainnya.

Nazif Karaman, salah satu tim investigasi pembunuhan Khashoggi di harian tersebut mengatakan kepada Al-Jazeera, bahwa sang jurnalis dibuat kehabisan napas. Mengacu pada rekaman, pembunuhan itu benar terjadi dalam rentang waktu tujuh menit.

"Kalimat terakhir Khashoggi yang terdengar dalam rekaman tersebut adalah 'Aku tak bisa bernapas…Lepaskan tas plastik ini dari kepalaku, aku menderita klaustrofobia'," sebut Karaman. Untuk diketahui, klaustrofobia adalah ketakutan terhadap ruang sempit dan tertutup.

Karaman mengatakan, Daily Sabah akan segera menerbitkan gambar dari alat-alat yang digunakan tim untuk mengeksekusi Khashoggi. Selain itu, bukti-bukti rekaman yang mendokumentasikan saat-saat terakhir kehidupan Khashoggi juga akan diumbar.

Pekan lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengaku telah menyebarkan bukti rekaman suara pembunuhan tersebut kepada Arab Saudi, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, dan Inggris.

"Aku rasa mereka berada di bawah pengaruh heroin, hanya mereka yang sedang kecanduan bisa melakukan hal keji seperti ini," tutur Erdogan dalam CNN, merujuk rekaman pembunuhan yang telah didengarnya.

Hingga saat ini, Arab Saudi belum mau berkomentar lebih jauh terkait rekaman tersebut. Begitu juga dengan Gedung Putih yang tetap mengaku belum menerima rekaman yang dimaksud.

Beberapa jam setelah Arab Saudi mengumumkan hasil penyelidikan terbarunya, pemerintahan Trump mengatakan akan menjatuhkan sanksi atas pelanggaran hak asasi manusia kepada 17 warga Saudi yang terlibat dalam pembunuhan.

Para analis berpendapat sanksi ini adalah langkah aman Trump yang tetap mendukung MBS tak terlibat. Sean Kean, mantan pejabat Gedung Putih, berpendapat sanksi itu tidak akan berdampak serius kepada kerajaan.

"Sanksi adalah hal terakhir yang bisa mereka lakukan dan yang bisa kita duga. Sanksi ini tidak akan berpengaruh kepada rezim Saudi, kecuali akan ada sanksi tambahan lainnya," sebut Kean dalam VOX.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR