LION AIR JT610

Ambisi Rusdi Kirana lewat ratusan Boeing 737 Max

Dua pekerja berjalan di dekat pesawat Lion Air yang berada di hanggar aeroteknik Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, Riau, 21 November 2014 (dirilis lagi 29 Oktober 2018).
Dua pekerja berjalan di dekat pesawat Lion Air yang berada di hanggar aeroteknik Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, Riau, 21 November 2014 (dirilis lagi 29 Oktober 2018). | Bagus Indahono /EPA-EFE

Jumat, 18 November 2011, Lion Air memecahkan rekor pemesanan pesawat terbanyak yang pernah diterima Boeing Company.

Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana mengajukan pemesanan 230 pesawat Boeing dengan nilai total mencapai $21,7 miliar AS, setara dengan Rp195,3 triliun (asumsi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS ketika itu pada posisi 9.000).

Pesanan itu hanya awalan. Sebab, Rusdi punya target memiliki 403 pesawat Boeing baru (dengan keseluruhan ongkos pembelian mencapai $37,7 miliar AS atau setara Rp339,3 triliun) untuk menambah kapasitas pesawatnya yang baru mencapai 113 unit.

Ketika itu, tidak ketahui model Boeing apa yang dipesan Lion Air. Namun, pengiriman pertama disepakati akan dilakukan pada 2017.

Penandatangan kesepakatan dilakukan Rusdi Kirana bersama Wakil Presiden Senior Boeing Ray Conner dengan disaksikan langsung Presiden ke-44 Amerika Serikat (AS) Barack Obama, pada sela-sela KTT ASEAN di Nusa Dua, Bali.

“Dari timur ke barat, luas Indonesia mencapai 5.000 mil (8046.72 kilometer) dengan 230 juta penduduk, dan kita belum memiliki pesawat yang cukup untuk memenuhi permintaan pasar,” ucap Rusdi ketika itu, dikutip dari Forbes, Januari 2015.

Pemesanan itu menjadi fenomenal. Lion Air berhasil mengalahkan maskapai terbesar di dunia, American Airlines, yang hanya memiliki pesanan pesawat terbesar sebanyak 285 unit.

Bukan hanya itu, nilai yang harus dibayarkan Lion Air juga memecahkan rekor yang sebelumnya dibuat Emirates ketika membeli 29 unit Boeing 737-900 dan 201 unit Boeing 737 Max.

Presiden ke-44 AS Barack Obama bertepuk tangan usai penandatanganan kesepakatan pembelian Boeing oleh Lion Air di Nusa Dua, Bali, 18 November 2011.
Presiden ke-44 AS Barack Obama bertepuk tangan usai penandatanganan kesepakatan pembelian Boeing oleh Lion Air di Nusa Dua, Bali, 18 November 2011. | Made Nagi /EPA

Rusdi, dalam sebuah sesi wawancara bersama Financial Times, pernah sesumbar untuk membeli 5.500 hektare lahan di pinggiran Jakarta khusus untuk membangun bandara bagi maskapainya sendiri. Rusdi mengklaim Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, sudah kelewat padat, sehingga pesawatnya sering mengalami keterlambatan.

“Aku yakin presiden bakal membantu jika ada masalah dalam mendapatkan izin untuk pembelian lahan,” tutur Rusdi.

Ambisi Rusdi sebenarnya tak untuk Boeing saja. Dua tahun setelah menandatangani kerja sama dengan Boeing, Rusdi kembali melakukan pemesanan 234 pesawat Airbus A320 dengan total nilai mencapai $24 miliar AS. Penandatangan dilakukan langsung dihadapan Presiden Prancis saat itu, Francois Hollande.

Rusdi beralasan, dirinya ingin membuat jangkauan Lion Air lebih luas lagi. Dengan pesawat tambahan, Lion Air mengincar pasar Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Taiwan, serta pulau-pulau kecil di Indonesia dengan tambahan pesawat itu. Saat ini, selain melayani 126 destinasi lokal, Lion Air hanya melayani penerbangan internasional menuju Singapura, Malaysia, dan Vietnam.

Rusdi berhasil mengangkat nama Lion Air di dunia internasional. Pada artikelnya, CNN bahkan harus menjelaskan siapa, asal muasal, hingga wilayah terbang Lion Air terlebih dahulu sambil menyematkan subjudul, “Lion who? (siapa Lion)”.

The Telegraph, media asal Inggris, bahkan menyindir kredibilitas Lion Air. Bagaimana bisa, maskapai berbiaya rendah yang masih dilarang melintasi langit Eropa ini bisa melakukan pemesanan yang sangat masif itu?

“Hal lain yang mungkin menarik adalah bagaimana Lion Air bisa memiliki pertumbuhan yang sangat impresif dalam tujuh terakhir?” tutur analis senior OAG, John Grant.

Boeing kemudian membalas “budi baik” Lion Air dengan memberikannya penghargaan sebagai maskapai pertama di dunia yang menerima tipe terbaru Boeing, 737 Max 8. Lion Air juga mendapat kehormatan untuk menerbangkan pesawat ini untuk pertama kalinya dalam penerbangan komersial tertanggal 22 Mei 2017.

Oleh Lion Air, 737 Max 8 digunakan pertama kali dalam penerbangan Malindo Air—anak usaha Lion—tujuan Kuala Lumpur-Singapura.

Rusdi Kirana saat meminta maaf kepada keluarga korban Lion Air JT610, Jakarta, 5 November 2018.
Rusdi Kirana saat meminta maaf kepada keluarga korban Lion Air JT610, Jakarta, 5 November 2018. | Mast Irham /EPA-EFE

Sudah satu tahun sejak satu per satu pesawat pesanan Lion Air datang, insiden mengerikan terjadi. Salah satu pesawat Boeing 737 Max 8 yang baru digunakan Lion Air selama dua bulan jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober 2018.

Seluruh 189 penumpang meninggal dunia. Pesawat hancur menjadi puing-puing. Dugaan penyebab jatuhnya pesawat kencang mengarah pada “kecacatan” salah satu sensor posisi dalam indikator kecepatan pesawat. Boeing jadi sasaran.

Rusdi pun “naik pitam”. Laporan Reuters yang mengutip orang terdekat Duta Besar Indonesia untuk Malaysia ini melapoorkan, Rusdi tengah mempertimbangkan pembatalan sisa pesanan.

Dari seluruh pesanan pesawat, Boeing masih harus mengirim 190 unit terbarunya kepada Lion Air. Sampai artikel diturunkan, manajemen Lion Air masih enggan menjawab perihal pertimbangan Rusdi.

Pertimbangan ini bisa berbahaya bagi bisnis Boeing. Bukan Lion Air saja yang berada dalam posisi sulit akibat insiden ini. Maskapai konsumen 737 Max 8 lainnya juga dalam posisi kebimbangan.

Virgin Australia salah satunya. Maskapai ini tengah menantikan hasil penyelidikan jatuhnya JT610 untuk menentukan apakah akan tetap melanjutkan pemesanan atau membatalkannya. Virgin diketahui memesan sebanyak 40 pesawat Boeing 737 Max.

737 Max diklaim Boeing sebagai salah satu model paling larisnya. Setidaknya ada 76 maskapai di seluruh dunia yang sudah meneken perjanjian jual beli untuk untuk model ini—meski tipenya mungkin berbeda. Data yang dimiliki Quartz menyebut, Boeing juga menerima 878 pemesanan dari pelanggan tak teridentifikasi.

Artinya, jika Lion Air benar membatalkan pemesanan—dan diikuti maskapai lain, maka bukan tak mungkin bisnis Boeing akan amburadul. Meski besar kemungkinan pembatalan pesanan dalam jumlah masif tidak akan dikabulkan perusahaan.

Terlepas dari benar atau tidaknya ancaman pembatalan pemesanan, Rusdi memang memiliki tugas besar untuk mengembalikan kepercayaan publik, salah satunya dengan memilih jenis pesawat teraman yang bisa digunakan maskapainya.

Rusdi sebaiknya tak lagi menjawab tanya tentang mengapa lebih memilih Boeing daripada Airbus dengan enteng seperti ketika ditanyakan CNN, tujuh tahun silam, “Sebenarnya tak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara Boeing dan Airbus. Ini seperti selera ketika orang mau memilih makanan satu dengan lainnya.”

BACA JUGA