SEJARAH INDONESIA

107 tahun Amir Hamzah, penyair yang dipancung

Seorang algojo mendatangi putri korbannya. Ayahanda si putri adalah Amir Hamzah, pejabat setara camat, yang ia penggal kepalanya beberapa tahun sebelumnya. Ijang Widjaja, algojo itu, juga menjarah harta Kesultanan Langkat, Sumatra Utara. Di sanalah rumah keluarga besar Amir Hamzah, sastrawan Pujangga Baru.

Salah satu yang Ijang ambil adalah sebentuk cincin. Ia yakin gara-gara cincin itu anaknya tak memiliki keturunan. Kepada Tengku Tahura, putri almarhum Amir Hamzah, Ijang meminta maaf.

Setelah menghalau Ijang, Tahura menjelaskan kepada putrinya, Rina, bahwa lelaki yang telah ia maafkan itu memenggal kepala Amir karena, "Dia disuruh orang. Kalau dia tidak mau, keluarga Ijang Widjaya yang dibunuh." (Tempo, 20/8/2017).

Hari ini, Rabu 28 Februari 2018, adalah tepat 107 tahun kelahiran Amir. Banyak sisi dalam kehidupannya, dan salah satu episode menempatkannya sebagai pengkhianat musuh rakyat.

Huru-hara revolusi sosial di Sumatra Timur, tak sampai setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, menjemput ajal Amir. Kepalanya dipancung di kebun pisang.

Artikel terbaru, yang lengkap perihal Amir, adalah edisi khusus majalah Tempo, "Paradoks Amir Hamzah", yang penggalan ceritanya tercuplik di atas.

Adapun buku lama perihal sang penggubah puisi "Padamu Jua" itu antara lain ditulis oleh Nh. Dini. Terbit pertama pada 1981, Amir Hamzah Pangeran dari Seberang diterbitkan ulang pada 2011, juga oleh Gaya Favorit Press, Jakarta.

Amir adalah salah satu pengusul agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan di wilayah Hindia Belanda.

Pada masa kolonial. kaum terpelajar sering bercaka-cakap dalam bahasa Belanda. Tapi Amir tidak. Meski mampu, dan tentu fasih hollands spreken, ia memilih berbicara dalam bahasa Melayu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR