PASAR SAHAM

Anak muda menguasai pasar modal Indonesia

Para pelajar melihat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9).
Para pelajar melihat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9). | Sigid Kurniawan /Antara Foto

Siapa bilang milenial hanya bisa jajan kopi? Nyatanya kini anak muda semakin menguasai pasar modal Indonesia seiring minat mereka untuk berinvestasi.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), generasi milenial berusia 21-30 tahun mendominasi investor ritel di pasar modal Indonesia tahun ini. Investor muda menguasai 39,72 persen dari total investor pasar modal yang berjumlah 1,6 juta investor, atau sekitar 635.000 investor.

Hal ini terlihat dari kepemilikan single investor identification (SID). SID adalah kode tunggal yang diterbitkan KSEI untuk digunakan pemodal dalam melakukan transaksi efek atau layanan lainnya seperti saham, surat utang, reksa dana, surat berharga negara, dan sebagainya.

Sementara jumlah investor yang berusia 31-40 tahun hanya menguasai sekitar 25,34 persen, investor berusia 41-50 tahun mencapai 18,69 persen, investor berusia 51-60 tahun 10,69 persen, dan investor berusia di atas 60 tahun 5,56 persen.

Jumlah investor milenial tahun ini meningkat signifikan dibandingkan 2017. Tahun lalu persentase investor milenial mencapai 26,2 persen dari total investor pasar modal yang berjumlah 1,1 juta investor. Jadi, jumlah investor milenial tahun lalu hanya sekitar 288.000 orang.

Data KSEI mencatat bahwa jumlah tersebut terdiri dari investor saham, surat utang, reksa dana, Surat Berharga Negara (SBSN), dan efek lain.

Menurut Direktur Utama KSEI, Friederica Widyasari, salah satu peningkatan jumlah anak muda di pasar modal tersebut adalah dorongan perkembangan teknologi pasar modal yang semakin mempermudah investor untuk melakukan investasi.

"Perkembangan teknologi di pasar modal yang kian maju sehingga memudahkan anak muda generasi milenial melakukan investasi. Kalau dulu, orang harus telepon broker-nya. Sekarang, pakai telepon genggam sudah bisa jual-beli saham" ujarnya dalam keterangan pers, dikutip Jumat (28/12/2018).

Salah satu teknologi yang berkembang dan mampu merangsang keinginan anak muda berinvestasi adalah kehadiran teknologi finansial (fintech), khususnya memudahkan mereka berinvestasi di reksa dana. Selain itu, gencarnya sosialisasi yang dilakukan pihak self regulatory organization (SRO) bursa juga mampu menjaring para investor muda.

Teknologi juga membantu pemerintah dalam memasarkan surat berharga Savings Bond Ritel (SBR) yang menyasar anak muda. Tahun ini, SBR dipasarkan secara daring atau online untuk pertama kalinya. Hal ini memudahkan pemerintah dalam memasarkan dan menerbitkan instrumen ini dua kali.

Tak tangung-tanggung, pemerintah meraup dana senilai Rp10 triliun lewat penjualan dua seri SBR; SBR003 dan SBR004, tahun ini.

Secara total, jumlah investor pasar modal Indonesia meningkat 44,06 persen menjadi 1,6 juta per 26 Desember 2018 dibandingkan dengan Desember tahun sebelumnya.

Mayoritas investor pasar modal Indonesia berasal dari kalangan dengan pendidikan S1 sebesar 51,42 persen. Sementara investor dengan pendidikan SMA menyumbang 34 persen dan kalangan pendidikan S2 hanya menyumbang 6,20 persen.

Investor paling banyak datang dari Jawa dengan porsi 73,50 persen. Disusul, Sumatra 14,49 persen, Kalimantan 4,47 persen, dan Sulawesi 3,50 persen. Lalu, porsi dari Bali, NTT dan NTB sebanyak 2,87 persen. Sementara, Maluku dan Papua sebanyak 1 persen.

Demografi investor berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan dan pekerjaan.
Demografi investor berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan dan pekerjaan. | Kustodian Sentral Efek Indonesia /KSEI

Kendati begitu, partisipasi investor ritel di Indonesia tergolong paling rendah di antara negara-negara Asia. Jumlah investor individu di pasar modal hanya mencapai 1,6 juta atau 0,38 persen dari 260 juta penduduk Indonesia secara keseluruhan.

Apabila diadu dengan negara tetangga, jumlah Indonesia kalah dari Malaysia dan Singapura yang memiliki 2,49 juta investor dan 2,5 juta investor pada tahun lalu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR