KESEHATAN

Ancaman bakteri super pada 2050

Ilustrasi bakteri super (superbug).
Ilustrasi bakteri super (superbug). | Pixabay

Bakteri super (superbug) belakangan menjadi salah satu isu kesehatan di dunia. Bakteri yang membawa ancaman besar ini adalah sekumpulan bakteri yang berhasil bermutasi menjadi lebih kebal terhadap antibiotik.

Alhasil, antibiotik yang ada saat ini sulit atau bahkan tidak mampu untuk membunuh bakteri-bakteri tersebut. New Strait Times memberitakan bahwa jutaan penduduk Eropa, Amerika Utara, dan Australia kini terancam infeksi bakteri super tersebut.

Peringatan tersebut dilayangkan oleh Organisasi Kerjasama Pembangunan Ekonomi Eropa (OECD). Rabu (7/11/2018), OECD memperingatkan adanya konsekuensi-konsekuensi buruk pada kesehatan publik dan anggaran kesehatan akibat bakteri super.

Mereka pun menuntut pemerintah negara-negara Eropa untuk meningkatkan standar kebersihan di rumah sakit dan mengurangi penggunaan antibiotika pada pasien.

Menurut data terbaru terbitan The Lancet, lembaga penerbit jurnal medis terkenal, 33.000 orang di seluruh Eropa meninggal tiap tahunnya akibat bakteri super. Pada 2015, Italia menjadi negara teratas di Eropa yang paling terancam oleh bakteri super dengan tingkat kematian mencapai 10.762 orang.

Selain itu, OECD juga memprediksi korban jiwa akibat bakteri super akan semakin meningkat pada tahun 2050. Korbannya diprediksi bisa meningkat hingga 2,4 juta orang.

Adapun anggaran yang diperlukan untuk meredam wabah tersebut akan berada di kisaran 3,5 triliun euro per setiap negara.

Michele Cecini, pimpinan kesehatan publik OECD mengatakan kepada AFP bahwa negara-negara Eropa sudah menghabiskan rerata 10 persen dari anggaran perawatan kesehatan mereka untuk mengobati infeksi bakteri yang resisten (kebal) terhadap antibiotik atau resistansi antimikroba (AMR).

"Biaya AMR lebih besar daripada flu, tuberkulosis, bahkan HIV. Dan biayanya lebih besar jika para negara tidak melakukan tindakan untuk mengatasi masalah ini," katanya.

OECD pun menyebut Indonesia juga terancam bakteri super karena termasuk negara yang paling rajin melibatkan antibiotika untuk keperluan medis atau untuk kesehatan hewan di sektor peternakan. Akibatnya, muncul jenis bakteri baru yang kebal terhadap obat-obatan yang didesain untuk membunuhnya.

Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, resistensi terhadap bakteri super memang sudah tinggi. Sebut saja di Brasil dan Rusia, 60 persen lebih infeksi bakteri sudah resisten terhadap setidaknya satu antibiotik.

Ahli kesehatan masyarakat dan biosecurity University of Minnesota, AS, Dr. Michael Osterhol, kepada Kumparan mengatakan ada dua masalah kesehatan yang perlu menjadi perhatian para ahli medis dan masyarakat di Indonesia.

Pertama, menurut Osterholm, adalah pentingnya untuk menekankan isu keamanan kesehatan global dan yang kedua adalah mengenai mutasi mikroba yang menyebabkan penyakit.

Mutasi mikroba yang terjadi pada beberapa bakteri menyebabkan mikroorganisme tersebut menjadi resisten alias kebal terhadap obat-obatan.

Adapun laporan OECD muncul setelah pejabat kesehatan di Inggris meluncurkan kampanye untuk mencoba mencegah orang-orang meminta obat jika tidak perlu.

Pada The Guardian (7/11), Kementerian Kesehatan Publik Inggris mengatakan antibiotik sangat penting untuk mengobati infeksi bakteri yang serius. Namun sering kali, obat-obatan itu diresepkan hanya sekadar untuk batuk, sakit tenggorokan, dan sakit telinga yang biasanya bisa membaik sendiri tanpa harus mengonsumsi obat.

Kampanye terbaru Kementerian Kesehatan Inggris ini mengingatkan masyarakat bahwa jika mereka merasa tidak sehat, tidak selalu membutuhkan antibiotik.

Tim Jinks, kepala program prioritas infeksi yang kontra terhadap obat antibiotik Wellcome Trust, mengatakan bahwa Laporan OECD terbaru ini menawarkan wawasan penting tentang bagaimana metode pengawasan, pencegahan, pengendalian yang sederhana, hemat biaya tapi dapat menyelamatkan kehidupan secara global.

“Obat antibiotik sedang meningkat di seluruh dunia dan merupakan ancaman mendasar bagi kesehatan dan pembangunan global. Laporan ini memberikan bukti lebih lanjut bahwa berinvestasi untuk mengatasi masalah sekarang akan menyelamatkan jiwa dan memberikan hasil yang besar di masa depan," pungkasnya.

Peringatan dari OECD bukan yang pertama terkait ancaman AMR. Pada 2016, studi buatan ekonom Inggris, Jim O'Neill, sampai pada kesimpulan bahwa kegagalan dalam menangani AMR akan menyebabkan 10 juta kematian setiap tahun. Pada 2050, biayanya bisa mencapai 100 triliun dolar AS.

BACA JUGA