BENCANA ALAM

Ancaman bencana bisa rugikan Indonesia ratusan triliun

Seorang bocah melintas di pantai Gampong Jawa, Banda Aceh, Aceh, Rabu (7/2/2018). Sebagai daerah yang rawan bencana, perekonomian Indonesia sangat rentan goyang oleh bencana.
Seorang bocah melintas di pantai Gampong Jawa, Banda Aceh, Aceh, Rabu (7/2/2018). Sebagai daerah yang rawan bencana, perekonomian Indonesia sangat rentan goyang oleh bencana. | Irwansyah Putra /Antara Foto

Indonesia berpotensi kehilangan hingga Rp405 triliun karena ancaman sejumlah bencana. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, gempa di Indonesia bisa berpotensi bisa melenyapkan 3 persen GDP (Gross Domestic Bruto), sekitar US$30 miliar atau setara Rp405 triliun.

Dalam rapat kerja bersama Gubernur Seluruh Indonesia di Jakarta, Rabu (7/2/2018) Sri menjelaskan, akibat bencana alam di Aceh, Yogyakarta, dan beberapa daerah lain, banyak infrastruktur rusak.

Tsunami di Aceh, pada 2004 menelan biaya US$4,5 miliar. Saat Yogyakarta diguncang gempa, provinsi itu kehilangan 30 persen GDP-nya.

Sri Mulyani mengatakan, bencana alam dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia secara signifikan.

Daerah-daerah di Indonesia, sangat kental dengan bencana. Rata-rata indeks bencana nasional mencapai 156,3 persen. Sedangkan indeks risiko bencana yang diukur dari 136 kabupaten/kota lebih tinggi, 169,5 persen.

"Daerah-daerah itu, 21 ada di Sumatera, 18 di Kalimantan, 32 di Jawa, 24 Sulawesi, 19 di Bali dan Nusa Tenggara, 12 di Maluku dan Maluku utara dan 10 di Papua dan Papua barat," tutur Sri Mulyani, seperti dikutip dari detikfinance.

Grafik potensi bencana di sejumlah daerah di Indonesia.
Grafik potensi bencana di sejumlah daerah di Indonesia. | Lokadata /Beritagar.id

Dengan posisi yang menjadi tempat pertemuan lempeng tektonik yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, menjadikan Indonesia akrab dengan bencana.

"Potensi terjadinya bencana alam, seperti banjir dan gempa bumi harus menjadi perhatian bersama. Tidak seharusnya surprise terhadap bencana," kata Sri seperti dinukil dari Katadata.co.id.

Oleh sebab itu, menurut Sri Mulyani, siapapun gubernur atau presidennya, akan menghadapi kenyataan Indonesia memiliki risiko bencana alam yang tinggi.

Jalan yang harus ditempuh bukan menghindari bencana, namun menurunkan risiko akibat bencana. "Ini perlu kerja bersama, tidak mungkin ada di satu Kementerian atau daerah (saja)," tutur Sri Mulyani.

Maka, Sri meminta pemerintah daerah memaksimalkan penggunaan anggaran dalam menanggulangi bencana. Perencanaan pembangunan infrastruktur juga harus memasukkan faktor mitigasi risiko bencana alam.

"Kita harus hidup dengan memasukkan potensi risiko ini hadir di negara ini dan bagaimana mendesain program pembangunan yang resilient (kuat dan lentur)," kata dia

Tahun lalu, kerugian karena bencana mencapai Rp30 triliun.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kerugian ekonomi akibat bencana di Indonesia diperkirakan sedikitnya mencapai Rp30 triliun selama 2017.

"Jumlah ini di luar bencana-bencana yang besar," ujarnya, Kamis (21/12/2017) seperti dikutip dari Republika.co.id.

Dari beberapa data kerugian akibat bencana yang sudah dilakukan penghitungan tercatat sekitar Rp12,94 triliun.

Kerugian paling besar terjadi saat bencana erupsi Gunung Agung, Bali, November lalu yang mencapai sekitar Rp11 triliun. Akibat gunung Agung batuk-batuk, kredit macet diperkirakan mencapai Rp2 triliun. Selain itu, Rp9 triliun karena seretnya aktivitas ekonomi dan pariwisata.

Selain itu, gempa dan bencana di daerah lain juga membuat banyak kerugian material dan korban jiwa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR