Anggota TNI, dari korban hingga tameng Dimas Kanjeng

Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng, tersanga otak pembunuhan santrinya. "Santri" yang dibunuh, konon hendak membocorkan modus penipuan berbalut penggandaan uang di Padepokan Dimas Kanjeng.
Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng, tersanga otak pembunuhan santrinya. "Santri" yang dibunuh, konon hendak membocorkan modus penipuan berbalut penggandaan uang di Padepokan Dimas Kanjeng. | Istimewa /YouTube

Pembunuhan terhadap Abdul Gani, mantan pengikut Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng, ikut menyeret oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Selain Taat Pribadi, kasus yang berakar pada aktivitas Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Probolinggo, Jawa Timur itu, sudah punya delapan tersangka. Mereka adalah WW, WD, AS, KD, BN, RD, MD, EY, dan AP.

Di antara tersangka ada seorang prajurit aktif TNI, dan tiga bekas anggota TNI. Mereka disebut pula menjadi anggota "Tim Pelindung Dimas Kanjeng".

"Tiga mantan perwira TNI itu sudah dipecat (dari TNI) sebelum bergabung dengan Dimas Kanjeng," kata Kepala Sub-Direktorat III Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur, Ajun Komisaris Besar Taufik Herdiansyah, dilansir Kompas.com (20/9).

Para deserstir TNI itu diduga terlibat dalam pembunuhan Abdul Gani atas perintah Taat Pribadi. Menurut Taufik, untuk menjalankan misinya, para pelaku mendapat imbalan total Rp320 juta, masing-masing menerima Rp30 juta hingga Rp40 juta.

Adapun seorang prajurit aktif yang menjadi tersangka adalah RD. Dia berpangkat Sersan Kepala (Serka), tergabung dalam TNI AU Abdulrachman Saleh.

Komandan Lanud Abdulrachman Saleh, Marsekal Pertama Djoko Senoputro, mengakui hal tersebut. Djoko mengatakan, RD mulanya sekadar "santri" sekaligus korban penipuan Dimas Kanjeng. Dalam kasus pembunuhan, RD berperan sebagai sopir, yang membuang mayat Abdul Gani di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri.

Merujuk penyelidikan kepolisian, pembunuhan Abdul Gani terjadi pada 13 April 2016. Atas perintah Taat Pribadi, para tersangka mengundang korban berkunjung ke Padepokan Dimas Kanjeng. Mereka menjanjikan akan memberikan uang sebesar Rp130 juta kepada korban.

Di sebuah ruangan padepokan itulah Abdul dihabisi. Kepalanya ditutup tas plastik, dan mendapat pukulan benda tumpul seperti pipa besi dan batu. Setelah tewas, jenazah Abdul dibuang di sekitar Waduk Gajah Mungkur. Pada 14 April 2016, warga menemukan jenazah itu dan melapor ke polisi.

Dalam catatan kepolisian, Abdul adalah saksi kunci atas laporan penipuan di Padepokan Dimas Kanjeng, yang sudah masuk ke Mabes Polri. Kasus penipuan itu berkait dengan iming-iming penggandaan uang yang dijanjikan Taat Pribadi.

Mengklaim punya kesaktian, Taat Pribadi mengaku bisa bikin uang berlipat ganda, untuk mereka yang bergabung sebagai "santri" di padepokannya. Ilustrasinya, bila seorang "santri" menyetor Rp5 juta, maka bisa tergandakan hingga Rp50 juta dalam waktu lima tahun. Angka menggiurkan, yang tak terjangkau oleh investasi berisiko tinggi sekalipun.

Anggota TNI juga korban penipuan

Ihwal keterlibatan anggota TNI dalam kasus ini, Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI I Made Sukadana mengatakan pihaknya tidak akan menutupi. "Tidak ada yang ditutupi, apakah mereka masih aktif di TNI atau pecatan," kata Sukadana, dikutip Antara News (1/10).

Sukadana menjelaskan, mantan anggota ataupun anggota TNI yang terlibat di Padepokan Dimas Kanjeng difungsikan menjadi tameng agar Taat Pribadi disegani orang.

Kata tameng itu, merujuk pula pada sebuah regu pengamanan, yang konon dinamai "Tim Pelindung Dimas Kanjeng". Dilansir detikcom, regu itu beranggotakan 20 orang. Mereka terdiri dari 14 anggota TNI aktif dan 4 desertir. Dua orang lainnya berasal dari Polri.

Agaknya, keterlibatan anggota TNI dan Polri itu pula yang bikin polisi mesti menurunkan enam Satuan Setingkat Kompi Brimob Polda Jatim, guna meringkus Taat Pribadi, pada pekan lalu.

Sukadana juga mengakui bahwa ada anggotanya yang menjadi korban dalam aktivitas Padepokan Dimas Kanjeng. Salah seorang korban konon punya pangkat kolonel--jenjang tertinggi di jajaran perwira menengah.

"Ketua yayasannya saja, Bu Marwah itu profesor, bisa ikut. Tentara apalagi, gaji kita kurang, kalau diiming-imingi seperti itu, wajar tergiur," kata jenderal bintang satu itu, dilansir Viva.co.id.

Danlanud Abdulrachman Saleh, Marsekal Pertama Djoko Senoputro pun mengatakan ada empat anggotanya yang menjadi korban penggandaan uang oleh Taat Pribadi.

"Kami sudah meminta keterangan mereka dan menjelaskan justru tertipu sampai puluhan juta," kata Djoko, dikutip detikcom. "Mereka sudah setorkan uang, karena iming-iming bisa berlipat ganda."

Djoko mengatakan pihaknya akan ikut membantu proses pengembalian uang dari keempat anggotanya yang jadi korban penipuan. Namun, bila mereka terindikasi melanggar ketentuan hukum, maka akan ditindak sesuai aturan yang berlaku.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR