Angka eksekusi mati 2015 naik tajam

Ilustrasi hukuman mati
Ilustrasi hukuman mati | Patrick Feller/CC BY 2.0 /Flickr

Jumlah mereka yang dihukum mati pada 2015 mencatatkan rekor tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Menurut data yang disampaikan oleh Amnesty International, setidaknya 1.634 orang mesti menjalani eksekusi mati di 25 negara, kenaikan cukup signifikan dibandingkan dengan data tahun sebelumnya yang mencapai 1.061 eksekusi di 22 negara.

Sebagian besar pelaksanaan hukuman berlangsung di Tiongkok, Iran, Pakistan, Arab Saudi, dan Amerika Serikat dengan negeri yang disebut pertama sebagai pelaksana eksekusi terbanyak. Namun, masalahnya, data pasti mengenai eksekusi mati di Tiongkok sulit didapatkan karena pemerintah setempat menganggapnya sebagai rahasia negara. Angka yang diumumkan oleh Amnesty International tidak mencakup eksekusi yang terjadi di Tiongkok.

Mengesampingkan Tiongkok, nyaris 90 persen pengamalan hukuman bertempat di Iran, Pakistan, dan Arab Saudi.

Meski jumlah negara yang melakukan eksekusi pada 2015 bertambah dari yang tercatat pada 2014, figur itu telah menurun ketimbang pelaksana eksekusi pada 1996 yang mencapai 39 negara.

Laporan Amnesty International mengungkapkan bahwa empat negara - Fiji, Madagaskar, Republik Kongo, dan Suriname - memberikan pengampunan mati untuk semua tindak pidana. Secara keseluruhan, 102 negara melakukan hal demikian. Pada 2015, Mongolia pun meluluskan undang-undang pidana baru yang menghapus hukuman mati.

Dari jumlah termaksud di 2015, sekitar sembilan orang berusia kurang dari 18 tahun saat melakukan kejahatan yang dituduhkan dan menjalani eksekusi di tahun tersebut. Empat eksekusi dilangsungkan di Iran dan lima lainnya di Pakistan.

Dalam urusan peringkat, Iran berada di posisi kedua karena telah mengeksekusi setidaknya 977 orang pada 2015, yang sebagian besar bertaut dengan kejahatan narkotika. Jumlah itu naik dari 743 orang pada 2014.

Posisi selanjutnya dikuasai Pakistan. Negara itu mengambil jalan eksekusi mati begitu moratorium eksekusi terhadap warga sipil dicabut pada Desember 2014. Setidaknya, 326 orang mati di tiang gantungan tahun lalu.

Eksekusi di Arab Saudi meningkat hingga 76% pada 2015 dibandingkan dengan 2014. Banyak hukuman dilakukan dengan cara memancung. Namun, ada pula pesakitan yang dihadapkan dengan juru tembak.

Amerika Serikat ada di peringkat kelima. Jumlah orang yang dieksekusi mati mencapai 28 pada 2015.

Indonesia ada di peringkat ke-9. Pemerintah pada 2015 mengeksekusi 14 orang yang seluruhnya tersangkut kejahatan narkoba. Beberapa di antaranya adalah warga negara Australia.

Juru bicara Amnesty International di Australia, Rose Kulak, menyayangkan kebijakan Presiden Joko Widodo mencabut moratorium sementara hukuman mati di Indonesia. "Ada 46 terpidana mati baru, dan dua per tiga dari mereka berkenaan dengan (kejahatan) narkoba," ujarnya dikutip ABC.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR