Angka pengangguran turun, sektor informal masih mendominasi

Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan mebel berbahan kayu jati di sebuah industri furnitur di Demak, Jawa Tengah, Senin (7/11/2016).
Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan mebel berbahan kayu jati di sebuah industri furnitur di Demak, Jawa Tengah, Senin (7/11/2016). | Aji Setyawan /ANTARAFOTO

Jumlah pengangguran di Indonesia berhasil turun sebanyak 530.000 orang. Penurunan jumlah itu tercermin dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus sebesar 5,61 persen, turun dari periode yang sama di 2015 yang tercatat sebesar 6,18 persen.

Tingkat pengangguran tersebut mengartikan dari 100 pekerja terdapat sekitar lima hingga enam pengangguran. Jika dibandingkan kondisi setahun yang lalu TPT mengalami penurunan sebesar 0,57 persen poin.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut berkurangnya pengangguran ini didorong oleh beberapa sektor lapangan pekerjaan yang mengalami kenaikan. Beberapa di antaranya adalah sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi yang naik 9,78 persen atau terserap sebanyak 500.000 orang.

"Kenaikan di sana bahwa terjadi angkutan ojek motor kemudian angkutan bermotor. Dua hal itu berpengaruh. Di DKI kenaikan tertinggi untuk ojek online tadi," ujar Kepala BPS, Suhariyanto dalam detikcom, Senin (7/11/2016).

Dari pola yang ada hingga saat ini, TPT di perkotaan selalu lebih tinggi daripada di daerah pedesaan. TPT perkotaan tercatat sebesar 6,6 persen, dan pedesaan sebesar 4,51 persen. TPT perkotaan maupun pedesaan mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,71 persen dan 0,42 persen.

Adapun kota-kota yang tercatat memiliki TPT tinggi antara lain Banten (8,92 persen), Jawa Barat (8,89 persen), Kalimantan Timur (7,95 persen), Kepulauan Riau (7,69 persen), dan Aceh (7,57 persen).

TPT untuk pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan menempati posisi tertinggi sebesar 11,11 persen, disusul oleh TPT Sekolah Menengah Atas sebesar 8,73 persen. Sementara TPT terendah terdapat pada tingkat pendidikan SD ke bawah yaitu sebesar 2,88 persen.

Salah satu faktor yang menyebabkan TPT terendah pada tingkat SD ke bawah dikarenakan mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apapun, sementara mereka yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memilih pekerjaan yang sesuai.

Dari data BPS diketahui angkatan kerja dan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Agustus 2016 mencapai 125,44 juta orang angkatan kerja, terdiri dari 118,41 juta orang penduduk bekerja dan 7,03 juta orang penganggur.

TPAK menggambarkan persentase penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang berpartisipasi aktif di pasar kerja. TPAK yang sebesar 66,34 persen diartikan bahwa dari 100 penduduk usia kerja terdapat sekitar 66 orang yang berpartisipasi aktif di pasar kerja.

Sayangnya, partisipasi di pasar kerja masih menunjukkan adanya kesenjangan antara penduduk laki-laki dan perempuan. TPAK laki-laki tercatat sebesar 81,97 persen, sementara TPAK perempuan hanya 50,77 persen.

Di sisi lain, struktur lapangan pekerjaan hingga Agustus 2016 tidak mengalami perubahan. Beberapa sektor seperti pertanian, perdagangan, jasa kemasyarakatan, dan industri masih menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja di Indonesia.

Peningkatan jumlah tenaga kerja, terutama di sektor jasa sebanyak 1,52 juta orang atau sekitar 8,47 persen, sektor perdagangan sebanyak 1,01 juta orang atau sekitar 3,93 persen, dan sektor transportasi sebanyak 500 ribu orang atau sekitar 9,78 persen.

Sementara sektor konstruksi berkurang sebanyak 230 ribu orang atau sekitar 2,8 persen.

Berdasarkan tingkat penyerapan kerja, pada Agustus 2016 tercatat 42,4 persen penduduk bekerja pada kegiatan formal dan 57,6 persen lainnya bekerja pada kegiatan informal.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS, Sukardi mengatakan, penurunan angka pengangguran dan kenaikan jumlah angkatan kerja tak terlepas dari perbaikan ekonomi Indonesia dalam kurun waktu setahun ini.

"Dari data Bappenas, setiap 1 persen pertumbuhan sekarang menyerap 265 tenaga kerja," ujarnya.

BACA JUGA