LION AIR JT610

Anomali rekam jejak penerbangan Lion Air B38M PK-LQP

Petugas Basarnas memetakan lokasi pencarian puing dan jenazah pascakecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di kapal KN SAR Jakarta Basudewa di perairan Karawang, Jawa Barat, Selasa (30/10/2018).
Petugas Basarnas memetakan lokasi pencarian puing dan jenazah pascakecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di kapal KN SAR Jakarta Basudewa di perairan Karawang, Jawa Barat, Selasa (30/10/2018). | Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Dalam tiga hari sejak 26 Oktober 2018, pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 (B38M) dengan nomor registrasi PK-LQP, menempuh perjalanan selama 23 jam 40 menit dalam 11 rute penerbangan, dari total 800 jam penerbangan yang sempat dijalani. Rekor pesawat berumur dua setengah bulan itu, terdapat sejumlah anomali.

Pada 29 Oktober 2018, pesawat ini tak menuntaskan perjalanannya dari Jakarta-Pangkalpinang (JT610) dan hilang kontak pada menit ke-11, sekitar pukul 06.31 WIB. Ia diperkirakan jatuh dengan kecepatan tinggi, di sekitar Tanjung Karawang, pantai utara Jawa Barat, 13 menit setelah lepas pandas.

Selama 11 rute penerbangan, pesawat ini "beristirahat" paling cepat selama 40 menit, usai mengangkasa selama 28 menit dari Denpasar ke Lombok (27/10). Paling lama, ia jeda selama 15 jam 10 menit, usai menempuh perjalanan 2 jam 7 menit dari Denpasar ke Manado (27-28/10).

Pesawat yang tiba di Indonesia pada 15 Agustus 2018 ini juga sempat menempuh rute internasional. Pada 26 Oktober 2018 pukul 02.02 WIB, misalnya, burung besi ini lepas landas dari Bandara Shanghai Pudong, Tiongkok menuju Denpasar, menempuh jarak 4.471 km. Pesawat ini take off lagi empat setengah jam kemudian menuju Manado.

Setelah jeda selama kurang lebih satu setengah jam, pesawat PK-LQP ini kembali terbang ke Negeri Tirai Bambu dengan rute penerbangan Manado-Tianjin berjarak tempuh 4.232 km selama 5 jam 38 menit. Terhitung 1 jam 41 menit kemudian, pesawat kembali ke Manado pada hari yang sama.

Jeda penerbangan bisa 30 menit atau lebih dari satu jam, tergantung dari standar operasional maskapainya. Selain itu, mempertimbangkan waktu bagi penumpang untuk turun atau naik ke pesawat, jenis penerbangan (domestik atau internasional), atau dalam rute penerbangan yang membutuhkan pergantian pesawat.

Dan tentu saja, pemeriksaan rutin yang bisa berupa transit check, termasuk di dalamnya visual preflight walk-around, atau pemeriksaan secara visual (secara kasatmata atau menggunakan alat bantu) untuk memastikan kondisi pesawat laik terbang.

"Ada daftar yang harus dicek, misal seperti flaps (bagian atas sayap pesawat) yang harus digerak-gerakkan,” kata pakar penerbangan sekaligus Mantan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Susanto, ketika dihubungi Beritagar.id pada Selasa (30/10/2018).

Data Flightradar24 yang diolah tim Lokadata Beritagar.id menunjukkan, jeda penerbangan PK-LQP cenderung normal, antara 40 menit hingga 15 jam. Jeda paling lama terjadi saat di Manado (27-28 Oktober), dan di Denpasar (28 Oktober).

Bila menilik pernyataan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, pesawat tersebut "baru" memiliki 800 jam terbang. Lazimnya, pesawat sudah menjalani A Check, jadwal perawatan rutin yang dilakukan setiap 400-600 jam penerbangan.

Perawatan rutin untuk semua jenis pesawat komersial ini memakan waktu kurang lebih 10 jam, misalnya untuk mengganti ban atau rem, minyak pelumas, dan lain-lain. Namun, belum diketahui apakah PK-LQP sempat menjalani perawatan dasar itu. Hingga tulisan ini diterbitkan, belum didapatkan jawaban dari pihak terkait.

Anomali data kecepatan

Melihat rekaman Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B) PK-LQP yang dirilis Flightradar24, pesawat ini pernah menempuh rute Denpasar-Jakarta sebanyak empat kali, sepanjang September hingga Oktober 2018.

Selama empat kali penerbangan Denpasar-Jakarta, pesawat ini membutuhkan waktu 18-23 menit untuk mencapai kondisi stabil usai lepas landas dengan kecepatan 450-490 knots dan ketinggian rentang 27 ribu kaki sampai 36 ribu kaki.

Pada penerbangan terakhirnya untuk rute JT043 ini, pesawat udara tersebut sempat mengurangi kecepatan sebelum berada pada kondisi stabil—hal yang tidak pernah terjadi dalam tiga penerbangan dengan rute dan pesawat yang sama.

Anomali data itu, diduga kuat karena ada masalah sebelum pesawat lepas landas di Denpasar, pada malam sebelum kecelakaan menimpa. Lion Air mengakui ada laporan mengenai masalah teknis, tetapi masalah itu sudah diatasi.

"Memang ada laporan mengenai masalah teknis dan masalah teknis ini sudah dikerjakan sesuai prosedur maintenance yang dikeluarkan oleh pabrikan pesawat," ujar Presiden Direktur Lion Air, Edward Sirait, dalam konferensi pers di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (29/10/2018).

Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ony Suryo Wibowo, menjelaskan pihaknya sudah menerima data dan mewawancarai pilot rute tersebut. Ony belum mau berkomentar, apakah ada dugaan indikasi pesawat tersebut tak layak terbang sejak penerbangan Denpasar-Jakarta, seperti dilaporkan Liputan6.com.

Menurut Ony, data yang mereka kumpulkan masih dalam proses verifikasi dan bersifat rahasia. Data belum bisa disampaikan karena baru sepihak, belum mengecek fakta dari black box yang merekam suara di kokpit dan semua pergerakan instrumen pesawat.

Belum separuh jalan

Dalam catatan perjalanan Flightradar24, pesawat PK-LQP sukses menjalani 354 penerbangan sejak 18 Agustus 2018. Rute Jakarta-Pangkalpinang dijalani dua kali, pada 30 Agustus 2018 dan 17 September 2018. Keduanya berangkat pada malam hari--berbeda dengan jadwal yang terakhir.

Rata-rata waktu yang ditempuh dalam dua perjalanan tersebut adalah 57 menit. Pada perjalanan bulan Agustus 2018, pesawat PK-LQP ini membutuhkan waktu 18 menit untuk mencapai titik stabil dengan kecepatan 442 knots dan ketinggian 26.575 kaki.

Pada perjalanan September 2018, pesawat ini membutuhkan waktu sekitar 17 menit untuk stabil di kecepatan 437 knots pada ketinggian 22.325 kaki.

Hal ini tak terjadi dalam penerbangan 29 Oktober 2018. Hingga pesawat hilang kontak, ketinggian pesawat bahkan tak mencapai 8.000 kaki. Di tengah perjalanan, kru sempat meminta kembali ke bandara, sayangnya pesawat telanjur jatuh.

“Tidak ada statement kesalahan mesin. Permintaan itu disetujui ATC (Air Traffic Controller) dan kemungkinan langsung berbalik kembali ke Jakarta,” tutur Kepala Otoritas Bandara Wilayah 1 Kelas Utama, Bagus Sunjoyo.

Terkait temuan ini, Elisa Valenta dari Beritagar.id sudah berupaya menghubungi Managing Director Lion Air Group, Daniel Putut. Namun, jawabannya tak menjelaskan kondisi tersebut. “Hasil penyelidikan sudah kami laporkan ke KNKT. Kami tunggu proses penyelidikannya,” demikian ujar dia.

BACA JUGA