PERANG DAGANG

Apa dampak perang dagang AS-Tiongkok bagi Indonesia

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dikelilingi pelaku usaha dan pejabat, saat hendak menandatangani memorandum tentang tarif properti intelektual atas barang-barang berteknologi tinggi dari Tiongkok di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, Kamis (22/3/2018).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dikelilingi pelaku usaha dan pejabat, saat hendak menandatangani memorandum tentang tarif properti intelektual atas barang-barang berteknologi tinggi dari Tiongkok di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, Kamis (22/3/2018). | Jonathan Ern /Antara Foto/Reuters

Amerika Serikat (AS) telah menabuh genderang perang dagang dengan Tiongkok. Presiden Donald Trump, Kamis (22/3/2018) waktu setempat telah menandatangani tarif baru buat impor baja dan aluminium dari Tiongkok.

"Kami memiliki masalah pencurian kekayaan intelektual yang luar biasa. Ini akan membuat kami menjadi negara yang jauh lebih kuat, lebih kaya," kata Trump seperti dipetik dari CNN.com.

Tarif baru ini diperkirakan akan memberi dampak perdagangan hingga US$50 miliar, atau sekitar Rp650 triliun. AS juga memberi sinyal akan memberikan batasan-batasan baru buat investasi Tiongkok di AS.

Tiongkok tak takut. Mereka justru membalas dengan mengajukan 128 produk AS yang bakal kena tarif baru. Tapi belum dijelaskan produk apa saja yang bakal kena tarif baru. Tahun lalu, impor Tiongkok dari AS mencapai US$30 miliar atau sekitar Rp400 triliun.

Bursa-bursa di dunia langsung memerah Jumat kemarin. Bursa Efek Indonesia salah satunya. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/3.2018) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,68 persen atau turun 43.380 poin.

Dana asing keluar dari bursa Indonesia. Investor asing melepas saham mereka di semua jenis pasar. Nilainya mencapai Rp1,06 triliun.

Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, tak perlu terlalu terburu-buru melihat dampaknya ke Indonesia. "Tentu yang mengalami dampak kan mereka berdua, karena mereka yang ambil langkah," ujar Darmin, Jumat (23/3/2018), seperti dinukil dari CNN Indonesia.

Sedangkan dampak bagi Indonesia akan yang beragam, baik negatif maupun positif. "Sebetulnya tidak usah jadi pusing, biarkan saja, karena itu kan lanjutan kebijakan yang lalu. Jadi ya kalau dampak tidak selalu negatif, ada saja positifnya," kata dia.

Darmin mengatakan bagi konsumen ini mungkin menguntungkan. Sebab, ada kemungkinan impor barang konsumsi Tiongkok yang dilarang AS akan menyerbu Indonesia. Sehingga harga barang menjadi lebih cukup murah.

Namun, bagi produsen, arus barang impor tentu membuat produsen dalam negeri ketar-ketir karena khawatir daya saingnya berkurang.

Jika arus impor barang dari Tiongkok masuk ke Indonesia, neraca perdagangan Indonesia dengan negeri asal Xiaomi itu akan makin defisit.

Neraca perdagangan adalah perbandingan ekspor impor dua negara. Jika defisit, maka berarti Indonesia lebih banyak impor dari Tiongkok dibanding ekspor ke Tiongkok.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan defisit neraca perdagangan nonmigas Indonesia terhadap Tiongkok tercatat US$13,89 miliar (Sekitar Rp140 triliun) sepanjang tahun 2017.

Tahun itu ekspor Indonesia ke Tiongkok senilai US$21,32 miliar, lebih kecil dibanding impornya US$35,51 miliar.

Senada dengan Darmin, Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menilai perang dagang itu bukan ancaman besar bagi Indonesia.

Tapi perang dagang yang meluas ke negara lain dan sektor lain. Fithra yakin Tiongkok akan mengalihkan pasarnya ke negara lain.

"Kan sudah diproduksi, jadi harus ada yang menyerap, oleh siapa? Ya pasar di Asean, salah satunya yang terbesar Indonesia," kata Fithra dalam diskusi di Jakarta, Sabtu, (24/3/2018) seperti dikutip dari Metrotvnews.com.

Tapi kebijakan proteksionisme Donald Trump ini bisa positif untuk pasar baja dan aluminium di Indonesia.

Setelah pengenaan tarif tinggi, negara pengekspor baja dan aluminium ke AS makin terbatas aksesnya, dan mencari pangsa pasar baru termasuk Indonesia. Kondisi ini akan membuat harga barang yang berbahan dasar baja dan aluminium di tanah air lebih kompetitif.

"Baja ini kan input atau proses perantara untuk industri selanjutnya. Sehingga, kemungkinan besar akan menurunkan ongkos produksi," tutur dia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR