Apa motif penyanderaan WNI di Papua?

Simulasi pembebasan sandera dan  latihan anti huru hara saat latihan rutin anggota polisi Brimob Polda Metro Jaya di Ciputat Banten, Juli 2006.
Simulasi pembebasan sandera dan latihan anti huru hara saat latihan rutin anggota polisi Brimob Polda Metro Jaya di Ciputat Banten, Juli 2006. | Arie Basuki /EPA

Dua warga Indonesia, Sudirman (28) dan Badar (20), disandera sekelompok orang yang mengaku dari Organisasi Papua Merdeka (OPM). Keduanya diketahui hilang saat menebang kayu di Skofra, Distrik Keerom, Papua, sejak 11 September lalu.

Keduanya diketahui diculik dan dibawa ke wilayah negara tetangga Indonesia, Papua Nugini.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayor Jenderal Endang Sodik membeberkan kronologi terjadinya penculikan itu. Peristiwa ini, kata dia seperti dikutip dari metrotvnews, bermula dari adanya kelompok separatis Papua bersenjata, Jefri Pagawak yang bergerak menuju tempat pengolahan kayu di Skofro, distrik Adi Timur, Kabupaten Keerom, Papua.

Sampai di tempat itu, melihat seorang penebang kayu asal Indonesia bernama Kuba. Melihat ada aktivitas, kelompok ini langsung menembak dua kali. Tembakan pertama tidak kena. Kuba pun menghentikan penebangannya. "Lalu kelompok ini menghampiri dan mengajak Kuba ke camp mereka. Di perjalanan, Kuba ditembak lagi dan tewas," kata Endang.

Tak puas dengan itu, kata Endang, kelompok ini juga memanah korban yang sudah tergeletak di jalan.

Aparat pun langsung turun ke tempat kerjadian perkara. Setelah TNI dan aparat kepolisian melakukan olah TKP ditemukan adanya empat penebang yang diserang oleh kelompok separatis tersebut. Mereka adalah Sarifuddin, Kuba, Sudirman dan Badar. "Sarifuddin berhasil kabur dan lapor ke Polres," ujarnya.
Karena lokasi penyanderaan di negara lain, Komando Daerah Militer Papua mengontak Konsulat Jenderal RI di Vanimo dan meminta bantuan Bupati Vanimo serta tentara PNG untuk membebaskan dua WNI yang disandera.

Menurut Kepla Bidang Humas Polda Papua Kombes Patrige, untuk membebaskan sandera itu pihaknya telah mengutus tiga tokoh warga Papua ke Vanimo, Papua Nugini. "Tapi sampai sore kemarin kami belum mendapat kabar dari perwakilan yang diutus ke Vanimo,"katanya seperti dikutip okezone.

Juru Bicara Organisasi Papua Merdeka Saul Bomay menyebut penyanderaan itu dipimpin oleh Lucas Bomay dari Dewan Komando Revolusi Militer OPM Republik Papua Barat.

Menurut Saul, penyanderaan dilakukan agar pemerintah mau menerima tawaran OPM untuk berunding dalam satu meja. Perundingan diminta dilakukan di luar negeri dengan dimediasi oleh negara ketiga yang independen.

Materi perundingan yang ingin dibicarakan OPM adalah soal solusi pemerintah untuk berbagai masalah yang ada di Papua.

Penyanderaan dilakukan karena kelompok OPM ingin bertukar dengan anggota mereka yang ditahan di Polres Keerom karena terlibat kasus penjualan ganja.

Namun menurut Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan penyanderaan dua warga Indonesia (WNI) itu hanya tindakan kriminal. " Tidak ada kaitan dengan masalah politik," katanya seperti dikutip CNNIndonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR