UANG ELEKTRONIK

Apa sebenarnya uang elektronik itu

Polisi menunjukkan sejumlah layanan 'Cashless Payment' untuk pembayaran SIM dan STNK di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (1/12/2018).   Uang elektronik bukan tabungan seperti produk perbankan. Maka, tak dijamin oleh LPS.
Polisi menunjukkan sejumlah layanan 'Cashless Payment' untuk pembayaran SIM dan STNK di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (1/12/2018). Uang elektronik bukan tabungan seperti produk perbankan. Maka, tak dijamin oleh LPS. | Zabur Karuru

Kabar Grab bakal mengakuisisi layanan uang elektronik DANA, dan akan menggabungkannya dengan digital payment OVO, bakal menjadikan Grab menjadi pesaing serius GoPay. Layanan digital wallet punya GoJek itu kini masih menjadi nomor wahid di Indonesia.

Uang elektronik memang makin marak di Indonesia. Menurut catatan Bank Indonesia, pada semester I 2019, nilai transaksinya melonjak hingga 171 persen dibanding semester I tahun sebelumnya.

Pada rentang Januari-Juni 2019, ada duit sebesar Rp56,1 triliun yang dipertukarkan dalam transaksi elektronik. Uang sebesar itu berpindah dalam 2,26 miliar kali transaksi. Tahun lalu, pada rentang yang sama, 'hanya' Rp20,66 triliun yang ditransaksikan secara elektronik, yang tersebar dalam 1,24 miliar transaksi.

Dengan nilai transaksi ini, tak heran banyak pelaku bisnis melirik uang elektronik. Data Bank Indonesia terakhir menunjukkan ada 38 penerbit uang elektronik di Indonesia.

Sebenarnya apa itu uang elektronik?

Kita kerap mendengar tentang digital payment, e-money, digital wallet, uang digital atau apapun namanya. Sejatinya, semua itu sama, hanya kerap disebut dengan nama berbeda. Prinsipnya, layanan ini mencatat kepemilikan uang dalam format digital, lalu mentransaksikan lewat jaringan internet.

Selama ini ada dua jenis uang elektronik. Yang berbasis cip dan berbasis server. Bank Indonesia, sebagai pengatur masalah uang di Indonesia, telah menerbitkan izin

Nah, uang elektronik yang berbasis cip ini biasanya diterbitkan oleh bank. Saldo itu disimpan dalam cip yang ada di dalam kartu. Contohnya, BCA punya Flazz, BNI ada Tapcash, BRI menerbitkan BRIZZI, Bank Mandiri mencetak E-Money atau lainnya. Uang ini bukan tabungan, seperti produk perbankan lain.

Sedangkan uang elektronik yang berbasis server adalah uang elektronik yang catatan kepemilikannya disimpan di dalam server. Jika anda menggunakan layanan GoPay, DANA, LinkAja, atau OVO, kepemilikan anda itu dicatat di dalam server. Bukan di dalam ponsel. Pengguna, mengaksesnya lewat ponsel atau aplikasi.

Sama seperti uang kertas, uang elektronik bisa digunakan untuk jual beli, terutama dalam transaksi elektronik.

Bagaimana jika uang elektronik hilang?

Untuk uang elektronik berbasis cip, dibedakan dua jenis. Pertama, kepemilikannya tak terdaftar (unregistered) dan yang kepemilikannya terdaftar (registered). Nah, untuk yang pertama, jika kartu anda hilang, maka uang anda juga ikut hilang.

Bank penerbit uang elektronik tak wajib mengganti uang anda yang lenyap. Sebab, kepemilikan uang ini tak bisa dipastikan. Itulah kenapa, maksimal uang elektronik unregistered hanya Rp2 juta. Sedangkan untuk yang registered, maksimal Rp10 juta. Sedangkan untuk uang elektronik berbasis cip yang registered, masih bisa diganti bank, karena kepemilikannya diketahui.

Sedangkan uang elektronik berbasis server, sulit hilang kecuali ada masalah dengan server, aplikasinya atau ada yang membelanjakan.

Kasus hilangnya saldo GoPay yang pernah terjadi, ternyata disebabkan masalah pada server. Atau saldo OVO pengguna Grab tiba-tiba menjadi 0, karena aplikasi yang bermasalah.

Sebab lain, ada yang membelanjakan saldo anda. Misal, ponsel anda hilang, lalu penemunya membelanjakan uang anda. Dalam kasus ini, OVO dan DANA meminta anda segera melaporkan jika anda kehilangan ponsel.

Saat ini, uang elektronik, baik yang berbasis cip maupun server, tidak dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Tapi LPS tengah mengkaji untuk menjamin uang elektronik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR