Apa yang harus diwaspadai dari krisis Deutsche Bank

Seorang pria berjalan di depan kantor Deutsche Bank, London.
Seorang pria berjalan di depan kantor Deutsche Bank, London. | Facundo Arrizabalaga /EPA

Laporan keuangan kuartal III-2016 Deutsche Bank mengejutkan banyak pihak. Bank swasta terbesar keempat di Jerman itu berhasil membukukan laba 278 juta Euro dalam jangka waktu sembilan bulan setelah kerugian sebesar 6 miliar Euro pada akhir pembukuannya di 2016.

Tak hanya berhasil membukukan laba, Deutsche Bank berhasil membalikkan rasio pengeluarannya yang mencapai lebih dari 110 persen menjadi 87 persen, dan rasio profitabilitas (perbandingan laba bersih dengan aset bersih) dari -8,8 persen menjadi 1,6 persen.

Kinerja ini, dalam berbagai standar, adalah kemajuan yang sangat besar.

Dalam rilis laporan keuangannya, CEO Deutsche Bank, John Cryan, menyebut kinerja perusahaannya pada kuartal ini menunjukkan kekuatan operasional bisnis perusahaan yang disumbangkan oleh kerja keras orang-orangnya.

Akan tetapi bangkitnya kinerja ini tidak mengartikan perusahaan sudah dalam kondisi yang stabil. Pengamat perbankan, Frances Coppola, menyebut Deutsche Bank masih sakit, dan jauh dari pemulihan.

"Rasio pengeluaran masih jauh dari stabil, dan rasio utang masih sangat rendah dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya. Dan yang paling utama adalah para pemegang saham belum menunjukkan sinyalnya untuk kembali," ujar Coppola dalam Forbes.

Kondisi keuangan Deutsche Bank menjadi sorotan dalam satu bulan terakhir setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) menjatuhkan denda USD14 miliar (sekitar Rp181,6 triliun) menyusul keputusan yang menyatakan bank ini bersalah dalam penjualan kredit perumahan murah (subprime mortgage) yang menjadi penyebab krisis keuangan AS pada 2008.

Kinerja keuangan yang memburuk membuat banyak pihak tak yakin Deutsche Bank mampu membayar denda yang dijatuhkan oleh AS tersebut. Apalagi, denda ini harus dilunasi oleh Deutsche Bank sebelum masa pemilu presiden AS berakhir, atau tepatnya sebelum 20 Januari 2017, saat presiden dan wakil presiden baru AS dilantik.

Deutsche Bank, yang berdiri pada 1870 untuk membantu sektor perdagangan Jerman, memang tercatat sebagai salah satu dari 10 bank terbaik di dunia dalam kategori pemberi fasilitas kredit.Tak ayal, Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut kasus Deutsche Bank ini sebagai bank yang paling berisiko di dunia.

Deutsche Bank semakin terdesak ketika pemerintah Jerman memutuskan tidak akan membantu bank ini keluar dari jeratan dendanya.

Pasalnya, pemerintah Jerman berkomitmen tidak akan memberi bantuan kepada bank yang bermasalah karena kesalahan manajemennya. Pemerintah Jerman sendiri hanya akan memberi bantuan sebatas melobi AS untuk meringankan denda.

Cryan menegaskan pihaknya tengah bekerja keras untuk mencari resolusi untuk masalah ini secepatnya, termasuk bernegosiasi dengan AS terkait pengurangan nilai denda.

Deutsche Bank kerap melakukan efisiensi perusahaan, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK). Dalam program PHK selanjutnya, Cryan menyebut akan ada 9.000 pekerja yang berstatus pegawai tetap, 6.000 kontraktor, dan 20.000 posisi lainnya akan dirumahkan.

Secara keseluruhan, Deutsche Bank telah memangkas 9.000 pekerjanya yang tersebar di seluruh dunia.

Jika program efisiensi ini tetap membuat Deutsche Bank tidak berhasil mengembalikan neraca keuangannya menjadi sehat, banyak yang menduga bank ini akan bernasib sama dengan Lehman Brothers Holdings, perusahaan pengelola keuangan AS terbesar keempat, yang harus menyatakan bangkrut pada 2008 karena kasus yang sama.

Dampak bagi Indonesia

Sebagai salah satu institusi pemberi kredit dan pengelola keuangan, krisis yang terjadi dalam tubuh Deutsche Bank turut menyeret kekhawatiran pelaku pasar dalam negeri.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut bank asal Jerman itu menguasai 42 persen dari seluruh kelolaan dana kustodian di Indonesia. Jumlah saham yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) atas nama Deutsche Bank dan kliennya mencapai 24,5 persen dari kapitalisasi pasar.

Sedangkan di pasar primer Surat Berharga Negara (SBN), Deutsche Bank rata-rata memenangi lelang sebesar Rp1 triliun atau 6,5 persen dari rata-rata hasil lelang.

Pihak OJK pun telah memanggil manajemen Deutsche Bank untuk menjelaskan duduk perkaranya. "Mereka kan bank SIB (systemically important bank) global. Tentu kami perhatikan agar tidak berdampak ke sini," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman Hadad, dalam beritasatu, pekan lalu.

Sebagai langkah antisipasi, OJK sudah mengatur permodalan yang harus dijaga oleh kantor cabang bank asing (KCBA) termasuk Deutsche Bank. Sesuai Surat Edaran OJK Nomor 26/SEOJK.03/2016 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Sesuai Profil dan Pemenuhan CEMA (dana usaha), setiap KCBA diwajibkan memenuhi CEMA minimum sebesar 8 persen dari total kewajiban setiap bulan.

Namun pada Desember 2017, KCBA yang beroperasi Indonesia wajib memiliki dana usaha (CEMA) minimal Rp1 triliun.

Deutsche Bank adalah salah satu KCBA yang telah memiliki dana usaha di atas Rp1 triliun. Ketentuan dana usaha yang wajib dimiliki bank asing tersebut dapat mengantisipasi risiko-risiko yang timbul terkait kegiatan usaha bank-bank tersebut.

"Mereka di sini banyak bisnis kustodian. Kami pikir akan ter-backup. Tapi kami terus pantau karena mereka masih negosiasi," tambah Muliaman.

Deputi Dewan Komisioner Pengawasan Bank II OJK, Budi Darmanto, menilai risiko dari krisis Deutsche Bank terhadap Indonesia perlu dilihat dari seberapa besar transaksi perbankan Indonesia dengan bank perkreditan terbesar di Jerman tersebut.

"Kalau kecil, saya kira sedikit pengaruhnya," kata Budi.

Pengamat ekonomi, Aviliani dalam ANTARA, menilai krisis di Deutsche Bank tidak akan memberikan dampak langsung ke Indonesia.

Namun, regulator industri keuangan harus meyakinkan tentang hal tersebut kepada pasar. Sehingga aliran dana asing dan investasi tetap mengalir dan tidak terhambat sentimen negatif dari krisis Deutsche Bank.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR