POLA KONSUMSI

Aplikasi order makanan ubah perilaku konsumen Indonesia

Suasana aktivitas masyarakat di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Senin (7/1/2019).
Suasana aktivitas masyarakat di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Senin (7/1/2019). | Dhemas Reviyanto /Antara Foto

Fenomena perubahan perilaku belanja sebagian masyarakat, dari semula rajin melakukannya di toko ritel secara langsung (offline), kini mulai bergeser ke pola belanja melalui aplikasi daring (online), semakin tegas. Perubahan tren gaya hidup ini pun menjadi faktor pendorong konsumsi dalam negeri pada tahun lalu.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, menyatakan kemudahan teknologi dan komunikasi yang berkembang belakangan ini telah mengubah pola konsumsi masyarakat khususnya soal makanan. BPS melihat kini masyarakat cenderung beli makanan jadi lewat aplikasi digital dibanding memasak sendiri atau pergi sendiri.

"Ada switching (peralihan) dalam perilaku konsumen rumah tangga ketika makanan jadi dapat diperoleh lewat berbagai aplikasi online menjadi salah satu penyebab," kata dia, dilansir dari Kompas.com, Kamis (7/2/2019).

BPS sudah memasukkan data pembelian makanan secara online dalam perhitungannya. Selain itu, BPS juga melakukan cross check data itu ke pelaku jasa serta melakukan survei dengan pertanyaan yang detail setiap bulan.

Fakta perubahan perilaku masyarakat tersebut dikuatkan oleh data konsumsi rumah tangga sepanjang 2018. Per akhir tahun, total konsumsi rumah tangga tumbuh 5,08 persen, lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2017.

Suhariyanto menjelaskan, peningkatan laju konsumsi rumah tangga tak lepas dari tumbuhnya sumber pendapatan masyarakat. Misalnya dari pendapatan tetap seperti Upah Minimum Provinsi (UMP) yang naik sekitar 8,17 persen pada tahun lalu. Lalu, meningkatnya aliran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah.

Pertumbuhan ini diiringi dengan pertumbuhan sektor transportasi dan komunikasi yang tumbuh 6,14 persen pada 2018 atau meningkat 5,04 persen dari periode yang sama pada 2017.

Namun yang menjadi perhatian, sepanjang 2018 tingkat konsumsi makanan dan minuman selain restoran justru menurun menjadi 4,81 persen dari 5,36 persen pada 2017. Suhariyanto mengindikasikan penurunan ini akibat masyarakat mulai berkurang membeli bahan makanan pokok dan beralih ke makanan jadi.

Perkembangan belanja penduduk.
Perkembangan belanja penduduk. | Lokadata /Beritagar.id

Dalam data yang diolah Lokadata Beritagar.id, kecenderungan konsumen membeli makanan jadi memang mulai meningkat dalam kurun 20 tahun terakhir. Kesibukan bekerja dan tuntutan hidup lainnya membuat waktu untuk memasak sehari-hari berkurang. Pada akhirnya, banyak orang yang beralih ke makanan instan dan cepat saji,

Dalam satu dekade terakhir, terjadi pergeseran pola belanja penduduk, khususnya belanja makanan jadi dan makanan pokok. Pada 2008, rata-rata uang yang dibelanjakan penduduk untuk membeli bahan makanan pokok untuk kemudian dimasak mencapai Rp39.013 per bulan, lebih besar dibanding belanja makanan jadi yang sebesar Rp34.616 per bulan.

Namun pada 2013 polanya berubah, biaya belanja makanan jadi lebih besar 1,3 kali dari belanja makanan pokok. Rasio ini semakin tinggi pada 2017, belanja makanan jadi sekitar dua kali lipatnya makanan pokok.

Perubahan pola konsumsi masyarakat inilah yang menjadi peluang bagi sejumlah perusahaan penyedia jasa antar makanan berbasis aplikasi.

Go-Food, layanan pesan antar makanan bagian dari ekosistem Go-Jek mengklaim mengalami peningkatan pesan jumlah pesanan sepanjang 2018. Tidak tanggung-tanggung, selama setahun, Go-Food telah berhasil mengirimkan lebih dari 500 juta makanan dan minuman.

Dari jumlah tersebut, ada lima menu teratas yang paling banyak dipesan masyarakat yakni menu ayam, nasi, mie, gorengan, dan martabak.

Jumlah porsi yang berhasil dijual selama 2018 adalah 16.676.241 porsi. Jarak antar Go-Food jika ditotal mencapai 624.971.059 km, atau 1.625,8 kali jarak Bumi ke Bulan.

Total transaksi (gross transaction value/GTV) Go-Food mencapai $2 miliar AS sepanjang 2018. Dengan begitu, Go-Jek mengklaim Go-Food adalah layanan pesan-antar makanan terbesar di Asia Tenggara.

Sementara itu, layanan pesan-antar makanan milik Grab, GrabFood, berharap mengalahkan Go-Food milik Go-Jek dan menguasai pasar pesan antar makanan di Tanah Air. Tahun lalu, kontribusi mitra Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap total transaksi Grab Food mencapai 80 persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR