Arab Saudi dan tudingan konspirasi 9/11

Sebanyak 2.977 bendera Amerika Serikat yang mewakili jumlah korban tragedi 11 September 2001 dikibarkan di Malibu, California, 11 September 2017
Sebanyak 2.977 bendera Amerika Serikat yang mewakili jumlah korban tragedi 11 September 2001 dikibarkan di Malibu, California, 11 September 2017
© Mike Nelson /EPA

Sabtu (9/9/2017), koran New York Post (NYP) mengeluarkan sebuah tajuk yang membuat gempar dunia.

Pada sebuah artikel yang juga muncul dalam versi daringnya, NYP meyakini bahwa Arab Saudi memiliki keterlibatan dalam serangan mematikan di menara kembar World Trade Center (WTC), 9 September 2011 9/11).

Artikel tersebut tidak secara lantang menyebut Arab Saudi adalah otak dari serangan tersebut. Hanya saja, Kedutaan Besar Arab Saudi di Amerika Serikat diyakini telah mendanai jaringan teroris Al-Qaeda untuk melakukan "dry run", dua tahun sebelum serangan terjadi.

Istilah dry run secara harfiah bisa diartikan sebagai uji coba materi pelatihan. Namun, dalam konteks serangan 9/11, dry run berarti kegiatan atau latihan persiapan menjelang pelaksanaan aksi teror.

Keterangan tersebut didapatkan berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh firma hukum Cozen O'Connor yang merupakan perwakilan 1.400 anggota keluarga korban yang menggugat kebenaran di balik tragedi ini.

Bunga-bunga diletakkan di sebelah utara monumen 9/11 di New York, Amerika Serikat, 11 September 2017.
Bunga-bunga diletakkan di sebelah utara monumen 9/11 di New York, Amerika Serikat, 11 September 2017.
© Justin Lane /EPA

Dalam penyelidikannya, Kedubes Arab Saudi dituding telah menanam dua warga negara Arab Saudi--diyakini terafiliasi dengan Al-Qaeda--untuk hidup di Amerika Serikat dengan penyamaran sebagai pelajar, untuk terbang dari Phoenix ke Washington dan melakukan dry run tadi.

"Sejak lama kami menduga bahwa Al-Qaeda memiliki hubungan yang sangat dekat dengan beberapa komponen penting dalam pemerintahan Arab Saudi," ujar Sean Carter, salah satu kuasa hukum penggugat.

Dugaan keterlibatan dua warga Arab Saudi dalam teori konspirasi penyerangan 9/11 sebenarnya bukan hal yang baru.

Sebuah dokumen yang diberi nama "Saudi Notes" dirilis oleh Interagency Security Classification Appeals Panel (ISCAP) pada 2015 membuka tabir atas dua pelajar Arab Saudi dengan identitas Mohammed al-Qudhaeein dan Hamdan al-Shalawi, itu.

Dokumen tersebut turut membenarkan bahwa Qudhaeein dan Shalawi bekerja dan menerima uang dari pemerintah Arab Saudi. Qudhaeein bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Agama Arab Saudi.

Kedua orang itu disebut pernah mengikuti pelatihan militer bersama Al-Qaeda di Afghanistan. Keduanya masuk ke AS pada 1999 dan kemudian tinggal di Arizona. Selama di Arizona, keduanya kedapatan sering membuat kontak dengan para pilot pembajak pesawat yang akhirnya ditabrakan ke menara kembar.

Gelagat aneh juga ditemukan pada Qudhaeein dan Shalawi ketika menumpang pesawat komersil dari Phoenix ke Washington pada November 1999. Keduanya berdalih menghadiri sebuah simposium yang diselenggarakan Institute for Islamic and Arabic Sciences yang diketuai oleh duta besar Arab Saudi untuk Indonesia.

Sebelum lepas landas, keduanya kerap menanyakan sejumlah pertanyaan teknis perihal penerbangan kepada kru pesawat.

Saat berada di udara, Qudhaeein berkilah pergi menuju toilet namun berbelok ke arah cockpit.

Tingkah aneh keduanya membuat pilot memutuskan untuk melakukan pendaratan mendadak di Ohio. Begitu mendarat, keduanya kemudian diperiksa oleh FBI. Karena kecurigaan tersebut tak membuktikan adanya kejahatan, agen federal pun membebaskan keduanya.

Di sisi lain, pemerintah Arab Saudi selalu membantah memiliki hubungan dengan teroris. Pengacara yang mewakili pemerintah Riyadh telah mengajukan mosi untuk menolak klaim tersebut. Penggugat harus menanggapi mosi tersebut pada bulan November 2017.

Kasus itu bisa masuk ke pengadilan setelah kongres menyetujui UU Keadilan Melawan Terorisme (JASTA).

Kongres kala itu mengenyampingkan veto dari mantan Presiden Barack Obama dan lobi dari pemerintah Saudi. Undang-undang tersebut mengizinkan korban dan keluarga korban untuk menuntut pemerintah asing di Pengadilan Federal AS.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.