MONETER

Arah kebijakan setelah The Fed naikkan suku bunga

Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, saat hendak mengumumkan kenaikan suku bunga untuk ketiga kalinya pada tahun ini, Washington DC, Rabu (26/7/2018).
Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, saat hendak mengumumkan kenaikan suku bunga untuk ketiga kalinya pada tahun ini, Washington DC, Rabu (26/7/2018). | Jim Lo Scalzo /EPA-EFE

Prediksi yang dinantikan benar terjadi. Hasil keputusan rapat pejabat Federal Reserve (The Fed) sepakat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 2 persen hingga 2,25 persen, Rabu (26/9/2018).

Keputusan kenaikan bank sentral Amerika Serikat (AS) ini adalah yang ketiga kalinya dalam satu tahun. Sejak tiga tahun terakhir, The Fed memang sedikit demi sedikit menaikkan suku bunganya alias Fed Fund Rate (FFR).

Jika ditotal, sepanjang periode itu The Fed sudah delapan kali menaikkan suku bunganya. Tujuan utamanya adalah The Fed berupaya mengembalikan suku bunga AS ke level normalnya sebelum krisis keuangan 2008 terjadi. Ketika itu, suku bunga The Fed berada di kisaran 5 persen.

Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan ekonomi AS saat ini sedang “cerah”, sehingga kenaikan suku bunga ini memungkinkan ekspansi ekonomi yang berkelanjutan sambil menjaga inflasi tetap di kisaran 2 persen.

Selain itu, The Fed perlu mengatur suku bunganya untuk menstimulasi ekonomi yang terlalu lemah pun menjaganya dari pergerakan yang terlalu agresif sehingga membawa level inflasi melaju di atas target.

“Aku dan seluruh jajaran The Fed berusaha semampunya untuk tetap menjaga ekonomi kuat, sehat, dan terus berlanjut,” kata Powell dinukil dari laporan The New York Times.

Sebaliknya, keputusan The Fed ini langsung mendapat kritikan dari Presiden AS Donald Trump.

“Aku tidak senang dengan keputusan itu. Aku lebih memilih membayar utang atau melakukan hal lain, menciptakan lebih banyak pekerjaan. Kita bisa melakukan hal lain dengan uang. Tapi, faktanya mereka (The Fed) lebiih suka menaikkan suku bunga,” kata Trump yang sedang berada di New York, AS.

Kepada Reuters, Agustus lalu, Trump pernah mengaku sikap The Fed yang terus menaikkan suku bunganya bisa merongrong daya saing AS terhadap negara lain. Sudah dua kali Trump mengkritisi kebijakan suku bunga yang dikeluarkan The Fed.

Dalam pandangannya, kenaikan suku bunga hanya menguntungkan negara-negara mitra dagang atau yang lebih nyaman disebut Trump sebagai oknum pengeruk kekayaan AS.

Alih-alih menaikkan suku bunga, The Fed seharusnya mengeluarkan kebijakan moneter yang mendukung pertumbuhan ekonomi AS.

“Kita sedang sibuk bernegosiasi dengan negara lain. Kita pasti akan menang (dalam negosiasi). Tapi, sepanjang itu The Fed seharusnya membantu, bukan malah mengakomodasi negara lain,” tukasnya.

Sejak menjabat, Trump memang membangun hubungan yang tak harmonis dengan The Fed. Sepanjang periode pemerintahannya, The Fed sudah enam kali menaikkan suku bunga, tiga kali pada zaman Janet Yellen dan tiga kali oleh Powell.

Sayangnya, meski Powell adalah adalah pejabat The Fed pilihannya sendiri, Trump tidak akan bisa mengintervensi segala keputusan yang dibuat bank sentral berusia 105 tahun itu. Karena The Fed memang dirancang untuk bersih dari campur tangan politik apapun.

Bersamaan dengan pengumuman kenaikan suku bunga, pejabat-pejabat Federal Open Market Committee (FOMC) juga mengumumkan prediksi kenaikan suku bunga satu kali lagi sebelum akhir tahun ini dan tiga kenaikan pada 2019.

Jika benar begitu, maka suku bunga The Fed diperkirakan bisa mencapai level 3,5 persen pada periode waktu itu.

Masuk radar

Kenaikan suku bunga AS kali ini tak terlalu membuat kaget nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS pun pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Rupiah terkoreksi tipis, sekitar 10 poin dari posisi penutupan pada level 14.910 ke posisi pembukaan hari ini, Kamis (27/9/2018), sebesar 14.920. Begitu juga dengan IHSG yang naik 2 poin, dari posisi 5.873 ke 5.871 pada perdagangan hari ini.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan pasar sesungguhnya sudah mulai mengantisipasi rencana kenaikan suku bunga The Fed. Bahkan, antisipasi itu sudah disiapkan hingga akhir tahun nanti.

“Yang paling ditunggu oleh pasar adalah forward guidance atau arah kebijakan selanjutnya. Kalau views-nya berubah jadi dua kali, justru malah positif buat negara berkembang. Bisa terjadi inflow lagi,” kata David dalam Liputan6.com.

Sementara itu, seiring dengan penyesuaian The Fed, Bank Indonesia disebut-sebut bakal ikut menaikkan suku bunga acuan (BI 7-day Repo Rate) sebesar 25 basis poin dari 5,5 persen menjadi 5,75 persen pada sore nanti.

Ekonom PermataBank Josua Pardede mengatakan kenaikan suku bunga acuan BI juga diperlukan dalam rangka mendorong attractiveness dari pasar keuanagn domestik serta menekan pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD/current account deficit) yang diakibatkan peningkatan aktivitas ekonomi dalam negeri.

Selain itu, BI juga berkewajiban untuk menjaga ekspektasi inflasi hingga akhir tahun yang diperkirakan berada di kisaran 3,5 persen.

“Dengan kenaikan itu diharapkan dapat menjaga CAD di sekitar 2,5 persen-2,7 persen terhadap PDB pada FY2018,” ucap Josua.

Untung yang bisa diambil

Salah satu dampak yang paling terlihat ketika bank sentral paling berpengaruh di dunia itu menaikkan suku bunganya adalah penguatan Dolar AS. Hal ini sejalan dengan pemulihan ekonominya.

Jika ekonomi AS pulih, maka pengaruhnya juga bakal dirasakan pasar modal di negara maju. Banyak perusahaan menjadi optimistis dan terus berekspansi, ujung-ujungnya laba perusahaan bermekaran.

Logikanya, negara berkembang menjadi pihak yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga. Apalagi, banyak utang pemerintah dan swasta yang diteken dalam bentuk Dolar AS.

Belum lagi ancaman larinya investor dari negara berkembang karena mencari imbal hasil yang lebih tinggi.

Namun, ketika BI langsung melakukan normalisasi kebijakan atas kenaikan suku bunga The Fed, maka Indonesia seharusnya tidak perlu terlalu khawatir.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, dampak positif dari kenaikan BI nantinya adalah imbal hasil dari instrumen domestik berbasis bunga akan semakin menarik. Hal ini bakal menjadi faktor yang membuat investor asing tetap bertahan di Indonesia.

Meski memang, dampak negatifnya bunga kredit bakal semakin mahal dan memengaruhi kemampuan bayar debitur, baik swasta maupun perorangan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR