Arian Arifin saat ditemui di Lawless Burger Bar, Kemang, Jakarta, Rabu (6/2/2019)
Arian Arifin saat ditemui di Lawless Burger Bar, Kemang, Jakarta, Rabu (6/2/2019) Wisnu Agung / Beritagar.id
RUU PERMUSIKAN

Arian Seringai: Jangan atur moral di RUU Permusikan

Baginya pembentukan moral adalah peran keluarga dan tempat pendidikan, bukan peran undang-undang musik.

Tanyakan kepada Arian Arifin Wardiman, 43, apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Dengan lantang, ia akan menjawab, “Tolak RUU Permusikan.” Tegas.

Sebab, beberapa pasal di Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan itu, membuatnya geleng-geleng kepala. Yang ia sorot adalah soal larangan membuat karya yang memprovokasi dan menistakan agama.

“Kalau tidak menguntungkan musisi, kenapa jadi RUU prioritas ya,” ujar vokalis band Seringai ini.

Seringai, sebagai band cadas yang liriknya pedas, bisa jadi korban undang-undang ini. Lihat saja judul-judul band yang berdiri pada 2002 ini: Membakar Jakarta, Adrenalin Merusuh atau Alkohol.

“Undang-undang ini bisa mengekang,” kata Arian kepada Heru Triyono, Muammar Fikrie, Andi Baso, Aditya Nugraha, Wisnu Agung dan Tri Aryono.

Sore itu, Arian menenteng camilan salad dan baru tiba di Lawless, distro yang ia dirikan tujuh tahun lalu bersama pembetot bas Seringai, Sammy Bramantyo. Kami menemuinya di Lawless Burger Bar, Kemang, Rabu lalu (6/2/2019). Milik dia juga. Baru buka dua minggu.

Dandanan Arian jauh lebih muda dibanding usianya yang asli, 42 tahun. Ia memakai topi di balik dan kaus bertulisan Septic Death, grup hardcore punk.

Berbicara langsung dengannya ternyata jauh dari kesan keras yang tersirat dalam lagu-lagu Seringai. Intonasi suara pemilik karakter vokal scream (berteriak) ini cenderung lembut.

Meski demikian, terkadang ia melontarkan kata anying (anjing dalam bahasa Sunda). Berikut pendapat mantan wartawan MTV Track ini soal RUU Permusikan:

Arian Arifin saat ditemui di Lawless Burger Bar, Kemang, Jakarta, Rabu (6/2/2019)
Arian Arifin saat ditemui di Lawless Burger Bar, Kemang, Jakarta, Rabu (6/2/2019) | Wisnu Agung /Beritagar.id

RUU Permusikan diprotes banyak musisi, apakah sudah bulat sikapnya untuk menolak?
Kami jelas menolak. Karena referensinya enggak bagus. Cacat dari awal.

Daftar inventaris masalah yang kita bikin malah menemukan 50 persen lebih masalah di RUU itu.

Maksudnya acuan draf RRU itu enggak valid?
Ya bikinnya saja merujuk naskah akademik di blogspot. Itu masalah. Sebenarnya ada naskah akademik lain yang bagus, tapi enggak diakomodir. Itu bagaimana.

Anang Hermansyah, musisi yang juga legislator, kan sudah beri penjelasan dan berdiskusi dengan musisi terkait hal itu…
Gue hadir. Tapi belum meresap yang dikatakan dia (Anang). Padahal dulu bicara tata kelola musik. Lalu kenapa berubah dan enggak ada kabar saat draf RUU ini berproses. Tahu-tahu jadi aja.

Tapi kalian terkesan eksklusif enggak? Artinya kayak cuma mewakili skena kota besar. Bagaimana dengan daerah. Musisi tarling dan dangdut misalnya?
Kami juga berupaya melibatkan. Kami terbuka. Beberapa juga ada musisi tradisional, yang ikut bergabung.

Wacana undang-undang terkait industri musik ini sudah lama kan didengar teman-teman musisi?
Gue enggak ikut RDP (rapat dengar pendapat) di DPR—sebelumnya. Tapi pembicaraan soal ini memang sudah lama. Gue tahu empat tahun lalu.

Tapi sekarang, gue bingung, kenapa pasal-pasal yang sudah ada di UU Hak Cipta dan Pemajuan Kebudayaan, masuk lagi di RUU Permusikan.

Menurut lo, ada kepentingan apa sebenarnya di balik kontroversi RUU Permusikan ini?
Gue belum berpikir teori konspirasi. Ya lo tahu kan selalu ada proyek di negara ini. Siapa yang bermain, ya gue enggak tahu. Ha-ha.

Lo melihat dua undang-undang tadi: hak cipta dan pemajuan kebudayaan, sudah cukup untuk musisi?
Yang cukup melingkupi musisi itu pemajuan kebudayaan. Kalau yang hak cipta belum, masih terlalu luas dan tidak spesifik permusikan.

Seringai pernah dirugikan terkait hak cipta?
Pernah. Merchandise Seringai banyak dibajak. Cuma bagaimana. Di Indonesia itu kayak orang kecil lebih benar dari kita ya kan.

Narasinya itu: lo pantas dibajak soalnya band lo sudah gede. Ya logikanya masih begitu.

**-**

Arian merupakan nama roket buatan Prancis. Nama itu diberikan ayahnya, Arifin Wardiman, ilmuwan roket di Institut Teknologi Bandung. Arifin mempelajari ilmu tentang roket di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika.

Namun "kepintaran" sang ayah tak menurun kepada Arian. Sang anak lebih suka mengikuti jejak sang kakek, yang tertarik pada seni. Kakeknya, Sindoedarsono Soedjojono, adalah pelukis sekaligus kritikus seni rupa pertama di Indonesia.

Arian kecil, seperti eyangnya, memiliki hobi gambar. Yang digambar kebanyakan pesawat tempur dan roket. Sebab, bacaan dan mainan Arian saat itu, yang dibelikan ayahnya, serba-pesawat. Ia pun bercita-cita jadi astronaut. Sayang, pada usia 6, matanya sudah minus setengah.

Arian kecil menemukan semangat bermusik ketika mendengarkan lagu Help Me Rhonda milik The Beach Boys, grup musik rock Amerika. Itu adalah kaset pertama yang dibelikan ayahnya.

Selanjutnya, ia menabung dan membeli sendiri album favoritnya dengan berjalan kaki ke toko kaset Aquarius di Dago, Bandung. Dari situ, ia mulai mengenal musik heavy metal, sebuah aliran musik rock.

**-**

Beberapa musisi memandang RUU Permusikan memberikan kesan "sensor" dalam proses kreasi?
Undang-undang itu harusnya melindungi musisi. Kalau mau ada sertifikasi, ya lo sediakan pendidikannya. Sediakan venue musik yang banyak. Bukan musisi yang enggak boleh ini itu. Malah ngatur.

Lo melakukan self censorship dalam berkarya?
Ukuran gue itu cool atau enggak. Itu saja sensornya. Yang penting pesan gue sampai ke pendengar. Kalau ukurannya moral, beberapa musisi pasti bingung.

Karena moral itu peran keluarga dan tempat pendidikan bukan di musik, apalagi di RUU Permusikan. Lebih baik jangan atur moral di situ.

Jadi, apa yang paling krusial diatur dari ekosistem permusikan Indonesia?
Ya misalnya yang berkaitan dengan hukum. Pemain band dari label besar, ketika sudah selesai kontrak, harusnya berhak atas rekaman-rekaman mereka, karena sudah melewati waktu.

Tapi susah jika minta rekaman itu. Hal ini yang harus diatur sama undang-undang.

Kemudian gue kok berpikir. Kalau RUU Permusikan ini enggak menguntungkan seniman, kenapa bisa jadi prioritas ya?

Kalau RUU Permusikan ini benar jadi undang-undang, apa sih yang terancam dari pencinta musik?
Pilihan musik lo sedikit, enggak seru dan enggak berwarna. Semua sama. Karena yang kontra bakal dilibas. Misalnya.

Jadi, pilihannya: menolak atau revisi?
Batalin. Kalau revisi terlalu banyak. Mending bikin baru dengan landasan yang benar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR