HUKUM PIDANA

Aris, pelaku pemerkosaan pertama di Indonesia yang dikebiri

Ilustrasi pemangsa anak-anak, alias pedofil.
Ilustrasi pemangsa anak-anak, alias pedofil. | Salni Setyadi /Beritagar.id

Satu putusan progresif dibuat oleh Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, yang kemudian diperkuat di tingkat banding oleh Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya, Jawa Timur. Pengadilan menjatuhkan hukuman kebiri kimia kepada Muh Aris bin Syukur.

Aris merupakan predator seksual yang telah memperkosa sembilan anak di bawah umur, alias pedofil, di daerah Mojokerto sejak 2015. Aksi pemuda tukang las 20 tahun tersebut berakhir pada 26 Oktober 2018.

Hukuman kebiri kimia kepada Aris ini merupakan kali pertama yang digunakan dalam peradilan di Indonesia sejak pengesahan Undang-undang No. 17 Tahun 2016.

Beleid tersebut merupakan penetapan atas Perppu No. 1/2016 mengenai Perubahan Kedua UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak yang disahkan pada 9 November 2016. UU itu mengatur penambahan hukuman bagi pelaku kejahatan seksual.

Beberapa di antaranya, penjara seumur hidup, hukuman mati, kebiri kimia, pengungkapan identitas pelaku, hingga pemasangan alat deteksi elektronik. Dan, Aris divonis karena melanggar Pasal 76D juncto Pasal 81 ayat (2) Perppu No. 1/2016.

"Menjatuhkan pidana tambahan berupa pidana kebiri kimia kepada terdakwa," seperti dikutip dari amar putusan di Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Mojokerto (h/t CNN Indonesia), Juli 2019.

Selain menerima hukuman kebiri kimia, PT Surabaya juga mengabulkan hukuman yang ditetapkan oleh PN Mojokerto. Yaitu pidana penjara 12 tahun dan denda Rp100 juta subsider enam bulan kurungan.

Penangkapan Aris tak lepas dari rekaman CCTV di salah satu perumahan di Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Aris melakukan aksi keji terakhirnya pada 25 Oktober 2018 sebelum ditangkap sehari kemudian.

Waktu bergulir, dan kasus pun mulai masuk ke meja hijau. Saat itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Aris dengan hukuman penjara 17 tahun dan denda Rp100 juta subsider 6 bulan kurungan, alias lebih tinggi dari vonis hakim.

Namun, saat itu, pengacara negara tidak menyertakan hukuman kebiri kimia dalam tuntutannya. Hal ini diakui oleh Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto, Nugroho Wisnu.

"Iya (JPU tidak menyertakan hukuman kebiri kimia), itu putusan tambahan," ujar Wisnu kepada detikcom.

Meski secara hukuman penjara lebih rendah dari tuntutan JPU, toh Aris masih mencari keadilan dengan mengajukan banding ke PT Surabaya. Apa daya, pengadilan tahap dua tersebut bersuara sama dengan PN Mojokerto.

Putusan ini, bisa jadi disesali pihak Aris. Pasalnya, menurut sang pengacara yang menemani Aris di tingkat PN, Handoyo, hukuman 12 tahun dan kebiri kimia sangat berat.

Oleh karena itu, mereka mengajukan banding ke tingkat PT. "Hukuman penjara 12 tahun itu sudah cukup bagi dia mengevaluasi perbuatannya. Kalau ditambah kebiri kimia, lebih berat lagi," ucap Handoyo, Jumat (3/5), seperti dilansir Jawapos.com.

Kini, pihak kejaksaan tengah mencari dokter yang bakal mengeksekusi kebiri kimia Aris. "Kami masih mencari rumah sakit yang bisa melaksanakan hukuman kebiri kimia. Karena RSUD Soekandar dan RA Basuni Mojokerto belum pernah melakukan itu," ucap Wisnu.

Apa itu kebiri kimia

Indonesia bukan negara pertama yang menerapkan hukuman kebiri kimia bagi para pelaku kejahatan. Ceko, Jerman, Moldova, Estonia, Argentina, Australia, Israel, dan beberapa negara lainnya sudah menerapkan hukuman serupa.

Lalu, bagaimana hukuman kebiri kimia dapat berjalan dan seperti apa efeknya? BBC Indonesia mewawancarai Nugroho Setiawan, dokter spesialis andrologi di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta Selatan, untuk mengetahui apa dan bagaimana soal kebiri kimia ini.

Kebiri kimia adalah penyuntikan zat anti-testosteron ke tubuh lelaki untuk menurunkan kadar hormon testosteron yang sebagian besar diproduksi sel lydig di dalam buah zakar.

Masuknya zat anti-testosteron ke dalam tubuh, menurut dokter Nugroho, praktis membuat gairah seksual menurun. "Testosteron itu adalah hormon yang berperan dalam beragam fungsi, salah satunya fungsi seksual," ucap Nugroho.

Menurut penuturan Nugroho, zat anti-testosteron yang masuk ke dalam tubuh tersebut, memiliki batas waktu. Artinya, zat tersebut tidak bersifat permanen. Agar dapat berfungsi dalam waktu yang lama, zat anti-testosteron harus digunakan secara berkala.

"Orang mungkin beranggapan kebiri kimia sekali suntik selesai, seperti orang yang dikebiri secara fisik. (Padahal) mereka harus mendapatkan terus-menerus," ucapnya.

Masalahnya, tak sesederhana itu. Semakin banyak zat anti-testosteron tertanam di dalam tubuh, fisik bakal terpengaruh. "Imbasnya kulit menjadi kering. Otot mengecil, tulang keropos. Orang itu juga akan sangat lemah," katanya.

Semua efek dari penggunaan berkala tersebut ini diamini oleh Ketua Bagian Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, DenpasarBali, Wimpie Pangkahila.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR