KESEHATAN ANAK

Arya harus lima kali operasi pasca-obesitas ekstrem

Arya Permana berada di ruang rawat inap menjelang operasi bedah plastik di RS Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat, Rabu (24/7/2019).
Arya Permana berada di ruang rawat inap menjelang operasi bedah plastik di RS Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat, Rabu (24/7/2019). | Dokumentasi RSHS Bandung

Tepat saat Hari Anak Nasional, Selasa (23/7/2019), Arya Permana harus tinggal di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jawa Barat (Jabar). Bocah berusia 13 tahun asal Karawang, Jabar, itu menanti sebuah operasi besar.

Tim dokter akan membuang sebagian kulitnya dengan metode bedah plastik pada Rabu (24/7) pagi ini. "Sejak 17 Juli ia dirawat di RSHS dengan keluhan kulit menggelambir," kata Direktur Utama RSHS Bandung Nina Susana Dewi di kantornya Selasa (22/7).

Sehari sebelum operasi, ketua tim penanganan operasi Dida Gurnida mengatakan kondisi Arya secara umum baik. Pasien pun mengaku telah siap menjalani operasi sejak datang ke RSHS.

"Persiapannya mental, sudah siap dan nggak takut," kata Arya, sepekan lalu. Dokter spesialis nutrisi dan metabolik anak, Viramitha Kusnandi Rusmil, mengatakan tim menyertakan dokter psikiatri untuk mendampingi Arya. "Dianya sendiri yang mau operasi ini," ujarnya di RSHS Bandung.

Arya menjadi perhatian publik pada 2016 karena kasus obesitas. Kegemukan tubuhnya tergolong ekstrem bagi seorang anak.

Bobotnya ketika itu hampir dua kuintal atau sekitar 190 kilogram (kg). Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana ketika itu sampai turun tangan mendampingi Arya ke RSHS.

Setelah gagal diet, Arya menjalani operasi besar pertamanya di sebuah rumah sakit swasta pada 2017. Metode bedah bariatrik jenis gastric sleeve memperkecil lambungnya hingga tinggal sepertiganya.

Cara itu ampuh mengurangi nafsu makan hingga bobotnya turun drastis. Kini berat Arya 87 kg.

Namun, Arya memiliki masalah baru karena kulit yang menggelambir di sekujur tubuhnya. Menurut ketua tim dokter bedah plastik RSHS Hardisiswo Soedjana, masalah seperti itu lazim terjadi pada pasien obesitas yang melorot bobotnya --apalagi dalam waktu cepat.

Tim dokter mencanangkan rencana; Arya harus dioperasi secara bertahap sampai empat kali. Tahap pertama dimulai Rabu pagi ini.

Pasien dijadwalkan masuk ruang operasi pukul tujuh setelah dimandikan hingga bersih. Termasuk, kata Hardisiswo, menumpas masalah scabies atau iritasi yang bikin gatal kulitnya. Selanjutnya dokter akan menggambar untuk rencana bedah dan pasien dibius.

"Prioritas operasi berdasarkan fungsi dan estetika gelambir lengan atas dan bawah," ujarnya, Selasa (23/7).

Ketika kedua tangan Arya direntangkan ke samping, tampak kulit yang menggelambir itu seperti sayap dari pergelangan hingga ketiak. Sebanyak tujuh orang dokter bedah plastik dikerahkan untuk membuang gelambir itu yang diperkirakan berbobot sekitar tiga kg.

Tim dokter dibagi menjadi dua yang bekerja bersamaan dengan durasi operasi 2-3 jam. Hardisiswo menjelaskan tim bedah tidak akan terburu-buru untuk mengantisipasi pendarahan.

"Pakai teknik halus juga untuk menghindari komplikasi dan emboli atau hambatan pembuluh darah," ujarnya.

Pasca-operasi nanti, Arya harus menjalani masa pemulihan minimal sebulan. Itu pun dengan catatan tidak ada infeksi pada bekas jalur sepanjang bedah kulitnya di kedua tangan.

Arya harus mengurangi aktivitas hariannya. Tim dokter juga menyiapkan alat khusus yang disebut pressure garment. Pakaian khusus berbahan tipis itu diperuntukkan bagi pasien pasca-bedah plastik agar bekas luka tertutup.

Rencananya setelah 3-6 bulan operasi itu, Arya harus kembali masuk rumah sakit untuk menjalani bedah tahap kedua. Sasarannya membuang kulit yang menggelambir pada payudara. Tahap ketiga, kata Hardisiswo, pada bagian perut dan pamungkasnya di paha.

Pihak RSHS menaksir biaya sekali operasinya berkisar Rp40-50 juta. "Pasien peserta BPJS (Kesehatan), jadi ditanggung semua," kata Direktur Utama RSHS Nina.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR