PERANG DAGANG

AS dan Tiongkok makin bernafsu naikkan tarif impor

Swalayan di Guangzhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok, mulai memberikan label pada barang-barang impor asal AS, 14 Juli 2018.
Swalayan di Guangzhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok, mulai memberikan label pada barang-barang impor asal AS, 14 Juli 2018. | Aleksandar Plavevski /EPA-EFE

Hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok kian meruncing. Selasa (18/9/2018), Tiongkok mengumumkan tarif baru terhadap barang impor asal AS yang nilai dagangnya mencapai $60 miliar AS (sekitar Rp892,92 triliun).

Tarif yang dikenakan berkisar hingga 10 persen. Beberapa barang yang masuk dalam daftar tersebut adalah kopi, furnitur, dan pesawat terbang.

“Demi melindungi hak dan kepentingan serta iklim perdagangan global, Tiongkok perlu mengambil langkah balasan. Kami sangat menyesalkan hal ini,” sebut pernyataan Menteri Perdagangan Tiongkok yang dikutip Washington Post.

Selain memberlakukan tarif tambahan, otoritas Tiongkok juga berencana mengadukan perlakuan AS ini kepada Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO).

Pengumuman tarif baru Tiongkok adalah aksi balasan atas sikap AS yang mengumumkan tarif baru terhadap barang impor asal Tiongkok yang nilai dagangnya mencapai $200 miliar (sekitar Rp2,97 kuadriliun), pada Senin (17/9/2018). Tarif bakal berlaku 1 Januari 2019.

Kendati begitu, Tiongkok masih berharap AS mengoreksi langkahnya mengingat dampak jangka panjang yang bakal terjadi akibat perang tarif ini. Tiongkok memberi tenggat waktu hingga Senin (24/9/2018), untuk AS mengubah keputusannya.

Namun, sepertinya kecil kemungkinan bagi Presiden AS Donald Trump untuk mengubah keputusannya. Sebab, Trump beralasan kebijakan yang diberikannya kepada Tiongkok merupakan “sanksi” atas kenaikan tarif barang impor AS ke Tiongkok, awal Agustus 2018.

Ketika itu, Tiongkok mengumumkan tarif tambahan untuk 5.207 jenis barang impor asal AS sebesar 5 persen hingga 25 persen. Celakanya, keputusan Tiongkok itu menghantam keras sektor pertanian AS.

“Bakal ada balasan yang lebih besar untuk Tiongkok jika petani, peternal, dan/atau pekerja industri kita menjadi sasaran,” kata Trump.

Ujung-ujungnya, Trump menuding Tiongkok berniat memengaruhi hasil pemilihan umum AS. Sebab dalam klaimnya, kaum petani adalah kelompok yang paling loyal terhadap Partai Republik.

Alih-alih meredam panasnya hubungan dua negara, Trump justru balik mengancam bakal menambahkan tambahan tarif terhadap barang-barang Tiongkok dengan total nilai dagang $276 miliar (Rp4,11 kuadriliun) jika berani membalas aksi terakhirnya.

Jika langkah ini benar terlaksana, maka praktis seluruh barang impor asal Tiongkok yang masuk ke AS dikenakan tarif baru.

Jack Ma, pendiri Alibaba serta orang terkaya di Tiongkok, memperingatkan bahwa konflik ini bakal berefek hingga 20 tahun ke depan. Dampaknya pun bukan hanya buruk pada satu pihak, melainkan keduanya.

Tiongkok memang sulit menyamakan dampak perang dagang ini dengan AS. Sebab, nilai impor tahunan Tiongkok dari AS hanya mencapai $130 miliar, sementara nilai ekspornya mencapai lebih dari $500 miliar. Paling mungkin adalah Tiongkok memberlakukan tarif yang lebih tinggi pada barang AS yang punya nilai hingga $110 miliar (Rp1,63 kuadriliun).

Walau begitu, sejumlah pengamat menilai Tiongkok masih memiliki langkah pamungkas melindungi diri mereka dari dampak perang tarif ini, yakni mengacaukan bisnis-bisnis AS yang beroperasi di Tiongkok.

Analis firma Fathom Consulting Erik Britton meyakini Tiongkok pada akhirnya akan menyerah dan memasuki babak baru dalam perundingan untuk menghentikan perang tarif ini.

Sebab, sambung Britton dalam The Guardian, Trump kemungkinan besar melancarkan serangan tarifnya untuk menekan Tiongkok agar mengubah kebijakannya yang melindungi perusahaan-perusahaan AS seperti Apple, Nike, General Electric, dan lainnya.

Untuk sementara, Tiongkok bakal menghadapi tekanan tarif dari AS ini dengan meningkatkan penjualan produk-produk lokalnya untuk menggantikan barang-barang impor yang harganya bakal melonjak naik akibat tambahan tarif.

“Yang perlu dilakukan Tiongkok dalam menghadapi perang dagang ini adalah tetap fokus dalam menyelesaikan problemnya sendiri,” tulis opini yang dimuat harian The People’s Daily, media yang dikendalikan Partai Komunis Tiongkok, dalam laporan lain Reuters.

Sentimen positif negatif bagi Indonesia

Atmosfer perang tarif yang dibuat AS dan Tiongkok memicu kontraksi pada nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.

Bloomberg Index menunjukkan, Rupiah dibuka di level 14.915 pada perdagangan pagi ini. Posisi itu menguat 60 poin dari penutupan perdagangan Selasa (18/9/2018) yang berada di level 14.855. Jika dihitung sejak awal tahun, Rupiah telah melemah 9,91 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan penguatan Dolar AS disumbang dari imbal hasil obligasi tenor 10 tahun AS yang tembus di tingkat 3 persen. Posisi itu menambah katalis positif untuk Dolar AS di tengah eskalasi perang dagang AS-Tiongkok.

Reza Priyambada, analis senior CSA Research Institute menilai, satu-satunya cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk meredam kontraksi rupiah adalah dengan mengendalikan defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD).

Pendapat serupa juga disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Ari Kuncoro. Menurutnya, setelah cadangan devisa diperbaiki, maka pemerintah bisa mengombinasikannya dengan normalisasi suku bunga acuan.

“Dua hal ini digunakan untuk menaikkan ekspektasi bahwa BI ada di pasar,” tutur Ari, mengutip Liputan6.com.

Meski membuat Rupiah terkoreksi, dampak dari perang dagang ini sebenarnya membuka peluang bagi Indonesia untuk mendongkrak ekspor.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperkirakan ekspor produk-produk seperti baja hingga buah-buahan Indonesia bisa meningkat ke AS dan Tiongkok jika perang dagang terus berlanjut.

“Apalagi belum lama ini Indonesia mendapat pengecualian kenaikan tarif komoditas ini (baja dan alumunium),” kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kemendag Kasan kepada CNN Indonesia.

Tapi Kasan menyadari, Indonesia bukan satu-satunya negara yang bakal berebut mengisi celah kekosongan ini. Beberapa negara lain seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, Bangladesh, sudah pasti menantikan kesempatan ini.

Oleh karenanya, penting bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing pada komoditas-komoditas yang akan disodorkan ke pasar AS maupun Tiongkok.

Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Handito Joewono menyebut Indonesia perlu memenuhi lima persyaratan terlebih dahulu sebelum menggali potensi ekspor ini.

Pertama, Indonesia perlu menambah jumlah eksportir. Kedua, melakukan diversifikasi produk ekspor. Ketika, mengembangkan pasar baru dengan menambah negara tujuan yang belum termanfaatkan.

Keempat, peningkatan harga ekspor setelah pasokan berkurang akibat perang dagang. Dan terakhir, pengembangan ekosistem ekspor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR