LINGKUNGAN HIDUP

Atas nama tradisi, berburu paus di Jepang halal kembali

Seekor paus minke akan dipindahkan ke truk di Pelabuhan Kushiro, Pulau Hokkaido, Jepang, 1 Juli 2019.
Seekor paus minke akan dipindahkan ke truk di Pelabuhan Kushiro, Pulau Hokkaido, Jepang, 1 Juli 2019. | Jiji Press Japan /EPA-EFE

Puluhan potongan daging digelar di dalam kotak-kotak styrofoam untuk ikut dalam pelelangan, Kamis (4/7/2019). Untuk tiap satu kilogramnya, daging yang masih berwarna merah segar itu ditawarkan mulai dari 15.000 Yen atau setara Rp1,9 juta.

Harga penawarannya disebut berkali-kali lipat lebih mahal dibanding daging dari tipe sama yang berasal dari Antartika.

Tapi para penikmat daging di Jepang seakan tak peduli. Daging-daging itu adalah penawar rindu bagi mereka yang sudah "berpuasa" memakan paus hasil panen dari perairan sendiri.

Hari itu, para pelelang menyuguhkan daging dari dua paus Minke berukuran 10 meter dan berat mencapai 9 ton yang diburu di perairan Kushiro, sebelah utara Hokkaido, Jepang, Senin (1/7/2019). Perburuan dilakukan dengan cara menembak paus dengan tombak, tepat di bagian rahangnya.

Mulai Senin itu, Jepang resmi membuka kembali izin perburuan paus yang selama 33 tahun sebelumnya dilarang. Kebijakan kontroversial bagi pemerhati lingkungan, namun ini murni soal tradisi bagi Jepang.

Animal Welfare Institute mencatat Jepang sudah melakukan perburuan paus sejak zaman pra-sejarah Jepang atau zaman Jomon (10.000-300 SM). Tradisi bertahan tak hanya di laut, tapi juga di darat.

Tahun 1906, sebuah pangkalan yang khusus menampung paus hasil buruan dibangun di Ayukawa, Miyagi. Pangkalan ini menandai era modern perburuan paus di Jepang

Namun pada 1951, Jepang bergabung dengan Komisi Perburuan Paus Internasional (International Whaling Commission/IWC). Dari situ, tradisi Jepang mulai diatur dunia internasional.

Pada 1982, IWC sepakat membuat moratorium perburuan paus. Jepang dan Norwegia mengajukan penolakan atas moratorium.

Tekanan dari Amerika Serikat (AS) membuat Jepang tak bisa berbuat banyak. Tiga tahun setelahnya, penolakan dicabut. Mulai dari situ, Jepang resmi melarang perburuan paus. Jepang kemudian mengajukan permohonan “izin perburuan khusus penelitian” pada 1987. Izin dikabulkan.

Selama moratorium berlangsung, Jepang berlayar jauh ke perairan Pasifik dan Antartika untuk memburu paus. Pada musim buru tahun 2017 dan 2018, Jepang terekam telah memburu 592 paus dari berbagai jenis.

Kerinduan akan tradisi mengalahkan komitmen di dunia internasional. Minggu, 30 Juni 2019, Jepang memutuskan untuk mundur dari keanggotan IWC demi bisa berburu paus lagi secara komersial.

Dalam surat pengunduran dirinya Jepang berdalih perburuan paus secara komersial masih bisa dilakukan dengan berkesinambungan.

Maka Jepang berkomitmen perburuan tidak akan dilakukan secara besar-besaran. Nelayan bisa berburu dengan kuota 227 paus per tahun. Perinciannya 150 paus Bryde, 52 paus Minke, dan 25 paus Sei.

Perburuan juga hanya boleh dilakukan di batas zona ekonomi eksklusif (ZEE), atau sekitar 200 mil dari garis pantai Jepang.

Dunia internasional mengkritisi kuota Jepang tersebut. Mereka ragu Jepang bisa memenuhi janjinya. Sebab, tahun lalu saja Jepang memburu 333 paus dengan dalih untuk penelitian.

“Ini adalah hari yang menyedihkan bagi perlindungan paus dunia,” kata Nicola Beynon, aktivis Humane Society International, dalam BBC.

Pengunjung menikmati daging paus di sebuah restoran di Tokyo, Jepang, 28 Juni 2019 (disiarkan ulang 30 Juni 2019).
Pengunjung menikmati daging paus di sebuah restoran di Tokyo, Jepang, 28 Juni 2019 (disiarkan ulang 30 Juni 2019). | Jiji Press Japan /EPA-EFE

Bukan hanya itu, paus Sei—salah satu jenis yang masuk daftar boleh buru—masuk dalam kategori terancam punah.

Direktur Konservasi Laut International Fund for Animal Welfare Patrick Ramage meyakini bahwa keberadaan populasi paus di perairan Jepang tak lagi mencukupi untuk kebutuhan komersial.

“Populasi yang ada ini sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar Jepang,” ucap Patrick dalam CNN.

Kendati tradisi sudah dibuka kembali, Jepang tetap akan menghadapi waktu yang sulit. Konsumsi daging paus di Jepang pada kenyataannya menurun.

Pada 1964—setelah Perang Dunia II—Jepang mengonsumsi total 154.000 ton daging paus. Namun pada 2017, warga Jepang hanya memakan total 3.000 ton daging paus. Jika dibagi rata dengan jumlah penduduk, maka porsinya hanya setara dengan dua sendok daging per tahun.

Pemerintah Jepang pun mengeluarkan kebijakan responsif. Mengutip Financial Times, Dinas Perikanan Jepang telah mengalokasikan anggaran setara $463 juta AS untuk mendukung perburuan paus untuk tahun 2019.

“Jika perburuan paus dipaksa berhenti, maka industri ini juga akan tenggelam dengan sangat cepat,” kata Ramage, dari International Fund for Animal Welfare.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR