Atasi polusi di Kali Item dengan kain hitam

Petugas kebersihan membersihkan sampah di Kali Item yang telah ditutup jaring di dekat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/7/2018).
Petugas kebersihan membersihkan sampah di Kali Item yang telah ditutup jaring di dekat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/7/2018). | Hafidz Mubarak A. /AntaraFoto

Jika melewati wilayah Kali Sentiong, Tanjung Priok, Jakarta Utara, atau yang populer dengan sebutan Kali item, Anda bisa menemukan bahwa sungai ini telah ditutupi kain hitam sejak Kamis (19/7/2018).

Kain berupa bahan jaring ini membentang sepanjang 689 meter dengan lebar 20 meter, mulai dari Jembatan Mato hingga Jembatan Jubilee School.

Selain itu, menurut rencana di sepanjang sungai juga akan dilengkapi dengan tanaman hias dan lampu-lampu. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun telah mengimbau para pengusaha setempat agar tak membuang limbahnya ke sungai.

Pemasangan kain ini bukan tanpa tujuan. Ini adalah salah satu upaya Pemprov DKI untuk mengatasi bau yang timbul dari airnya dan menutup keburukan rupa dari kali tersebut.

" Kain hitam itu sebetulnya itu jaring tipis di Kali Item. Jadi Kali Sentiong biasa dijuluki Kali Item itu memiliki masalah polusi cukup tinggi. Air yang mengalir ke sana polusinya tinggi sampai kalinya disebut Kali Item sudah bertahun-tahun warnanya hitam. Tapi bukan hanya warnanya, aromanya juga," kata Anies, Jumat (20/7), dikutip Merdeka.com.

Sungai ini memang berdekatan dengan Wisma Atlet, tempat kontingen Asian Games dari seluruh Asia akan menetap selama masa pertandingan. Upaya penutupan sungai diambil Anies karena upaya pembersihan tak kunjung usai menjelang Asian Games dimulai pada 18 Agustus nanti.

Sementara aroma menyengat kerap timbul setiap sore dan pemandangan tak sedap dikhawatirkan akan mengganggu para atlet yang tinggal di sana. Apalagi area kafetaria wisma tersebut berseberangan dengan sungai.

"Saya yang menginstruksikan memang, setelah berdiskusi dengan beberapa orang pakar, salah satu caranya dengan mengurangi proses penguapan dari sungai dengan diberikan kain penutup, sehingga tidak terjadi proses evaporasi.

"Dengan penguapan dikurangi maka harapannya dari hilir sudah dikurangi potensi polutannya, kita dikurangi pencahayaan panas matahari sehingga mengurangi evaporasi. Harapannya tidak tercium," kata Anies.

Selain jaring, Anies juga memanfaatkan aerator--alat yang biasa digunakan pada kolam atau tambak untuk memasukkan oksigen di udara ke dalam air.

"Kalau aerator itu untuk mengurangi bau dari Waduk Sunter. Jadi pas airnya dialirkan ke Kali Item, baunya sudah berkurang," jelas Kasubbag Kepegawaian Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Supriyono seperti dilansir Kompas.com.

Lalu ada juga nano bubble yang dipinjam dari Singapura dan sudah dipasang sejak satu bulan lalu. Teknologi ini bisa membantu menjernihkan air dan menghilangkan bau. Sayangnya, penerapan nano bubble di sungai tersebut tidak terlalu berpengaruh.

Meskipun Anies mengaku telah berdiskusi dengan para pakar, dosen teknik lingkungan ITB Agus Jatnika justru menjelaskan bahwa bau yang muncul di kali merupakan dampak dari proses anaerob sehingga membentuk gas yang tidak termasuk kategori organik. Karena bentuknya gas, jaring pun disebutnya tak akan mampu mengatasi bau yang ditimbulkan.

"Menurut saya, gas-gas itu bahkan dengan membran semipermeabel, gas masih bisa lolos. Dari segi itu, (waring) kurang efektif," kata Agus saat dihubungi detikcom, Jumat (20/7).

Agus juga menyarankan, ketimbang membentangkan kain ratusan meter, karbon aktif yang dibungkus dengan kain akan jauh lebih efektif. Sedangkan untuk pemasangan nano bubble dan aerator dikatakannya akan efektif jika dipasang di hulu sungai.

Upaya Pemprov DKI dalam menanggulangi masalah polusi ini pun belum berakhir. Anies mengaku usahanya belum maksimal mengingat kondisi sungai yang telah menahun seperti itu. Meski belum mengumumkan langkahnya, tapi ia berjanji pihaknya akan menambah upaya pembersihan dengan cara lain mulai minggu depan.

BACA JUGA