DUNIA KERJA

Automasi bisa dongkrak produktivitas dan ciptakan pekerjaan baru

Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) didampingi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan (kiri) berfoto bersama seusai membuka Indonesia Development Forum (IDF) 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (22/7/2019).
Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) didampingi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan (kiri) berfoto bersama seusai membuka Indonesia Development Forum (IDF) 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (22/7/2019). | Dhemas Reviyanto/aww /ANTARA FOTO

Pertumbuhan produktivitas melalui sistem automasi dinilai berkontribusi 1,2 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 2000 hingga 2015. Angka ini diprediksi terus tumbuh mencapai 1,4 persen mulai 2019 hingga 2030, merujuk hasil riset lembaga konsultan ekonomi dan strategi, AlphaBeta.

Selama 15 tahun, automasi mengadopsi teknologi yang bisa menyingkat waktu rata-rata 5,5 jam dari tiap pekerja.

“Automasi bisa menggandakan produktivitas dengan waktu yang lebih singkat dan menghasilkan output baru dan pekerjaan baru yang beragam,” ujar Managing Director Australia AlphaBeta, Toby Brennan, dalam diskusi bertajuk Future Jobs pada Indonesia Development Forum 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (22/7/2019).

Automasi terjadi di beragam sektor, seperti otomotif, pertanian, dan retail. Automasi bisa dalam beragam bentuk seperti penggunaan perangkat lunak, mesin, dan alat.

Analisis AlphaBeta dari hasil survei Indonesian Family Life Survey dan Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Badan Pusat Statistik menunjukkan perubahan pola kerja untuk petani, sales, dan pekerja produksi.

Misalnya, sebelum automasi, petani lebih banyak menghabiskan waktu membajak sawah selama 6 jam. Dengan adanya penggunaan traktor atau teknologi lain, pekerjaan tersebut bisa dipersingkat dan waktu tersisa digunakan untuk berkoordinasi dengan pemasok barang.

Pekerja sales tak perlu lagi menghabiskan waktu 4 jam untuk mengatur uang yang masuk, alih-alih bisa mendampingi klien. Begitu juga dengan pekerja retail yang tak perlu menghabiskan waktu 3 jam untuk menjahit dengan tangan, tapi dengan mesin.

“Automasi memberikan ruang bagi pekerja untuk melakukan pekerjaan yang lebih rumit dan sulit,” kata Brennan.

Pada 2015, pekerja sektor informal seperti penjaga toko, asisten rumah tangga, dan buruh tani, yang mendominasi pekerja di Indonesia sebanyak 60 persen, menghabiskan 22 persen waktu kerja mereka untuk pekerjaan yang lebih rumit. Sementara pada pekerja sektor formal, sepertiga jam kerjanya dihabiskan untuk pekerjaan yang lebih rumit karena adanya automasi.

Dalam dunia bisnis, penetrasi teknologi automasi yang terus berkembang melalui kecerdasan buatan (artificial intelligence) tak dapat ditampik. Pekerjaan repititif mulai tergantikan oleh robot, seperti halnya pekerjaan wartawan yang menulis berita.

“Ada keresahan bahwa otomasi akan menghilangkan pekerjaan karena jenis pekerjaan makin berkurang. Padahal, itu tidak sepenuhnya terjadi," kata Brennan. "Pekerjaan memang makin berkurang karena otomasi, tapi jenis pekerjaan baru akan bermunculan, yang lebih rumit."

Brennan mencontohkan Gojek yang semula adalah call center untuk ojek daring, berubah menjadi aplikasi yang kemudian dapat mempersingkat waktu lama menunggu dan menghilangkan pekerjaan call center.

Dengan adanya teknologi, jenis pekerjaan baru bermunculan, seperti pengembang yang merancang aplikasi, atau pekerja lain di sektor teknologi, menurut Brennan.

World Economic Forum (WEF) memprediksi 75 juta pekerjaan akan tergantikan pada 2022 dan memunculkan 133 juta pekerjaan baru.

Pekerjaan seperti data entry, pelayanan pelanggan, akuntan, kasir, teller bank, pengacara, tukang pos, dan sekretaris termasuk di antara yang akan tergantikan dengan pekerjaan baru.

Pekerjaan yang bermunculan membutuhkan keterampilan di bidang teknologi dan data, seperti data scientist, big data specialist, pakar kecerdasan buatan dan machine learning, serta pekerjaan di sektor lain yang beririsan dengan teknologi.

Survei WEF pada 2018 terhadap 15 juta pekerja di 12 sektor di dunia menunjukkan sembilan teknologi yang akan diadaptasi oleh perusahaan sebelum 2022.

Teknologi paling populer yang mestinya tiap perusahaan sudah mulai menggunakan adalah analisis big data dan pengguna (85 persen responden sepakat). Teknologi lainnya seperti internet of things (75 persen), machine learning (75 persen), dan cloud computing (72 persen).

Adaptasi ini berpengaruh terhadap banyaknya pekerjaan yang dilakukan oleh manusia maupun robot. WEF merilis pada 2018, 71 persen dari total jam kerja dilakukan oleh manusia, sisanya mesin. Pada 2022, diperkirakan 42 persen dari pekerjaan akan dilakukan oleh mesin sementara manusia 58 persen.

Pentingnya kecakapan tambahan

Dengan adanya perubahan tersebut, dibutuhkan kecakapan tambahan yang sebelumnya tidak dimiliki.

CEO Agate Studio, Arief Widhiyasa, yang mengembangkan lebih dari 250 gim daring melalui beragam platform, menjelaskan bahwa industri membutuhkan pekerja yang memiliki kemampuan berpikir kritis, terbuka, dan punya daya saing yang tinggi.

“Pekerjaan dengan pola repitisi akan mudah digantikan oleh mesin. Jadi penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir komputasi, seperti bagaimana melakukan programming," ujar Arief dalam diskusi Future Jobs.

"Ke depan, perusahaan akan makin banyak mengembangkan interface mereka dengan programming."

Dengan terbukanya akses internet, dibutuhkan individu yang punya keinginan kuat untuk belajar dan mengembangkan keterampilan komputasi.

Menurut Arief, selain dorongan dari dalam, keterampilan di bidang teknologi juga perlu diterapkan di kurikulum pendidikan untuk menyiapkan calon pekerja yang berdaya saing tinggi dan sesuai dengan kebutuhan industri.

Hingga saat ini, Arief menilai ada gap yang tinggi antara kebutuhan industri dengan sistem pendidikan yang diajarkan. Menurutnya, kurikulum pendidikan yang mengacu pada zaman revolusi industri perlu diubah dengan pendekatan era informasi.

“Perlu ada perubahan, guru tidak hanya mengajar tetapi fasilitator yang menyemangati murid. Sementara proses pembelajaran bisa dilakukan melalui video atau metode lain,” katanya.

Hal senada diungkapkan Brannon, menurutnya pemerintah Indonesia yang saat ini belum siap menyongsong industri 4.0, perlu meratakan keterampilan mendasar untuk para pekerja di seluruh Indonesia.

“Pemerintah harus mendukung adanya automasi untuk mengurangi hambatan investasi dan perdagangan misalnya, atau menyederhanakan insetif pajak," kata Brannon.

"Pemerintah juga perlu meningkatkan keterampilan, lebih terbuka kepada pekerja asing agar terjadi transfer pengetahuan."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR