GUNUNG BERAPI

Awan panas guguran meluncur dari Gunung Merapi

Warga dari komunitas siaga Merapi menggunakan alat radio komunikasi memantau puncak Gunung Merapi dari pos pantau Klangon, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (19/2/2019).
Warga dari komunitas siaga Merapi menggunakan alat radio komunikasi memantau puncak Gunung Merapi dari pos pantau Klangon, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (19/2/2019). | Hendra Nurdiyansyah /Antara Foto

Awan panas dengan jarak luncur hingga 1.200 meter meluncur dari Gunung Merapi di Yogyakarta pada Kamis pagi (7/3/2019).

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan luncuran awan panas guguran itu terjadi pada Kamis pukul 07.44 WIB dengan durasi 121 detik yang mengarah ke Kali Gendol.

Kemudian luncuran awan panas kedua muncul pada pukul 10.17 WIB dengan durasi 97 detik, jarak luncur 1000 meter, mengarah ke tenggara.

Hingga saat ini BPPTKG mengatakan awan panas masih dalam jarak aman rekomendasi dan menetapkan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada,

"Awan panas teramati dari CCTV Puncak. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa," tulis BPPTKG dilansir dari Antaranews.

Hasil pengamatan BPPTKG mulai pukul 00:00-00:06 WIB terekam 9 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-19 mm yang berlansung selama 14.6-64 detik, satu kali gempa embusan dengan amplitudo 5 mm selama 23 detik, dua kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 4-6 mm selama 13.7-16.6 detik, satu kali gempa hybrid dengan amplitudo 2 mm, selama 7.6 detik, dan satu kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 10 mm selama 25.9 detik.

Berdasarkan pengamatan visual melalui Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Gunung Merapi tampak berkabut pada Kamis pagi, dengan suhu udara 20,3 derajat celsius, kelembaban udara 88 persen RH, dan tekanan udara 918,2 hPa.

Berdasarkan analisis morfologi kubah lava Gunung Merapi yang terakhir dirilis BPPTKG, volume kubah lava gunung api itu mencapai 461.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 1.300 meter kubik per hari. Kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan masih rendah, rata-rata kurang dari 20.000 meter kubik per hari.

Sebelumnya pada Selasa (5/3), dalam 24 jam Gunung Merapi juga mengeluarkan lava pijar tiga kali dengan jarak luncur 300 sampai dengan 700 meter.

Lalu pada Rabu (6/3), gunung yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini, teramati dua kali memuntahkan lava pijar dari puncak. Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan, guguran lava pijar teramati di CCTV pada pukul 00.20 WIB dan 00.38 WIB.

"Jarak luncuran 900 meter," tuturnya kepada SINDOnews.

Selain lava pijar yang teramati CCTV, sejak pukul 00.00 WIB sampai dengan pukul 06.00 WIB di alat seismik juga terpantau 13 kali gempa guguran dengan amplitudo 4-42 mm dan 16.1 hingga 94.4 detik.

BPPTKG untuk sementara ini tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana. BPPTKG juga mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sehubungan dengan kejadian guguran awan panas guguran dengan jarak luncurnya semakin jauh, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan.

BPPTKG juga mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi bahaya lahar dingin. Pasalnya, hujan cukup deras telah melanda puncak Gunung Merapi sejak Rabu sore (6/3).

Masyarakat juga diminta tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi, media sosial BPPTKG atau ke kantor BPPTKG.

Warga di sekitar lereng Gunung Merapi juga membentuk Komunitas Siaga Merapi (KSM) dan Organisai Pengurangan Risiko Bencana (OPRB) dengan konsep mitigasi berbasis komunitas yang terlatih untuk meningkatkan kesiagaan dalam menghadapi ancaman bencana erupsi Gunung Merapi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR