Bagaimana kulit kabel memenuhi saluran air?

Tumpukan kulit kabel listrik yang berhasil diangkat dari saluran air di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, 2 Maret 2016. Kulit kabel listrik yang ditaruh atau ditinggal di gorong-gorong tersebut menjadi salah satu penyebab banjir di Ibu Kota.
Tumpukan kulit kabel listrik yang berhasil diangkat dari saluran air di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, 2 Maret 2016. Kulit kabel listrik yang ditaruh atau ditinggal di gorong-gorong tersebut menjadi salah satu penyebab banjir di Ibu Kota. | Frannoto /Tempo

Polisi menangkap enam orang yang disangka mencuri kabel di dalam gorong-gorong di bawah jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Kabel bekas ini diambil tembaga dan timahnya, lalu dijual ke pengepul barang bekas di kawasan Jakarta. Kulitnya sengaja ditinggalkan, sehingga menyumbat selokan di dekat Istana Negara.

Menurut laporan CNN Indonesia, enam tersangka tersebut adalah STR alias BY (45 tahun), MRN alias N (34), SWY alias SM (45), AP alias UC (28), RHM alias GUN (43), dan AT alias TGL (48). Dua tersangka, STR dan MRN, diduga sebagai otak pencurian tersebut. Keduanya pernah ditahan di Polsek Gambir dengan kasus serupa pada 2015.

Para tersangka beraksi pada malam hari agar tak ketahuan orang. "Mereka ini kerjanya dicicil selama delapan bulan," ujar Kepala Unit III Sumber Daya Lingkungan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komisaris Polisi Dedy Anung.

Mereka bisa bertahan dalam gorong-gorong selama dua hingga tiga hari. Gorong-gorong itu bukan tempat sempit. Kira-kira ukurannya 4 x 4 meter. "Makanya mereka bisa tinggal di sana," ucapnya.

Kabel bekas tersebut dikelupas, lalu tembaga dan timah diambil. Dari pengakuan tersangka, kata Dedy, mereka sempat berusaha menyusun sisa kulit kabel agar tidak menyumbat saluran. "Tapi gagal karena jumlah kulit kabel terlalu banyak," tutur Dedy.

Menurut data yang dihimpun Pemerintah DKI Jakarta, volume kulit kabel yang ditemukan dalam gorong-gorong sudah mencapai 26 truk sejak petugas gabungan melakukan pembersihan pada akhir Februari lalu.

Direktur Krimsus Polda Metro Jaya, Kombes Mujiyono, mengungkapkan para tersangka sengaja meninggalkan kulit kabel karena nilai jualnya murah. Usai timah dan tembaga terkumpul banyak, baru diangkut pakai gerobak. Tembaga dan timah ini lalu dijual ke pengepul barang bekas di Jakarta.

Dalam tiga pekan, para tersangka mampu mengumpulkan 800 kilogram tembaga dan timah. "Untuk tembaga Rp60 ribu per kilogram, timah Rp10 ribu per kilogram," kata dia seperti dikutip Merdeka.com. Adapun kulit kabel hanya dihargai Rp1.000 per kilogram.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Tito Karnavian, akan meminta pada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama membuat peraturan gubernur tentang pengaturan sistem jaringan bawah tanah. Termasuk aturan soal kabel tidak layak pakai dan bagaimana mengangkutnya.

"Harus diatur supaya tidak semrawut, kalau tidak muncul lagi kulit kabel ini," kata dia seperti dilansir CNN Indonesia.

Banyaknya kabel bekas dalam saluran air, selama ini, lantaran perusahaan pemilik kabel sengaja meninggalkannya. Menurut Kombes Mujiyono (11/3), biaya untuk mengangkat kabel-kabel itu jauh lebih mahal daripada nilai ekonominya.

Kepolisian belum bisa memastikan siapa pemilik kabel itu. Namun, Jumat pekan lalu, Irjen Tito sempat menyatakan bungkusan kabel dalam jumlah besar yang ditemukan di gorong-gorong Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Informasi itu didapat usai menelusuri dan memeriksa sejumlah saksi. "Gulungan bungkus itu mirip dengan gulungan kabel milik PLN dan bukan telepon," kata Tito seperti dilansir Merdeka.com. Menurut PLN, kata Tito, kabel-kabel lama di bawah tanah terkadang ada yang tidak digunakan saat mereka membuat jaringan baru.

General Manager PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, Syamsul Huda, mengakui hal tersebut. Namun Huda belum bisa memastikan apakah itu kabel bekas milik PLN atau bukan. Sebab, masih menunggu hasil uji lab kepolisian.

"Ada kemiripan dengan kabel yang dulu sempat digunakan oleh PLN, karena dilihat diameternya mendekati sama," ujar Huda, Selasa (8/3), dikutip Merdeka.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR