UANG ELEKTRONIK

Bakar-bakar uang demi cashback, apa sebenarnya yang disasar

Satu produk 'fintech' pada Indonesia Fintech Summit & Expo 2019 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (23/9/2019).
Satu produk 'fintech' pada Indonesia Fintech Summit & Expo 2019 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (23/9/2019). | Aditya Pradana Putra /Antara Foto

Tawaran diskon dan cashback dari penerbit uang elektronik kini menjamur. Uang elektronik seperti DANA, Go-Pay, OVO, atau LinkAja, memberi tawaran yang menarik pengguna. Sekilas, mereka tampak bersaing. Satu menawarkan cashback 20 persen, satunya tak mau kalah, memberi cashback 30 persen.

Selama ini, pemberian cashback itu disebut bakar-bakar uang. Belum ada riset valid yang bisa menjelaskan persaingan kue pasar dan pemenang bakar-bakar uang ini. Satu riset menunjukkan OVO menang, riset lain menempatkan Go-Pay sebagai nomor wahid. Tak heran, ragam tawaran itu menunjukkan perang cashback dan persaingan uang elektronik.

Apa sebenarnya yang mereka sasar?

Harianto Gunawan, Director of Enterprise Payment OVO menyatakan, pemberian cashback untuk memberi rasa percaya kepada konsumen, walau masyarakat sudah biasa memakai layanan perbankan. Menurut Harianto, bank konvensional sudah membangun rasa percaya konsumen itu sejak lama. "Perusahaan fintech, belum ada yang tahu kami siapa, jadi butuh investasi untuk membangun rasa percaya itu," kata dia dalam Indonesia Fintech Summit & Expo, di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta, Selasa (24/9/2019).

OVO menilai mengalihkan kepercayaan konsumen dari tunai ke uang elektronik saja tak cukup. Tapi juga sudah nyaman atau belum "Salah satu cara meyakinkan konsumen adalah memberi mereka dengan instentif," ujarnya.

Aldi Haryopratomo, CEO Go-Pay menyatakan, rasa percaya itu tak hanya disasar kepada konsumen, tapi juga mitra (pedagang dan UMKM). Menurut Aldi, pedagang perlu diyakinkan dengan mencoba pembayaran digital. Bahkan ditambah imbal balik, berupa bantuan promosi untuk mitra.

Sasaran yang dituju, menurut Aldi bukan bersaing menjaring konsumen atau pedagang, tapi memberi akses mereka kepada pembayaran digital hingga ke pengguna terakhir (end user). Membakar uang dengan cashback itu bukan untuk bersaing sesama fintech atau melawan bank konvensional. "Lawan kami bukan sesama fintech tapi pembayaran tunai," ujarnya di forum yang sama.

CEO DANA, Vincent Henry Iswaratioso menilai promosi yang mereka lakukan adalah sarana untuk mengedukasi konsumen. Konsumen diajak menjajal pembayaran digital agar berubah dari metode lama. "Itu tak murah dan memakan waktu. Serta butuh mengubah pola pikir," kata Vincent, yang turut hadir.

Jika tanpa ada insentif, maka edukasi dinilai tak akan berhasil. Seturut pengalaman Vincent, ia pernah menjajal perubahan perilaku tanpa insentif. Hasilnya hanya 20 persen yang mau mengubah perilaku.

Insentif itu perlu diberikan, terutama bagi mereka yang belum tersentuh perbankan (unbanked/undeserve people). "Semua produk dan inovasi harus menjawab kebutuhan mereka," kata dia.

Vincent menyatakan, uang tunai jelas tak efisien. Cashback ini perlu untuk meyakinkan jika nontunai (uang elektronik) itu sebagus dengan uang tunai. Publik perlu memahami tak perlu mendapatkan uang dalam bentuk tunai. "Ini sama saja sebenarnya, cuma bentuknya berbeda," ujarnya.

Danu Wicaksana, CEO LinkAja menilai, uang tunai butuh banyak biaya. Menurutnya, setiap tahun, Rp3,71 triliun dibutuhkan untuk mencetak dan mendistribusikan uang tunai. "Jika bisa dikurangi penggunaan uang tunai, maka akan menghemat banyak," kata dia.

Tak hanya itu, jika subsidi bisa dialihkan lewat uang elektronik, menurut Danu maka penyelewengan subsidi itu bisa ditekan. Misalnya, LinkAja menjalin kerja sama dengan Pertamina untuk menyalurkan bantuan

Sampai kapan 'perang cashback' itu akan berlangsung?

Menurut Aldi, transaksi uang elektronik ini masih sangat kecil. Menurutnya, jika mayoritas masyarakat sudah menggunakan transaksi uang elektronik , maka perkembangan uang elektronik mencapai babak baru.

Harianto menyatakan tak jauh beda. Jika perbankan konvensional setengahnya sudah punya akun bank, dia berharap uang elektronik juga sampai di fase serupa. "Karena di fase itulah, biaya-biaya (operasional pembayaran digital) akan berkurang banyak," ujarnya.

Tapi jalan masih panjang. Harianto menilik statistik Bank Indonesia, transaksi uang elektronik masih kurang dari 10 persen. Vincent menilai lebih kecil lagi. Kita semua masih sangat awal. Masih 7 persen dari seluruh pasar Indonesia.

Walau tampak kecil, tapi secara nominal sudah mencapai sekitar Rp80 triliun.

Menurut penjelasan Bank Indonesia, pertumbuhan transaksi nontunai mencapai 14,6 persen pada Juli 2019. Transaksi itu meliputi ATM-Debit, Kartu Kredit, dan Uang Elektronik. ATM-Debit terbesar, dengan porsi 94 persen. Artinya, transaksi kartu kredit dan uang elektronik hanya 6 persen.

Tak heran, penggunaan uang elektronik tumbuh tinggi, mencapai 261,2 persen jika dibandingkan pada Juli tahun lalu. "Ini mengindikasikan pilihan masyarakat terhadap penggunaan uang digital yang terus menguat dan tendensi integrasi uang elektronik dalam ekosistem digital yang meluas," kata Gubernur BI saat konferensi pers, Kamis pekan lalu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR