KESEHATAN PANGAN

Balada kadal mati di dalam kemasan keripik

Irvins yang populer karena keripik telur asinnya terlihat di Terminal 2 Bandara Changi, Singapura (20/6/2018).
Irvins yang populer karena keripik telur asinnya terlihat di Terminal 2 Bandara Changi, Singapura (20/6/2018). | TY Lim /Shutterstock

Irvins, sebuah merek dagang asal Singapura meminta maaf lewat unggahan Instagramnya. Produsen keripik berbumbu telur asin itu mengaku lalai menyusul temuan seekor kadal di dalam kemasan camilan itu.

Kehebohan diawali oleh aduan Jane Holloway (38), seorang konsumen asal Thailand yang mengaku menemukan kadal di dalam kemasan keripiknya.

Holloway menyebarkan kabar tersebut lewat unggahan foto dalam laman Facebook pribadinya, Sabtu (29/12/2018). Ia menceritakan ibu dan saudara laki-lakinya yang menemukan kadal mati, ia menyebutnya tokek, di dalam kemasan keripik yang sudah setengah habis.

"Tokek ini mungkin sudah ikut tergoreng bersama kulit salmon jika dilihat dari tampilannya. Eeeewwwww!" tulisnya dalam laman Facebook (h/t Channel News Asia).

Tak pelak, kabar ini menjadi viral dan dimuat oleh berbagai media. Tentu saja menjadi viral karena Irvins adalah jenama makanan ringan yang cukup populer di Asia, termasuk di Indonesia.

Di Singapura, gerainya di beberapa tempat selalu penuh oleh antrean konsumen. Tidak sedikit dari mereka menjadikannya oleh-oleh. Padahal, tidak jarang para pembeli harus kecewa karena kehabisan camilan khas tersebut.

Saat ini, Irvins yang berdiri sejak 2014 sedang menyelidiki insiden itu. Irvin Gunawan, sang pendiri merek tersebut, menambahkan bahwa kasus ini sudah dilaporkan ke otoritas berwenang, Agri-Food and Veterinary Authority of Singapore (AVA).

"Kami berjanji untuk menyelidiki ini lebih lanjut karena kami tidak bisa menjelaskan bagaimana kadal mati bisa berakhir di kantong makanan ringan. Kami berjanji untuk melakukan perubahan yang diperlukan dalam produksi untuk memastikan ini tidak akan terjadi lagi," kata Irvin.

Sebagai permintaan maaf, Irvins juga menawarkan pengganti kerugian dan biaya pengobatan jika pelanggannya terpaksa membutuhkan perawatan medis akibat kasus kadal mati ini.

Warganet menanggapi permintaan maaf Irvins dengan positif. Mereka cukup menghargai kejujuran dan upaya jenama keripik itu.

Bagaimana itu terjadi

Kasus yang dialami Irvins bukan edisi pertama. Hal seperti ini sudah kerap kali terjadi dan diekspos hingga viral di dunia maya.

Di Indonesia, Februari 2018, jenama kue Momoiro sempat viral setelah pelanggannya menemukan sekotak bolu penuh dengan ulat. Di luar negeri, ada kasus tikus dalam minuman bersoda, hingga katak di dalam makanan. Yang cukup mengherankan, kemasan makanan tertutup dengan rapat tanpa celah.

Lalu bagaimana konsumen bisa menemukan hewan atau benda-benda tak lazim dalam kemasan makanan?

Spesialis keamanan makanan Ben Chapman, dari North Carolina State University, Amerika Serikat, mengungkapkan kemungkinan terbesar adalah bagaimana perusahaan memanen material masing-masing.

Menurut Chapman, perusahaan besar biasanya memilih pemanen mekanis daripada memanen secara manual. "Bukan tak mungkin mesin untuk panen itu membawa serta apa saja bersama hasil panennya," jelas Chapman dalam Tech Times (10/4/2017).

Chapman juga menguraikan kemungkinan hewan-hewan kecil itu terbawa terus hingga proses pencucian, sortir, sampai pengeringan. Mereka juga bisa saja tertimbun di balik tumpukan bahan pembuat makanan tersebut sehingga berhasil lolos dari kontrol yang ketat sekali pun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR