PERUBAHAN IKLIM

Bali lebih panas bukan karena Gunung Agung

Wisatawan memadati Pantai Kuta di Badung, Bali, Selasa (25/12/2018)
Wisatawan memadati Pantai Kuta di Badung, Bali, Selasa (25/12/2018) | Fikri Yusuf /Antara Foto

Sepekan belakangan, cuaca di Denpasar, Bali, terasa lebih panas. Namun, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hal itu tak terkait dengan peningkatan aktivitas Gunung Agung yang saat ini mencapai level III (siaga).

"Berdasarkan pantauan kami di beberapa lokasi stasiun pengamatan cuaca yang ada di Bali, dalam beberapa hari terakhir memang ada sedikit peningkatan suhu udara, khususnya suhu udara maksimum dan minimum harian.

"Namun hal ini bukan disebabkan pengaruh aktivitas Gunung Agung, melainkan karena faktor lainnya," kata Prakirawan BMKG Bali, Putu Agus Dedy Permana, ketika dimintai konfirmasi oleh detikcom, Jumat (11/1/2019).

Selain lebih panas, Bali kini juga mengalami siang yang lebih lama dibanding malam hari. Menurut catatan BMKG, di wilayah Bali saat ini matahari terbit pukul 06.20 WITA dan tenggelam pada 18.30 WITA. Lebih lambat sekitar 30 menit dari hari-hari biasa.

Untuk suhu udara maksimal pada, Jumat (11/1), di Bandara Ngurah Rai sekitar 32 derajat Celcius -- lebih panas dari suhu normalnya 30,9 derajat. Sedangkan suhu di daerah Sanglah dan Negara berkisar antara 34-35 derajat, sementara suhu normalnya berada di kisaran 30,9-32 derajat.

Akhmad Taufan Maulana, Kepala Sub Bagian Hubungan Pers dan Media BMKG, menegaskan bahwa kenaikan suhu tersebut dipengaruhi oleh posisi matahari yang saat ini berada di selatan garis ekuator.

Temperatur memang dipengaruhi derajat dan intensitas radiasi matahari ke permukaan bumi, serta faktor kelembapan.

Kondisi ini lumrah adanya, terurama pada masa perpindahan musim dari kemarau ke penghujan. Biasanya terjadi pada Januari hingga Maret.

Akibat fenomena ini, daerah-daerah yang berada di sebelah selatan equator termasuk Bali akan terasa lebih panas.

"Pada malam hari cuaca cenderung berawan sehingga panas yang harusnya dilepaskan oleh permukaan daerah setempat tertahan oleh awan yang menyebabkan suhu semakin hangat pada malam hari jika dibandingkan pada saat tidak ada awan," ucapnya, seperti dikutip CNNIndonesia, Jumat (11/1).

Sementara itu menanggapi kabar teranyar aktivitas Gunung Agung di Buleleng, Ketua Tim Tourism Crisis Center (TCC) Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Guntur Sakti, memastikan tak berimbas. Erupsi yang terjadi pada Kamis (10/1) pukul 19.55 WITA, menurut Guntur, tak mempengaruhi kegiatan wisata dan penerbangan ke Pulau Bali, Pulau Lombok, dan sekitarnya.

Erupsi gunung berketinggian 3.031 m dpl tersebut terekam dalam seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi kurang lebih empat menit 26 detik. Dilaporkan pula kolom abu tidak teramati karena kabut.

"Hingga saat ini, aktivitas penerbangan di Bali dan sekitar masih tetap normal. Tidak menyebabkan hingga bandara harus ditutup. Kegiatan wisata juga masih berjalan normal," ujar Guntur seperti dikutip Kompas.com, Jumat (11/1).

Namun, Guntur yang juga Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar, meminta masyarakat mematuhi rekomendasi yang sudah diumumkan. Misalnya, mereka yang bermukim di sekitar Gunung Agung serta para pendaki dan wisatawan tidak melakukan aktivitas di zona radius empat km dari puncak kawah.

Selain itu, masyarakat sekitar permukiman dan punya kegiatan di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung juga perlu berjaga dan waspada. Namun kebetulan, lokasi atau kawasan berbahaya itu jauh dari destinasi seperti Kuta, Sanur, Nusa Dua, Nusa Penida, Tanah Lot, Ulu Watu, dan sebagainya.

"Kegiatan wisata berjalan normal namun wisatawan dan warga tetap harus waspada dan menjauh dari radius batas erupsi," ujar Guntur dilansir Tempo.co, Jumat (11/1).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR