Bangunan Asian Games bakal disewakan untuk umum

Bendera negara atlet peserta Asian Asian Games terpasang di luar kamar Hotel Wisma Atlet Jakabaring, Palembang, Sumsel, Sabtu (18/8/2018).
Bendera negara atlet peserta Asian Asian Games terpasang di luar kamar Hotel Wisma Atlet Jakabaring, Palembang, Sumsel, Sabtu (18/8/2018). | Wahyu Putro A /Antara Foto/Inasgoc

Pemerintah telah mengantongi opsi alih fungsi bangunan dan venue olahraga usai perhelatan Asian Para Games 2018 rampung, pertengahan Oktober mendatang.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuldjono memaparkan, venue olahraga baik di Jakarta maupun Palembang tetap bisa digunakan oleh publik namun bakal dikenakan tarif masuk.

Sementara, bangunan seperti Wisma Atlet Jakabaring dan Jakarta akan dialihfungsikan sebagai rumah susun milik (rusunami) atau rumah susun sewa (rusunawa).

Khusus untuk Wisma Atlet Jakarta, jika pada akhirnya akan diperjualbelikan, maka pengelola--melalui Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran Kementerian Sekretariat Negara--memerlukan perubahan Instruksi Presiden (Inpres) terlebih dahulu.

Sebab, Inpres Nomor 2 Tahun 2016 tentang Dukungan Penyelenggaraan Asian Games XVIII Tahun 2018 telah mengatur peruntukkan Wisma Atlet Jakarta pasca-kegiatan olahraga berakhir adalah sebagai rusunawa.

Selain menghindari bangunan terbengkalai, opsi-opsi ini dipilih pemerintah demi mengoptimalkan pengelolaan serta meringankan biaya perawatan yang nilainya cukup besar.

"Makanya, desain beberapa venue memang multifunction, seperti di Istora (Senayan), Hall Basket Senayan, Lapangan Tennis Indoor Senayan, supaya bisa dipakai untuk menghasilkan uang," kata Basuki, dikutip dari laman Okezone, Senin (10/9/2018).

Namun Basuki meminta dua menara di Wisma Atlet Jakarta tidak disewakan, berjaga-jaga jika suatu saat dibutuhkan untuk kepentingan atlet. "Jadi, sewaktu-waktu masih bisa dipakai atlet," sambungnya.

Untuk diketahui, Wisma Atlet Jakarta memiliki 10 menara dengan total 7.426 kamar yang terbagi dalam dalam dua area, tujuh menara di Kemayoran, Jakarta Pusat, dan tiga lainnya di Ancol, Jakarta Utara.

Setiap menara sudah dilengkapi dengan elevator. Tiap unitnya seukuran rumah tipe 36 meter persegi dengan dua kamar lengkap beserta dapur dan ruang keluarga.

Karena diperuntukkan bagi para atlet, tiap kamar sudah dilengkapi dengan mebel berikut pendingin udaranya. Fasilitas lain yang terdapat pada wisma meliputi kolam renang serta aula makan di luar gedung.

Khusus untuk atlet Asian Para Games, ada lima menara di Kemayoran yang desainnya sudah dibuat ramah bagi atlet difabel, salah satunya pintu-pintu yang diperlebar agar cukup untuk akses masuk kursi roda. Ada juga perbaikan kolam renang yang dibuat menyesuaikan kebutuhan para penyandang disabilitas.

Fasilitas tak berbeda juga dimiliki Wisma Atlet Jakabaring, Palembang. Laporan KOMPAS.com menyebut, Wisma Atlet Jakabaring memiliki 8 menara yang sanggup menampung 2.000 orang.

Masing-masing kamar dilengkapi dengan tiga tempat tidur, kamar mandi, pendingin udara, lemari pakaian, kulkas, jaringan telpon, serta mebel pendukung lainnya.

Karena terletak di kompleks Jakabaring Sport City Center, maka wisma tersebut juga dilengkapi berbagai fasilitas olahraga seperti shooting range, canoeing and rowing center, skateboard, lapangan voli pantai, Stadion Gelora Bumi Sriwijaya, Stadion Tenis, Lakeside Jakabaring Triathlon, stadion aquatic, stadion atletik, GOR Danau, sport climbing, dan rollerblade.

Belum ada informasi lanjutan terkait tarif yang bakal dipatok untuk menyewakan bangunan-bangunan ini. Namun, Basuki mengaku bakal menyerahkan seluruhnya kepada pengelola sehingga bisa menghasilkan cashflow demi menutupi biaya operasional.

Bangunan dan venue olahraga yang dibangun untuk Asian Games 2018 merupakan aset Sekretariat Negara, akan tetapi pembangunannya turut melibatkan pembiayaan dari swasta.

Estimasi harga jual

Direktur Riset Savills Indonesia Anton Sitorus menghitung-hitung harga jual ideal untuk satu unit Wisma Atlet Kemayoran dengan estimasi Rp20 juta hingga Rp25 juta per meter persegi.

Anton beralasan, Wisma Atlet Kemayoran memiliki semua faktor yang diidamkan para pencari rumah; mulai dari kelengkapan fasilitas, akses transportasi yang mudah, hingga posisinya yang berada di pusat kota.

Dengan kata lain, satu unit bangunan di Wisma Atlet Kemayoran bisa dibanderol dengan harga Rp720 juta hingga Rp900 juta.

"Apalagi di sekelilingnya terdapat apartemen kelas menengah atas yang harga jualnya sudah di kisaran Rp30 juta-Rp45 juta per meter persegi. Seperti proyek apartemen milik Agung Sedayu Group," kata Anton kepada KOMPAS.com.

Proyek pembangunan Wisma Atlet Kemayoran menelan biaya hingga Rp3,5 triliun. Proyek digarap oleh PT Waskita Karya (Persero) dan KSO Abipraya-Indulexco, Adhi Karya-Jaya Konstruksi-Penta, serta KSO Wika Cakra.

Sementara itu, Sekretaris PT Jakabaring Sport City (JSC) Mirza Zulkarnain Mursalin mengaku, sebelum Asian Games 2018, biaya perawatan yang mencakup venue, karyawan, dan lainnya adalah Rp1,5 miliar.

Namun, setelah venue dan fasilitas pendukung bertambah, biaya perawatan ditaksir meningkat Rp500 jutaan menjadi Rp2 miliar. Sementara, total biaya yang digelontorkan untuk membangun serta merenovasi JSC mencapai Rp600 miliar.

"Kami berkonsentrasi mengoptimalkan venue yang ada. Untuk konser, kawinan, tidak apa-apa demi meningkatkan okupansi. Asal, rencana pembangunan tidak berubah," kata Mirza dalam CNN Indonesia, awal September 2018.

Kendati begitu, Mirza mengaku sudah mendapat peringatan dari Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin agar tidak salah mengelola JSC. Sebab, mereka optimistis JSC bakal digunakan kembali dalam Olimpiade 2032 nanti.

"Pola pikirnya harus mulai dari PON, SEA Games, Asian Games, dan kemudian Olimpiade. Itu yang dibilang Pak Gubernur," tutur Mirza.

BACA JUGA