BENCANA ALAM

Banjir dan longsor di Mandailing hanyutkan 77 rumah

Warga berada didekat badan jalan nasional lintas tengah Sumatera yang rusak, di Desa Saba Pasir, Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatra Utara, Kamis (8/11/2018).
Warga berada didekat badan jalan nasional lintas tengah Sumatera yang rusak, di Desa Saba Pasir, Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatra Utara, Kamis (8/11/2018). | Holik Mandailing /AntaraFoto

Belum genap satu bulan berselang sejak banjir bandang menerjang Mandailing Natal (Madina) pada 12 Oktober, wilayah di Sumatra Utara (Sumut) itu kembali diterpa bencana serupa.

"Ini hujan deras terus mulai dari semalam. Banyak rumah yang terendam banjir dan ada juga yang hanyut. Jadi banyak kecamatan yang belum bisa kita dapat datanya," kata Kasi Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madina, Sulpardi, kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/11/2018).

Bencana terbaru terjadi pada Rabu (7/11/2018). Curah hujan tinggi, di atas 100 mm, membasahi Kabupaten Madina dari sore hingga malam. Akibatnya 13 kecamatan terdampak banjir.

Banjir setinggi 70 cm, menurut Merdeka.com, melanda kecamatan Panyabungan, Tambangan, Kotanopan, Hutabargot, Batang Natal, dan Naga Juang. Adapun Kecamatan Lingga Bayu menjadi lokasi terdampak paling parah.

Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di Panyabungan Selatan, Panyabungan Timur, dan Batang Natal. Longsor pun menyebabkan ruas jalan jalur lintas Sumatera di Kotanopan anjlok .

Kepala Pelaksana BPBD Madina, M Yasir Nasution, mengatakan bahwa jumlah rumah yang hanyut pun bertambah. Dari 46 unit yang terdata pada tahap awal, kini bertambah jadi 77 rumah.

Sebanyak 46 rumah yang hanyut berada di Kecamatan Lingga Bayu, sementara 31 rumah hanyut dari Kecamatan Batang Natal. Semuanya terbawa arus Sungai Batang Natal yang meluap.

Hanyutnya puluhan rumah dan banjir dipastikan tak memakan korban jiwa, sebab sebelumnya warga lebih dulu diungsikan ke Gedung Serbaguna di Jalan Mandailing. Berbeda dengan tanah longsor yang merenggut satu korban jiwa.

"Satu orang meninggal karena tertimbun longsor. Korban tewas bernama Hafiz, (31) warga Desa Sibinail, Kecamatan Muara Sipongi. Saat ini korban sudah ditemukan dan dievakuasi," kata Yasir dikutip Viva.co.id, Kamis (8/11).

Saat ini, Jumat (9/11), banjir dilaporkan telah surut. Ribuan warga yang mengungsi juga mulai kembali ke rumahnya untuk membersihkan material yang terbawa banjir.

BPBD Madina pun masih bekerja, mengevakuasi, dan mendata warga terdampak. Sementara itu, BPBD Provinsi Sumut juga telah menurunkan pasukan ASN/satgas, peralatan (perahu, tenda, truk, dll) untuk penanganan.

Mereka juga membawa bantuan logistik. Mereka berkoordinasi dengan Pemkab Madina dan PMI Sumut untuk memberikan bantuan medis dan sebagainya.

Hanya saja, hingga saat ini akses jalan lintas provinsi masih terputus di Kecamatan Kotanopan. Curah hujan yang tinggi pun masih menjadi ancaman bagi masyarakat di wilayah tepi sungai.

Penyebab banjir dan longsor

Banjir dan longsor yang kerap melanda Madina, menurut prakirawan BMKG Wilayah I Medan, Lestari Irene Purba, disebabkan oleh gangguan cuaca di daerah tekanan rendah di Samudera Hindia. Lestari pun mengingatkan bahwa cuaca ekstrem masih mengancam.

"Cuaca ini akan terus terjadi hingga dua hari ke depan, di hari ketiga lah, baru hujan akan turun dengan intensitas ringan," kata Lestari.

Wilayah terdampak cuaca ekstrem pun diprediksi dapat meluas hingga ke kawasan lain di Pantai Barat Sumut seperti Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Padang Lawas, dan Padang Lawas Utara.

Sementara itu, menurut keterangan warga, penebangan hutan secara liar menjadi biang keladi penyebab terjadinya banjir dan longsor. Kendati demikian, aksi tersebut sudah beberapa kali dilaporkan kepada kepolisian dan pemerintah setempat. Sayangnya, hingga kini belum terlihat ada tindakan tegas.

“Kami dari kalangan pemuda ingin menyampaikan ini ke Kabupaten, di daerah kita ini ada pembalakan liar, sehingga serapan air di perbukitan kurang dan air langsung ke sungai. Bukan perkebunan, masyarakat sudah beberapa kali konfirmasi ke polsek dan kecamatan, tapi respon sama sekali belum ada," beber sang warga kepada Akurat, Jumat (9/11).

BACA JUGA