BENCANA ALAM

Banjir mengepung Aceh

Seorang warga menerobos banjir di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, Selasa (5/12/2017).
Seorang warga menerobos banjir di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, Selasa (5/12/2017). | Rahmad /Antara Foto

Musim penghujan di Indonesia berarti bakal ada bencana banjir. Aceh adalah salah satu daerah yang lazim banjir ketika musim hujan tiba.

Setelah banjir terjadi di Kabupaten Aceh Singkil, awal November lalu, kini wilayah yang tergenang di wilayah Nanggroe makin luas. Bahkan di Aceh Utara, banjir memaksa pemerintah daerah untuk menetapkan status darurat banjir pada kurun 2-15 Desember.

Wakil Bupati Aceh Utara, Fauzi Yusuf, menjelaskan status darurat diambil lantaran jumlah wilayah yang tergenang banjir mencapai sekitar 85 persen. "...23 dari 27 kecamatan terendam banjir akibat luapan Krueng Keureuto, Krueng Pase, Buloh, Krueng Tanah Jambo Aye dan sejumlah sungai lainnya," kata Fauzi kepada Serambi Indonesia, Selasa (5/12/2017).

Hingga Rabu (6/12), ketinggian banjir yang sempat 1-2 meter kini mulai surut. Go Aceh menulis kawasan jalan Lintas Medan-Banda Aceh di Lhoksukon bahkan sudah kering dan bisa dilalui dengan normal. Padahal Senin (4/12) lalu, kendaraan sulit melewati jalan ini karena arus air yang menyeberangi badan jalan cukup kencang.

Banjir di Aceh Utara ini membuat aktivitas masyarakat lumpuh. Kepala Humas Pemkab Aceh Utara, Teuku Nadirsyah, menunjukkan data yang masuk hinga Rabu (6/12). Banjir merusak 15 kantor kepala desak, 41 sekolah, lima masjid, dua kantor polsek, satu kantor koramil, dan dua puskesmas.

Sementara di Lhoksukon; rumah sakit, ratusan toko, warung, kedai, serta pusat kegiatan bisnis lumpuh akibat banjir. Tak luput pula kantor-kantor pemerintahan.

Dilansir Kompas.com, Teuku menjelaskan masih mendata kerusakan dan kerugian lain. Namun data yang sudah ada dilaporkan langsung ke Gubernur Aceh Irwandi Yusuf di Banda Aceh dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta.

Banjir juga merusak persawahan (puso). Irosnisnya, sawah yang tergenang banjir justru baru saja ditanami padi. Antara lain di Gampong Matang Santoet, Teupin Gajah, Matang Seuke Pulot, Lhok Beuringen, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kecamatan Baktiya, Langkahan, Seunuddon, dan Baktiya Barat. Luasnya, ratusan hektare.

Banjir dengan ketinggian air minimal satu meter juga melanda Kabupaten Aceh Selatan. Warga di tiga kecamatan (Kota Bahagia, Trumon Timur, dan Trumon Tengah) terpaksa dievakuasi tim SAR gabungan. Adapun desa yang paling parah terdampak adalah Desa Lhok Raya dan Cot Bayu.

"Ketinggian banjir sudah mencapai 2 meter. Aktivitas warga lumpuh total, dan banyak yang mengungsi," kata Faridah, salah seorang korban banjir, kepada MNC Media (h/t Sindonews).

"Ketinggian banjir sudah mencapai 2 meter. Aktivitas warga lumpuh total, dan banyak yang mengungsi," kata Faridah

Sejauh ini belum ada korban jiwa. Namun hinga Rabu, menurut data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara yang diperoleh Media Indonesia (h/t Metrotvnews.com), sedikitnya 16.375 jiwa mengungsi.

Posko pengungsian diletakkan di daerah yang datarannya lebih tinggi, tapi bangunan seadanya. Misal balai desa, sekolah, dan bahkan di atas jalan raya. Jumlah posko pengungsi sempat berjumlah 31 dan tersebar di 15 kecamatan.

Namun data BPBD Aceh Utara berkembang dan para pengungsi tersebar di 56 titik yang meliputi 23 Kecamatan. "...tapi sekarang ada mencoba pulang ke rumah karena air mulai surut" kata Kepala BPBD aceh Utara, Munawar.

Dua orang petani membawa padi mereka yang rusak akibat banjir di Desa Nga, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Minggu (3/11/2017).
Dua orang petani membawa padi mereka yang rusak akibat banjir di Desa Nga, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Minggu (3/11/2017). | Rahmad /Antara Foto

Masalah klasik pengungsi

Ada pengungsi berarti ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Bantuan sejauh ini mengalir, termasuk dari pihak swasta dalam bentuk bantuan tanggung jawab sosial (CSR).

Masalah klasik pertama yang menghampiri adalah penyakit. Sejumlah pengungsi dilaporkan mulai terserang penyakit ringan seperti alergi, flu, demam, dan gatal-gatal.

Selain dari BPBD, bantuan kesehatan serta tim medis pun hadir dari tim Polres Lhokseumawe dan Polda Aceh. Kapolres Lhokseumawe AKBP Hendri Budiman mengungkapkan telah menurunkan satu tim terdiri seorang dokter dan dua perawat.

"Kita bawa obat-obatan dan ambulans. Bagi yang perlu dirujuk langsung dibawa ke rumah sakit," ujar Hendri.

Di sisi lain, banjir yang terjadi di Aceh ini akibat hujan deras berhari-hari. Hujan deras membuat sungai meluap dan tanggul pun jebol.

Soal tanggul yang jebol ini, menurut seorang warga, sebenarnya bisa diantisipasi andai pemerintah daerah serius bekerja. Seorang warga Lhoksukhon bernama Azwir, menceritakan bagaimana lokasi tanggul yang sama di Desa Blang, Lhoksukon, pernah jebol pada beberapa tahun lalu.

Azwir, kepada detikcom, memberi contoh bagaimana tanggul-tanggul yang jebol itu bisa diperbaiki dan ditinggikan atau diperbaiki kualitasnya. Namun itu tidak dikerjakan pemkab Aceh Utara.

"Saya berharap pemimpin harus lebih bijak dalam melihat suatu permasalahan. Setiap pekerjaan fisik yang dibuat untuk masyarakat layak dan berkualitas," imbuh Azwir.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR