Banjir mulai melanda Aceh dan Sumatera Utara

Beberapa warga melintasi banjir yang merendam permukiman penduduk di pinggiran Sungai Deli, Kecamatan Medan Maimun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (7/11/2018).
Beberapa warga melintasi banjir yang merendam permukiman penduduk di pinggiran Sungai Deli, Kecamatan Medan Maimun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (7/11/2018). | Irsan Mulyadi /Antara Foto

Musim penghujan mulai menghampiri Indonesia, untuk sementara masih meliputi wilayah utara pulau Sumatera. Sejak awal pekan ini; provinsi seperti Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Riau mengalami peningkatan curah hujan.

Karena hujan berlangsung deras dan cukup lama, sungai tak mampu menampung debit air. Ditambah daerah aliran sungai yang rusak, banjir pun tak bisa dihindari.

Siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rabu (8/11/2017), mengungkapkan banjir terjadi di Kabupaten Aceh Singkil (Aceh), Kabupaten Asahan dan kota Medan (Sumut), Kabupaten Pelalawan (Riau).

Banjir di Singkil, menurut data Pusdalops BPBD Kabupaten Aceh Singkil yang dikutip AcehSatu.com, sedikitnya meliputi delapan desa di Kecamatan Suro. Bahkan menurut Camat Suro Abdul Manaf, Desa Bulusema di Kecamatan Suro mengalami banjir bandang pada Rabu dini hari dengan kisaran ketinggian air 1,5- 2 meter.

Total ada 1.738 warga dan ratusan rumah yang terdampak oleh banjir di delapan desa ini. Dan warga terdampak boleh jadi bakal bertambah karena hingga kemarin belum ada data dari kawasan Bulohsema.

Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid, mengatakan BPBD dan seluruh pihak terkait sudah mendirikan dapur umum serta posko kesehatan. Kompas.com melaporkan pusat pengungsian terletak di Kecamatan Suro dan Kecamatan Simpang Kanang, sementara posko kesehatan berada di empat desa.

Banjir di Singkil dipicu hujan deras selama tiga hari beruntun. Banjir pun memutus sebagian jalur transportasi.

Lintas jalan Singkil-Subulussalam di Desa Selatong, Kecamatan Simpang Kanan dan lintas Singkohor-Kota Baharu ke Gunung Meriah di Desa Cingkam Solok lumpuh total. Bahkan di lintas Singkil-Subulussalam, sebuah mobil MPV terseret banjir bandang dan warga di Desa Selatong harus diungsikan.

Banjir kemudian menyusut pada Rabu siang, meski demikian kendaraan belum berani melintas karena arus air cukup kencang. Mobil MPV yang terseret arus itu pun karena berusaha menerobos banjir.

"Akibat banjir kendaraan tidak bisa melintas. Antrean kendaraan dari lokasi jembatan sampai ke depan Polsek Suro," kata Andri, warga lokal, yang dikutip Serambi Indonesia.

Adapun banjir di kota Medan terjadi pada Selasa (7/11) dinihari WIB. Wilayah yang terendam banjir terletak di sekitar Sungai Deli.

Detikcom menulis sekitar 170 kepala keluarga terusik banjir dengan ketinggian air 10 cm hingga satu meter tersebut. Hingga Rabu, banjir sudah surut tapi tak tertutup kemungkinan banjir lagi apabila hujan turun tiada henti.

Namun banjir yang lebih parah di Sumut terjadi di 11 kecamatan di Kabupaten Asahan. Rerata ketinggian air mencapai 50 cm.

Data BPBD Kabupaten Asahan yang dilansir Antaranews, Kamis (9/11), menyebutkan banjir terparah melanda Desa Silau Tua (Kecamatan Tinggi Raja) dan Desa Piasa Ulu (Kecamatan Buntu Pane).

Total ada 3.781 rumah yang terganggu banjir di 11 kecamatan tersebut. Tiga sekolah dasar, lima kantor pemerintahan, dan ratusan hektar lahan pertanian pun terendam.

Banjir di Asahan juga merusak infrastruktur. Misalnya delapan tanggul jebol, sejumlah jembatan putus, dan abrasi pada sejumlah drainase serta ruas jalan. Ada pula longsor.

Banjir ini disebabkan oleh hujan deras di kawasan hulu sungai di Kabupaten Simalungun. Alhasil permukaan air sungai besar Aek Silau Piasa dan Sungai Piasa Ulu meningkat cepat.

"Kerugian materi akibat bencana banjir ditaksir sekitar Rp47 miliar," kata Kepala BPBD Kabupaten Asahan, Syarifuddin Harahap, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Asahan, Khaidir Sinaga.

Di Sumut pula, banjir melanda puluhan rumah di Dusun Sibara-Bara, Desa Simataniari, Kelurahan Rianiate, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Rabu. Banjir akibat luapan Sungai Aek Sangkunur dan Batangtoru itu terjadi mulai pukul 08.00 WIB dengan ketinggian air maksimal satu meter.

Kabid Humas dan Kepala Pusdatin BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengingatkan masyarakat untuk waspada pada bencana banjir dan longsor yang puncaknya diprediksi terjadi pada Januari 2018. Permukiman menjadi sensitif terhadap banjir karena lingkungan di sekitar sungai atau bukit sudah rusak.

Akibatnya sejumlah daerah makin rentan bencana banjir. Bukti paling nyata adalah banjir di Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang di Kabupaten Bandung (Jawa Barat) yang bisa terjadi lebih dari 15 kali dalam satu tahun. Kabupaten Asahan pun begitu, bisa terendam banjir lima kali dalam satu tahun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR