Banjir Rancaekek Bandung dan pabrik tekstil

Ilustrasi warga menyelamatkan hewan peliharaannya pada banjir luapan sungai citarum di Bojongasih, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/3/2017).
Ilustrasi warga menyelamatkan hewan peliharaannya pada banjir luapan sungai citarum di Bojongasih, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/3/2017).
© Novrian Arbi /Antara Foto

Banjir menggenangi jalan nasional Bandung-Garut di Rancaekek, Kabupaten Bandung sehingga mengakibatkan arus lalu lintas terganggu. Banjir di kawasan industri itu membuat pabrik tekstil Kahatex selalu menjadi sorotan karena dianggap sebagai penyebabnya.

Kepala Polisi Sektor Cimanggung Komisaris Polisi Amin Taufan, dikutip Antara, mengatakan banjir terjadi sejak Minggu (19/3/2017) dan masih tetap menggenangi kawasan industri itu sampai Senin (20/3/2017).

Banjir di kawasan industri Kahatex terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah itu Minggu malam kemarin sehingga membuat air sungai dan selokan meluap untuk menggenangi badan Jalan Raya Bandung-Garut setinggi kurang lebih 40-50 cm.

Sejumlah kendaraan dialihkan untuk mengurai kepadatan arus kendaraan dari arah Bandung menuju Garut. Lalu lintas dari arah Cileunyi ke Garut dialihkan ke Jatinangor-Tanjungsari untuk keluar di Parakamuncang. Arus kendaraan juga dialihkan ke Rancaekek-Majalaya hingga keluar dari Cicalengka, kemudian arah sebaliknya dari Garut menuju Bandung dialihkan ke Majalaya-Rancaekek.

Banjir di jalan Rancaekek itu disebut-sebut karena pabrik tekstil Kahatex. Pegiat sosial Sumedang Asep Surya Nugraha pernah melaporkan ke Kejaksaan Agung soal dugaan kerusakan lingkungan oleh PT Kahatex.

"Kasus Kahatex pernah sampai ke meja hijau karena dianggap membangun jembatan ilegal di atas saluran Sungai Cikijing di area pabriknya tanpa izin. Dan ini yang membuat Jalan Rancaekek selalu banjir. Ternyata kasusnya sudah putus tingkat banding, ya mereka lolos," kata Asep dikutip Fokusjabar.

Menurut Asep, banjir di Jalan Bandung-Garut tak akan kunjung usai jika, Kahatex diperlakukan istimewa dan tak taat aturan.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan penanganan banjir di Jalan Raya Rancaekek, Kabupaten Bandung berlangsung secara terpadu oleh banyak pihak. Mulai dari pemerintah pusat, provinsi, daerah termasuk pihak swasta yakni PT Kahatex. Proyek ini diperkirakan selesai pada 2018.

Iwa mengatakan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terus melakukan upaya normalisasi sungai di sekitar kawasan serta yang berbatasan dengan Kabupaten Sumedang. Dengan anggaran dana sekitar Rp579,7 juta, pemerintah mempersiapkan strategi penanganan banjir yang akhir pekan ini kembali memutus lalu lintas Garut-Bandung dan sebaliknya dari mulai struktural hingga kultural.

"BBWS sejak 2016 tengah membebaskan lahan Sungai Cikijing, Sungai Cimande dan Citarum hulu seluas 53 hektare, diproyeksikan tuntas 2018," kata Iwa dilansir Antara, Senin (13/3/2017).

Rehabilitasi sungai ini menurutnya menjadi yang diutamakan karena kapasitas sungai tidak sebanding dengan arus air. Setelah pembebasan lahan senilai Rp220 juta dari APBN, selanjutnya akan dilaksanakan konstruksi di sungai Cikijing, Citarik, Cimande dan Cikeruh.

Upaya penanganan banjir Rancaekek itu juga bersamaan dengan revitalisasi Sungai Cikijing yang juga tengah dilakukan PT Kahatex. Dari mulai membongkar bangunan illegal hingga melakukan revitalisasi dengan pengawasan yang dilakukan Kementerian PUPR.

Kuasa Hukum PT Kahatex, Andy Nababan mengatakan, bangunan pabrik yang menutupi dan mempersempit Sungai Cikijing sudah dibongkar. Semua proses pembongkaran mereka unggah di YouTube dan sudah dilaporkan ke Wakil Presiden Jusuf Kalla. Hal itu terkait penanganan banjir di daerah Rancaekek, Kabupaten Bandung.

"Sudah dibongkar, silakan cek di- YouTube, ada lebih dari 20 video yang kami unggah," ujar Andy melalui Kompas.com, Senin (13/3/2017).

Andy mengatakan, untuk menangani persoalan banjir di Rancaekek, Wakil Presiden Jusuf Kalla mempertemukan PT Kahatex dan Pemprov Jabar.

Dalam mediasi tersebut, diputuskan bangunan perluasan pabrik yang menutupi sungai harus dibongkar. "Seusai pertemuan itu kami langsung bongkar dan kami sudah kami laporkan ke Pak Wapres," tuturnya.

Meski bangunan tersebut dibongkar, banjir di depan Kahatex tetap terjadi. Begitu di cek, banjir bukan dari Sungai Cikijing. Karena ketika banjir terjadi, Sungai Cikijing tidak meluap. "Persoalannya di badan jalan. Air tidak masuk ke Sungai Cikijing, dan itu bukan wewenang kami," katanya.

Ini Bukti Ranjir Jl Rancaekek Bukan Karena Penutupan Cikijing
© Kahatex Peduli
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.