PERDAGANGAN

Banjir teh impor bikin gelisah pengusaha

Pekerja memetik pucuk daun teh di area perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI, Kayu Aro, Kerinci, Jambi, Senin (14/1/2019).
Pekerja memetik pucuk daun teh di area perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI, Kayu Aro, Kerinci, Jambi, Senin (14/1/2019). | Wahdi Septiawan /Antara Foto

Industri teh dalam negeri disebut perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah, khususnya soal penerapan tarif bea masuk impor teh. Hal itu bertujuan untuk mengurangi impor dan meningkatkan konsumsi produk teh dalam negeri.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah mengkaji kembali tarif bea masuk impor teh kualitas rendah yang selama ini membanjiri pasar domestik. Ketua Umum Kadin, Rosan Roeslani, mengatakan saat ini tarif bea masuk sebesar 20 persen masih terlalu kecil dan perlu ditingkatkan lagi.

"Kebijakan bea masuk bagi teh perlu ditinjau kembali, dan kalau masih memungkinkan bisa ditingkatkan bea masuknya," kata Rosan dikutip dari Antaranews, Kamis (14/3/2019).

Rosan mengatakan teh impor berkualitas rendah banyak digunakan sebagai bahan campuran dengan teh Indonesia untuk kemudian dipasarkan baik di dalam maupun luar negeri. Hal tersebut dinilai dapat menurunkan kualitas teh Indonesia yang selama ini merupakan teh terbaik dunia. Selain menurunkan kualitas, teh impor juga berdampak pada perkembangan industri teh Indonesia.

"Maraknya impor ini dampaknya akan terasa kepada para pelaku agribisnis perkebunan teh. Bukan hanya perkebunan rakyat, tapi juga perkebunan milik negara dan swasta," katanya.

Usulan untuk meningkatkan tarif bea masuk teh impor juga didukung oleh Peneliti Kebijakan Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Rohayati Suprihatini. Ia menyebutkan tarif bea masuk impor teh ke Indonesia tergolong rendah.

Menurutnya, Indonesia juga harus memasang tarif bea masuk cukup tinggi untuk memproteksi produk teh dalam negeri dari serbuan produk teh asing. Saat ini bea masuk teh ke Indonesia hanya 20 persen, jauh lebih rendah dari standar 40 persen yang ditetapkan World Trade Organization (WTO).

Dia menyebutkan teh asal Indonesia sulit menembus pasar global sebab beberapa negara tujuan menerapkan bea masuk impor yang cukup tinggi.

"Tiongkok sebagai negara penghasil teh terbesar di dunia tarifnya 15 persen, India memproteksi petaninya dengan tarif 114 persen, kita nggak bisa masuk," ujar Rohayati.

Selain itu, Turki juga menerapkan tarif bea masuk impor yang sangat tinggi, 145 persen. Sehingga produk teh dari negara lain tidak ada yang sanggup menembus pasar Turki. Alhasil, produk teh lokal Turki tetap berjaya sebab tidak punya saingan.

Sementara negara lain di Asia seperti Vietnam juga menerapkan tarif bea masuk tinggi hingga 50 persen. Di sisi lain, Vietnam menggratiskan bea keluar produk teh mereka sehingga pasar dalam negeri terlindungi dan ekspor mencatat hasil.

"Vietnam (tarif bea masuknya) 50 persen. Liciknya dia kalau masuk ke Indonesia 0 persen, kita masuk ke Vietnam 50 persen," ujarnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 terdapat lima negara eksportir teh terbesar ke Indonesia. Mereka adalah Vietnam dengan nilai impor $8,85 ribu AS dan volume impor 9,699 ton. Jumlah ini berkontribusi sekitar 66,07 persen terhadap total impor teh Indonesia.

Posisi kedua ditempati oleh Kenya dengan nilai impor $7,05 ribu AS dengan volume impor 2,383 ton. Sementara, posisi kelima ditempati oleh Taiwan dengan nilai impor US$849 dengan volume sebanyak 262 ton

Namun di sisi lain, ekspor teh Indonesia ke Eropa masih terkendala dengan ketatnya persyaratan. Misalnya dengan pengenaan MRL (batas maksimum residu) tertentu mengenai kandungan anthraquinon yang harus 0,02 persen.

Rosan menilai pemerintah harus gencar melobi otoritas benua biru untuk melonggarkan persyaratan. Kadin juga meminta pemerintah mempertimbangkan penerapan persyaratan hambatan non-tarif seperti seritifikasi halal dan wajib SNI untuk mengurangi teh impor berkualitas rendah.

Secara ekonomi, teh dinilai sebagai salah satu komoditas hasil perkebunan unggulan. Perkebunan teh rakyat di Indonesia bahkan disebut mencapai 46 persen dari total perkebunan teh yang ada sehingga produktivitasnya terus digenjot.

Kadin juga berharap pemerintah dapat mempertimbangkan untuk mengalokasikan kredit murah dengan prosedur yang mudah, terutama untuk perbaikan kebun dan pemeliharaan tanaman; penggantian tanaman tua dengan klon-klon teh unggul yang produktivitasnya bisa mencapai 2,5-5 ton/hektare/tahun, serta modernisasi atau penggantian mesin-mesin tua.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR