Batubara terganjal, tapi tetap dibutuhkan

Suasana bongkar muat batubara di pelabuhan Cirebon, Jawa Barat, Minggu (27/8/2017).
Suasana bongkar muat batubara di pelabuhan Cirebon, Jawa Barat, Minggu (27/8/2017).
© Dedhez Anggara /ANTARAFOTO

Upaya pemerintah mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tak selalu berjalan mulus.

Berulang kali pemerintah harus berhadapan dengan aneka rupa ganjalan, khususnya pada sektor batubara, energi utama dalam tenaga listrik dalam negeri.

Sebut saja rencana akuisisi perusahaan tambang batubara--sebagai pemasok utama PLTU-- oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang tak pernah rampung.

PLN ingin memiliki perusahaan batubara untuk menekan biaya produksi listrik, terutama dari PLTU. Efisiensi ini tentu akan berimbas pada tarif listrik di tingkat konsumen.

Persoalannya, upaya akuisisi itu selalu menghadapi banyak hal, beberapa di antaranya adalah belum lengkapnya data teknis dari perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) terutama yang belum berproduksi, dan juga banyak dari perusahaan batubara yang belum memiliki cadangan untuk operasi selama 25 tahun.

Itu baru persoalan PLN. Satu persoalan lain yang paling sering muncul ketika mengembangkan PLTU adalah isu lingkungan sebagai dampak dari pembakaran batubara.

Di tengah proses perampungan perizinan, pembangunan PLTU Cirebon Unit II harus menghadapi gugatan dari masyarakat atas dampak lingkungan PLTU itu ke Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung bernomor 124/G/LH2016/PTUN/BDG.

Masyarakat mengaku resah, karena dampak dari berjalannya proyek tersebut dapat membuat hasil laut, sumber utama pencarian masyarakat pesisir Cirebon, menurun drastis.

Meski memang, isu pencemaran lingkungan selalu menjadi pengganjal pembangunan pembangkit listrik di mana pun, tak terkecuali PLTU Cirebon Unit II. Sebab, pembangkit berbahan bakar batubara dianggap mencemari lingkungan karena menimbulkan polusi asap hitam dan kerusakan lainnya.

Pemerintah pun ditekan untuk mengembangkan sumber alternatif untuk proyek listrik, salah satunya adalah tenaga surya. Namun, ekonomi negara hingga saat ini masih memihak kepada emas hitam itu.

Tentunya karena batubara adalah sumber energi yang paling murah dan memiliki cadangan yang masih melimpah di Indonesia. Listrik dari batubara hingga saat ini hanya dipatok sekitar Rp800 per kWh. Tak ayal, lebih dari separuh pasokan listrik di Indonesia masih berasal dari batubara.

Lokadata Beritagar.id mencatat tren kenaikan pemakaian batubara untuk pembangkit listrik. Peningkatan rata-ratanya sekitar tiga sampai enam juta ton per tahunnya.

Meski murah, persoalan lainnya adalah hingga saat ini pemerintah belum memiliki skema penetapan harga batubara untuk dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO).

Hingga September 2017, harga batubara acuan (HBA) tercatat naik 9,6 persen menjadi US $92,03 per ton dari bulan Agustus senilai US $83,97 per ton.

Direktur Pengadaan Strategis II PLN, Supangkat Iwan Santoso dalam Katadata mengatakan, skema penentuan harga batubara bisa ditetapkan berdasarkan biaya produksi ditambah dengan margin (keuntungan).

Tapi, keuntungan yang dipatok juga harus wajar, sekitar 15 persen sampai 25 persen, sesuai dengan ketentuan dari pemerintah.

Di sisi lain, banyak dari perusahaan batubara masih belum memanfaatkan kesempatan kenaikan harga batubara untuk menggenjot produksi.

Data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara ESDM menunjukkan terjadi penurunan produksi batubara secara nasional. Padahal produksi dari 2011 ke 2014 naik sebanyak 474 juta ton. Namun, dalam periode 2015 hingga 2016, produksi tersebut turut di kisaran 450 hingga 460 juta ton.

Terlepas dari banyaknya ganjalan tadi, pemerintah tetap tak memiliki banyak pilihan untuk menukar batubara dengan energi lainnya.

Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Andy Noorsaman Sommeng mengatakan saat ini yang paling bisa dilakukan pemerintah adalah meminimalkan dampak lingkungannya.

"Yang penting kan semuanya bisa dikontrol, batubara terkontrol, gas terkontrol, minyak terkontrol," ucap Andy, dalam detikcom.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.